Peristiwa

Kisah Dua Anak Yatim Piatu di Dena, Punya Keterbatasan Mental, Hidup Menunggu Belas Kasih

Kondisi rumah anak yatim piatu di Desa Dena.

Bima, Bimakini.- Kisah pilu dua anak yatim piatu di Desa Dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima luput dari perhatian pemerintah. Pasalnya, Salmah (29) dan M Fahmi (23) warga RT 15 Desa Dena ini mempunyai riwayat keterbatasan mental sejak kecil. Ironisnya, kedua buah hati dari Pasangan Suami Istri (Pasutri) Arasid dan ST Nur itu menunggu belas kasih dari keluarga dan tetangga untuk mendapatkan makanan.

Salah satu keluarga dua anak yatim piatu itu, Sinta mengungkapkan, kakak beradik itu sudah lama ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Yakni Bapaknya meninggal dunia sekitar lima tahun lalu. Sedangkan ibunya meninggal dunia sekitar puluhan tahun lalu. “Sejak itu, mereka menggantung hidup pada keluarga dan orang lain,” tuturnya, Selasa (22/12).

Parahnya, Sambung Sinta, kedua yatim piatu yang mempunyai keterbatasan mental itu tinggal di sebuah rumah tak layak huni. Yakni rumah 6 tiang yang hampir rubuh. “Besar harapan kita mereka dapat bantuan bedah rumah, karena saat cuaca ekstrim seperti ini kuatir rumah itu rubuh dan menimpa dua anak yatim piatu itu,” pintanya.

Dijelaskannya, terkait bantuan yang disalurkan oleh pemerintah di masa pandemi ini, dua anak yatim piatu itu tetap mendapat bantuan.Tapi bantuan tersebut belum mencukupi biaya hidup sehari – hari. “Untuk makan setiap hari mengandalkan belas kasih dari tetangga dan handai tolan,” imbuhnya.

Kepala Desa (Kades) Dena, Abdul Haris menyampaikan, sebelumnya Pemerintah Desa (Pemdes) memprioritaskan agar dua anak yatim piatu itu terkafer untuk mendapat bantuan bedah rumah. Namun kendala pandemi, sehingga semua anggaran untuk bedah rumah dihapus. “Kita tetap memprioritaskan bantuan bedah rumah bagi dua anak yatim piatu itu. Baik itu lewat dana desa maupun melalui dana yang bersumber dari pemerintah atas,” ucapnya.

Ditambahkannya, selama ini Pemdes selalu memperhatikan dua anak itu, yakni memberikan bantuan uang tunai dan sembako. Menjadi kendala bagi mereka, keduanya belum memiliki legalitas kewarganegaan seperti KK, KTP dan lainnya. “Untuk mendapatkan bantuan dari pusat, mereka tidak mempunyai harapan, karena salah satu syaratnya adalah harus memiliki NIK,” tutupnya. (BE07)

Share
  • 2.5K
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top