CATATAN KHAS KMA

Sentosa, Radio Siaran Pertama di Bima

Prawoko, pendiri Radio Sentosa, radio siaran pertama di Bima.

SEJAK kecil, saya sudah terbiasa mendengar radio. Bahkan ayah saya yang saat itu kerja di Dinas Kehewanan, sering bawa-bawa radio kalau naik sepeda. Barang langka, berharga sangat mahal.

Mertua saya yang pensiunan guru juga pernah bercerita soal mahalnya radio ini. Ayahnya, kakek dari istri saya, pemilik radio pertama di kampungnya, Runggu Kecamatan Belo Bima. Kakek yang juga seorang guru itu, membeli radio dengan harga sangat mahal. Bayangkan, untuk mendapatkan sebuah radio merek Panasonic produksi Nippon itu, kakek harus menjual dua ton kedelai. Itu juga belum cukup. Masih harus ditambah lagi dengan uang gajinya sebagai guru.

Harga kacang kedelai sekarang anggaplah Rp7.000 per kilogram. Kalau dua ton, maka harganya Rp14 juta. Harga radio Rp14 juta? Sekarang bisa dapat lebih dari 100 unit radio.

Radionya bisa didengar orang sekampung. Bukan suaranya yang besar, tetapi warga yang datang berduyun-duyun ke rumah kakek. Kalau ada pertandingan tinju Muhammad Ali, warga mendengar komentar dari radio. Begitu juga dengan pertandingan PSSI. Seru! Sama dengan mendengar sandiwara radio Saur Sepuh atau juga Tutur Tinular yang banyak adegan jaguran para pendekar sakti itu.

Itu zaman old, istilah anak sekarang. Dunia sudah berubah. Telepon pintar mengubah semuanya. Alat mahal dengan beragam jenis, sudah digantikan oleh satu alat kecil yang bisa digenggam. Radio, tape recorder, jam, pesawat televisi, koran. Pokoknya semua. Bahkan pasar juga hadir di handphone. Punya uang, lapar, tunggu di rumah saja. Demikian pula jika ingin belanja barang lain. Semuanya ada! Tidak butuh lagi pemancar televisi atau stasiun radio dengan biaya mahal dan izin yang ribet. Semua orang bisa menjadi penyiar, bisa menjadi pemilik stasiun televisi dan radio di kanal YouTube. Semua orang juga bisa menjadi pedagang barang apa saja. Komplit, canggih pokoknya.

Pada 1993, di Bima pernah ada siaran televisi swasta selain TVRI. Dipancarkan dari Toko Dewi di pasar Bima. Siarannya hanya relay RCTI. Hitam putih. Saya juga punya pesawat televisi pertama hitam putih 14 inci. Merek Sony. Ketika itu saya ditugaskan oleh Harian Suara Nusa di Bima. Tidak lama, sebelum ditarik kembali ke Mataram.

Radio, hanya ada RKPD Bima. Siaran di frekuensi Amplitudo Modulation (AM). Frekuensinya lebih rendah, kalau tidak salah ingat 88 M. Saya sempat monitor radio ini di Mataram dengan radio Philips. Itulah kelebihan radio AM, pancarannya jauh, bisa lintas negara. Saya juga monitor RKPD Ngada di NTT, RRI Sumenep Madura, RRI Banjarmasin, dan RRI Ujung Pandang (Makassar). Tentu selain radio siaran swasta nasional. Dari sekian radio itu, hanya RRI Banjarmasin, RRI Ujung Pandang, dan RRI Jakarta yang pernah saya lihat studionya. Lainnya belum pernah.

Bagaimana dengan  radio siaran di Bima? Yang memulai siaran ternyata bukan RKPD. Tetapi dirintis oleh Radio Sentosa. Radio ini didirikan oleh Prawoko. Radio ini  mengudara pertama kali di Gili Panda, Kelurahan Sarae pada awal 1983. Prawoko yang saat itu pegawai negeri sipil di kantor PMD (Pembangunan Masyarakat Desa), ternyata berpikiran sangat maju sekali. Kepada Bupati H Oemar Haroen, ia sampaikan soal radio siaran ini.

“Di pendopo Bupati saya ngomong. Ama, bagaimana kalau kita buat radio siaran. Ama (maksudnya Bupati) tanya balik ke saya apa saya bisa. Saya jawab bisa,“ kisah Prawoko saat berjumpa dengan saya Kamis pagi.

Karena sudah menyanggupi, dia kemudian menghubungi sejumlah kawannya di sejumlah RRI seperti Ujung Pandang, Kendari, juga di RKPD Ngada. “Saya mendapat dukungan. Kawan-kawan itu mengirimkan barang bekas yang masih bisa dipakai kepada saya. Ada transistor, ocsilator, dan lain,“ katanya.

Dengan alat sederhana yang terbatas itu, dia akhirnya bisa mulai ujicoba siaran. Awalnya dia pakai ngebrik karena frekuensinya bisa dipindah-pindah. “Saya hanya menggunakan satu transistor tabung dengan antena model L yang dibuat dari kabel NYA,“ ujarnya.

Kabel NYA ini terbuat dari tembaga yang biasa dipakai untuk isntalasi lsitrik di rumah. Saya sebenarnya tidak asing juga. Karena saat kuliah sekitar tahun 1985 hingga 1988, pernah rakit radio untuk komunikasi. Antenanya juga menggunakan kabel NYA. Cuma bentuknya beda, saya pakai segi empat, tiangnya hanya bambu di depan kos di Muhajirin, Mataram. Itu bisa monitor dengan lawan bicara di Philipina.

Orari pun pada saat itu sedang banyak anggotanya. Demikian pula dengan RAPI. Karena andalan komunikasi jarak jauh hanya radio komunikasi. Telepon mahal. Yang lokalan pakai kabel, warga menggunakan intercom. Bisa komunikasi antar warga dalam satu desa.

Saat Prawoko ujicoba, modulasinya ternyata bisa didengar di Bulukumba. Itu jauh, di Pulau Sulawesi sana. Di Sulawesi Selatan. “Saya sendiri kaget. Kok bisa jauh begitu,“ kata pria empat anak ini.

Radio itu namanya Sentosa. Siaran setiap hari. Ada dua orang penyiarnya yang didatangkan dari Ujung Pandang saat itu. Yang satu bisa berceramah di radio. Satunya lagi membawa acara macam-macam. Konten siaran Radio Sentosa mendapat dukungan dari RRI Jakarta. Konten-konten yang dikirim dalam bentuk kaset itu jumlahnya banyak. Ada siaran penerangan, siaran pedesaan, dan lain-lain.

Baru pada tahun 1984, mulai didirikan RKPD Bima. Bupatinya masih H Oemar Haroen.  “Cuma saat dimonitor di Mataram oleh ibu Bupati Bima, ternyata kalah dengan Sentosa. Siarannya tidak bisa sampai ke Mataram,“ kata pria kelahiran 9 Februari 1956 ini.

Radio perintis Sentosa itu ternyata tidak bertahan lama, karena mendapat teguran. Sempat mau dibawa ke ranah hukum, tetapi dibela oleh Bupati dan Dandim saat itu. Pada sekitar 1985 juga, ada muncul radio siaran baru, Radio Membangun. Radio itu dicetus oleh Hairil dan kawan-kawan.  Ini pun tidak bertahan lama.

Deddy Rahman Sani, bos Pelangi FM. (foto pribadi)

Kemudian pada sekitar 1995, muncul radio siaran FM (Frekuensi Modulasi) yang kabarnya digagas oleh guru-guru SMA Negeri 1 Bima. Selanjutnya mulai muncul radio siaran lain seperti Pelangi FM, DMC, radio 99FM, MCM FM, PAS FM, Pulau Biru FM, Hancur FM, Y2Q FM, Style FM, Fresh FM, Flamboyan FM, Al-Husainy FM, dan lain-lain. “Jumlahnya lebih dua puluh radio di Bima saat itu,“ kata Deddy Rahman Sani, bos Pelangi FM kepada saya.

Radio berizin pertama yang bersiaran profesional adalah Bima FM tahun 2006, kemudian Pelangi dan DMC juga menyusul mengajukan izin. Sementara radio Citra FM mulai siaran pada tahun 2006. Dua radio yaitu Bima FM dan Citra menggunakan satu tower bersama dan merupakan kelompok media Bimeks Group.

Barulah pada sekitar September 2017 didirikan RRI Bima. Radio pemerintah ini siaran dari Desa Kalampa dan transmisinya dibangun di Donggo. Secara teknis, semakin tinggi tower pemancar, maka jangkauan siaran akan semakin luas. Jangkauan siaran RRI cukup luas ke arah timur. Tetapi ke arah barat seperti ke Dompu, tidak bisa diterima karena terhalang oleh gunung. Kehadiran RRI Bima merupakan anugerah karena Kabupaten Bima termasuk salah satu daerah 3T, tertinggal, terdepan, dan terluar.

Hingga saat ini, hanya ada lima radio siaran swasta yang tetap siaran di Bima. Lainnya mati kecuali Bima FM, Pelangi FM, DMC FM, Persada FM, dan Citra FM. Jayalah radio siaran di Bima. Selamat ulang tahun Pelangi FM, 1 Juli 2020. Ini angka cantik untuk Pelangi FM, 202020. Tahun 2020 ulang tahun ke 20. Tetap semangat mengudara untuk Indonesia! (Khairudin M. ALI)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top