Opini

Melawan Covid-19 dengan Bahagia

Oleh : Cukup Wibowo

Cukup Wibowo

Keleluasaan itu mutlak ada di pikiran. Menjadi diri yang merdeka dengan otoritas berpikir atau sebaliknya malah tersandera karena membiarkan diri dalam dikte pikiran orang lain sepenuhnya tergantung pada apa yang kita pilih. Berinisiatif itu merupakan tindakan positif, karena dengan melakukan inisiatif kita memiliki kesempatan yang lebih banyak daripada menunggu dengan anggapan kesempatan akan menghampiri diri kita. Ungkapan klasik, tak ada kesempatan yang datang dua kali itu untuk menggambarkan bahwa setiap kita sesungguhnya tak boleh menyia-nyiakan apa yang ada di depan mata, atau apa yang melintas di pikiran. Do it as the first time!

Ketika belum mengalami seperti apa yang saya rasakan saat ini, yakni didera oleh Covid-19, saya tak berbeda anggapan dengan lainnya, menganggap bahwa Covid-19 itu tak ubahnya penyakit yang mengerikan. Tak berbeda dengan yang lain, yang selalu merasa kaget dan selalu seperti disambar petir bila mendengar seseorang yang kami kenal dekat terkena virus itu, saya juga begitu, “Ya Allah? Kok bisa, ya?” Terlebih lagi dengan berkembangnya penyampaian kabar kematian di sana sini yang disebabkan oleh Covid-19. Kehororan di pikiran itu makin menjadi-jadi. Meskipun tentang itu selalu ada penjelasan tambahan bahwa kematian itu tak lain karena ada penyakit bawaan yang membuat pasien Covid-19 mati lebih cepat. Penyakit bawaan seperti diabetes, jantung, dan sebagainya itulah yang menjadi penyebab utama. Jadi tak perlu merasa cemas. Tapi apakah hati bisa dengan begitu saja keluar dari kecemasan bila senyatanya kabar berkembang lebih cepat dibanding penjelasan? Belum lagi cara-cara hoax yang makin membuat keadaan berkembang makin tak sehat. Sungguh hal yang tak mudah untuk bisa ditangkis oleh pikiran yang tak bijak. Ini juga terbukti pandangan atas mitos kengerian itu justru lebih banyak datangnya dari kelas menengah atau kaum intelektual.

Benarkah semua itu? Saya harus mengatakan, “Tidak begitu. Kini saya mengalami sendiri. Saya adalah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 sejak setelah diperiksa dengan Swab test corona. Saya insyaallah setelah menjalani perawatan tak merasakan seperti yang diasumsikan dalam pandangan itu.” Melewati pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona yang ada di tubuh saya melalui hidung dengan *alat swab yang berbentuk cotton bud* dengan tangkai panjang yang dimasukkan ke dalam lubang hidung hingga mencapai bagian belakang hidung kiri dan kanan secara bergantian. Untuk mengambil sampelnya, menurut penjelasan di tengah pemeriksaan itu, caranya dengan menyapukan dan memutar alat swab tersebut selama beberapa detik. Sakit memang tapi sebentar.

Maka usailah pemeriksaan itu untuk kemudiaan beberapa hari setelahnya saya mendapatkan hasil: *positif*. Apakah saya kaget, alhamdulillah tidak. Saya tidak kaget karena sejak memeriksakan diri ke Rumah Sakit selain tubuh saya sudah dalam keadaan sakit, saya juga berusaha meyakini bahwa tubuh ini memang tak bisa mengelak dari siklus sehat dan sakit. Dan itu memang terbukti seperti selama ini. Seperti lainnya, saya menikmati saat tubuh sehat selama bertahun-tahun. Tubuh seperti bisa diajak apa saja, bisa melakukan apa saja rasanya. Namun sebaliknya, saat sakit, tubuh rasanya seperti seutas benang basah. Lunglai dan tak bisa apa-apa. Sakit membuat setiap yang mengalaminya akan merasakan bahwa dirinya tak memiliki kesanggupan apa-apa.

Setelah memperoleh hasil resmi Swab tanggal 6 Juli 2020 dan harus menjalani isolasi, kini tubuh saya mengalami progress yang luar biasa. Sejak tanggal 8 Juli 2020, setelah pindah dari isolasi RS ke ruang isolasi yang lebih khusus, pikiran dan perasaan saya mengalami perubahan yang amat siginikan. Saya jadi ingat kalimat sahabat saya, Dokter HL Herman Mahaputera atau yang akrab dikenal dengan panggilan Dokter Jack, Direktur Utama Rumah Sakit Kota Mataram. Kalimatnya yang kemudian amat viral saat dilontarkan itu mengandung pesan akan pentingnya menciptakan perasaan bahagia untuk bisa sembuh dari Covid-19. Kalimat yang amat menghipnotis pikiran. Kalimat yang terus berkelana di pikiran dan mencari yang setuju. Dan saya adalah salah satu “korban” yang amat setuju untuk membuktikan itu. Membuktikan indahnya kalimat-kalimat Dokter Jack yang amat sugestif dan amat menghipnotis itu.

Bahagia itu prakarsa. Ia bukan takdir. Ia sebuah kekuatan yang butuh digerakkan untuk menjadi kekuatan diri. Dalam urusan apapun, Bahagia adalah prasyarat untuk membuat tubuh memiliki sinergitas yang amat dahsyat. Dengan tetap terus menjalani perawatan, pikiran dan perasaan harus disatupadukan dalam gerak optimisme yang menghasilkan kebahagiaan. Dan melawan Covid-19 itu tak boleh dengan hati yang cemas, melainkan hati yang lapang dan mempercayai Tuhan tetap menyisipkan kebahagiaan dalam diri kita. Prakarsa kitalah yang bisa membuat kelopak kebahagiaan itu makin berkembang atau malah kuncup.

Salam sehat selalu. Tetap memakai masker dan berjarak percakapan. Hidup ini makin indah bila kita makin tahu cara benar untuk mewujudkan keindahan hidup.

*Ruang Kontemplasi, Sabtu 11 Juli 2020

Share
  • 18
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top