Berita

Tangkap Kepiting, Dapat Rp74 Juta Sebulan dari YouTube

Al saat beraksi dalam video kanal YouTube Anak Kampoong. (foto dok pribadi)

SECARA teknis, tanggal hari ini, adalah saya berulang tahun. 2 Juni. Lahir di hari Rabu. Tetapi saya tidak ingin menulis soal ulang tahun saya. Tidak ada yang istimewa. Biasa saja, pagi-pagi dapat ucapan dari istri dan anak. Sudah, itu saja.

Tamu spesial Catatan Khas saya kali ini, adalah seorang Youtuber jauh. Jauh di Kalimantan bagian utara sana. Dia lahir, besar, dan tinggal di  Karungan, Mamburungan, Tarakan Timur, Kalimantan Utara. “Maaf mas, untuk nama dan alamat saya belum bersedia mempublikasikan,“ katanya menjawab WhatsApp saya.

Saya coba untuk meyakinkan dia. Tulisan saya di bimakini.com saya kirim. Dia sempat minta IG dan Facebook saya. Saya minta dia Googling saja dengan mengetik nama saya. Dia pun yakin. Saya sudah punya pintu masuk. Saya minta nama singkat atau nama panggilannya saja.

Dia luluh. Diaspora Enrekang Sulawesi Selatan ini, panggil saja Al saja. Walau akhirnya nama lengkap diberikan, saya janji untuk tidak menulisnya. Lahir dari orang tua asal Enrekang yang merantau ke Kalimantan Utara (Kaltara). Dia generasi pertama yang lahir dan besar di ujung utara Pulau Kalimantan itu.

Apa hebatnya anak muda ini sehingga saya memilih menjadi tokoh inspirasi di momentum ulang tahun saya? Sepertii anak kampung lainnya di Indonesia, Al tidak jauh dari lumpur, sawah, atau main di hutan, ambil kayu api. Itu tergantung alamnya. Nah karena Tarakan itu ada di pulau kecil dan banyak pulau kecil di sekitarnya, ternyata menyimpan potensi hasil laut yang luar biasa.

Al punya kanal YouTube sendiri. Namanya Anak Kampoong. Itulah tayangan yang sejak dua bulan lalu, selama lockdown, #dirumahaja, saya tonton. Al tidak tamat SMA. “Saya hanya punya ijazah SMP, saya keluar saat SMA kelas 2,“ katanya.

Kanal YouTube Anak Kampoong ini, diikuti 118 ribu orang. Sekitar 28 video sudah dia unggah. Video itu sudah ditonton lebih dari 33 juta kali. Apakah dia sudah mendapat uang dari hasil monetisasi di YouTube? Al mengaku sudah rutin menerima hasil jerih payahnya itu sejak tujuh bulan lalu.

Al bersama istri dan anaknya. (foto dok pribadi)

Yang dikerjakan oleh Al sebenarnya sederhana saja. Untuk membuat video-video itu, tidak ada kru. Siapa saja dia bisa ajak untuk mengikutinya, kemudian merekam aktivitasnya sebagai nelayan. Bisa kawan, bisa juga saudara. Selain memancing, video paling banyak adalah memburu kepiting bakau di wilayah itu. Kaltara adalah surga bagi kepiting. Hutan bakau yang mengelilingi sejumlah pulau kecil di muara pasang surut, menjadi rumah bagi jutaan kepiting. Tidak ada habisnya beranak pinak.

Kepiting-kepiting itu dijual kepada pengumpul yang jumlahnya lebih seratus orang. Setiap hari ribuan ekor kepiting diekspor. Ada yang langsung berhubungan dengan buyer (pembeli) di Tiongkok, Malaysia, Singapura, bahkan ke Australia. Setiap tahun Kaltara mengekspor kepiting jutaan ekor dalam keadaan hidup. Yang beku juga ada, ribuan kilogram. Itu yang resmi. Yang ilegal juga ada. Dibawa ke Tawau, Malaysia. Dijual dengan harga Rp150 ribu per kilogram.

Praktik ini telah menimbulkan potensi kerugian pendapatan untuk daerah. Disinyalir lebih Rp2 triliun Kaltara rugi akibat praktik ilegal itu setiap tahunnya. Ada fasilitas ekspor lengkap di negeri jiran itu. Kepiting punya Kaltara, yang untung Malaysia.

Sekarang, warga Kaltara tidak hanya memburu kepiting. Mereka sudah mulai budidaya di tambak tradisional. Hasilnya juga bagus. Harga jual di tingkat warga atau koperasi yang membudidaya atau pemburu dalam kondisi normal mencapai Rp150 ribu per kilogram. Itu juga tergantung ukuran. Jika diekspor, harganya bisa mencapai Rp450 ribu per kilogram.

Pada sejumlah aksi dalam videonya, Al kadang hanya memungut saja kepiting ukuran jumbo di saluran air yang sedang surut. Tidak hanya seekor pada satu tempat. Kadang seperti tuan Crab yang lagi pesta. Saya bayangkan betapa banyaknya tuan Crab di daerah ini. Dengan keahlian yang terlatih sejak kecil, Al tidak perlu alat bantu untuk menangkap kepiting-kepiting itu. Begitu mudah dan cekatan. Di pingganya berjuntai tali rafia untuk mengikat kepiting yang ditangkap. Sudah disiapkan dari rumah, ukurannya pun sesuai dengan kebutuhan. Satu-satu. Capitnya yang besar, bisa saja mematahkan jari kalau tidak hati-hati. Dengan tangan kosong, Al melakukan itu semua. Al biasa tampil dalam video tanpa narasi dengan peci merah.

Karena menjadi profesi, pria dua anak ini mengaku memburu kepiting adalah pekerjaan utamanya. “Setiap berburu, paling sedikit dapat 5 kilogram, paling banyak 60 kilogram,“ jelasnya. Kepiting-kepiting itu dia jual dengan harga rata-rata Rp150 ribu per kilogram. Artinya jika rata-rata menangkap 25 kilogram, maka bisa meraup uang Rp3,7 juta sekali tangkap. Luar biasa!

Istri Al duan dua putranya. (foto dok pribadi)

Belajar menangkap kepitings ejak kecil, ikut orang tua yang menjadi pengikut pelopor pertambakan di Kota Tarakan. “Pelopornya H Hasan, kebetulan ipar dari ayah saya. Tetapi nasib ayah tidak seberuntung yang lain,“ katanya.

Mengapa berpikir untuk membuat kanal di YouTube? Dia mengaku suka menonton video di YouTube mengenai kepiting.  Cuma, kata dia, pernah kesal terhadap video yang dia anggap palsu. “Video-video YouTube tentang penangkapan kepiting kebanyakan palsu, tetapi ditonton jutaan orang,“ ujarnya.

Ia kemudian mencoba unggah video yang tidak direkayasa, apa adanya dan ternyata responnya banyak. Selain video memburu kepiting, Al juga mengunggah video saat memancing. “Saya menangkap kepiting karena memang sudah profesi kami sebagai pencari kepiting dan orang yang berkecimpung di dunia pertambakan tradisional,“ jelasnya lagi.

Al tidak selalu membuat video saat menjalankan profesinya itu. “Menangkap kepiting tidak selalu divideokan. Hanya di waktu-waktu tertentu saja,“ tambahnya.
Hasil tangkapan, tidak selalu ia jual. Kadang untuk konsumsi keluarganya. Saat wabah Covid-19, ternyata berimbas pula pada ekspor kepiting dari Kaltara. Saat ini harganya lumayan terkoreksi hingga lebih 50 persen.

Semua kegiatannya didukung penuh oleh istrinya. Dia mengaku tidak memiliki tambak. “Orang tua saya ada (tambak). Kakak saya juga kebetulan juga memulai bisnis kecil-kecilan, mengirim kepiting ke Malaysia,“ kata pria sebelas saudara ini.

Dalam aksinya, Al tidak selalu membawa pulang setiap kepiting yang dia tangkap. Yang ukurannya belum masuk atau masih kecil dan betina, dia lepas. Demikian pula dengan kepiting yang terlihat gendut penuh telur. “Kepiting kecil harus dilepas untuk masa mendatang karena akan jauh berharga kelak. Yang betina, ada standar ukuran dan waktu di mana kepiting boleh ditangkap demi kesinambungan. Selebihnya tidak baik menangkap yang betina, apalagi yang bertelur,“ katanya.

Apakah ini kanal YouTube miliknya? Berapa pendapatannya perbulan dari YouTube? “Ini asli kanal saya dan saya sendiri pemerannya. Alhamdulillah sudah. Semoga tidak riya’ dan hanya sebagai motivasi bagi pembaca. Sudah dapat puluhan juta perbulan sejak monetisasi,“ katanya.

Berapa pendapatannya yang paling banyak? “Terbanyak Insya Allah Rp74 juta, paling sedikit Rp29 juta,“ ujarnya.

Uangnya dipakai buat apa saja? Apakah membangun rumah atau naik haji? “Belum punya apa-apa… Insya Allah investasi akhirat,“ ujar Al yang mengaku lahir dari keluarga yang tidak berada ini.

Apa prinsip hidupnya? Berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain meskipun hidup kita susah.
“Tapi tujuan kita pada akhirnya menghadap sang khalik. Gak ada yang penting selain amal kebaikan,“ katanya menutup wawancara dengan saya. Bagaimana menurut Anda? (Khairudin M. Ali)

 

Share
  • 921
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top