NTB

Industrialisasi di NTB Disebut Sudah Terbukti

Mataram, Bimakini.- Target utama program industrialisasi tahun 2021 di NTB, adalah terbangunnya ekosistem industrialisasi. Di sektor Moslem Fashion Industry, misalnya. Yang sudah dilakukan adalah pelatihan-pelatihan pewarna alam untuk kain tenun, bimtek tenun menggunakan ATBM, festival desiner tenun Lombok Sumbawa hingga fashion show tenun di tingkat nasional.

Ekosistem yang terbangun kemudian, berkembangnya IKM-IKM yang menyediakan bahan-bahan untuk pewarna alam dan berkembangnya IKM-IKM pembuat motif tenun. Berkembangnya IKM tenun, maka berkembang pula pemasar-pemasar tenun. Belum lagi berkembangnya konveksi, desainer untuk pakaian-pakaian yang akan ditampilkan pada fashion show. Hingga jasa-jasa lain yang saling bertalian dalam ekosistemnya.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, memilih program industrialisasi untuk percepatan pembangunan NTB. Industrialisasi yang dimaksud kepala daerah bukan dalam konteks pembangunan pabrik-pabrik besar. Tetapi disederhanakan sebagai upaya melakukan hilirisasi/pengolahan seluruh bahan baku yang tersedia di NTB menjadi produk jadi.

Misalnya, tomat diolah menjadi saos. Membuat kelor menjadi teh dan obat. Memanfaatkan kelapa, serabutnya jadi keset dan hasil kerajinan lain. Airnya dibuat jadi sirup coconut dan lainnya. Isinya bisa dibuat jadi minyak goreng. Membuat permesinan tanpa harus membeli dari luar NTB.

‘’Sederhananya, kita tidak lagi menjual kelapa mentah ke pabrikan, tidak lagi jual tomat mentah ke pabrikan. Tidak lagi beli mesin-mesin pertanian dari luar NTB. Dari proses pengolahan bahan baku ini, banyak jasa yang terlibat. Satu dengan yang lainnya saling terkait dan saling bergerak. Saling menghidupkan dan mendapat nilai tambah lebih besar. Itulah industrialisasi yang dimaksudkan,” ujar Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Hj. Nuryanti, Rabu (27/1/2021).

Ia menjelaskan enam sektor industri prioritas yang diusung dalam kepemimpinan Bang Zul dan Umi Rohmi hingga 2023 mendatang.

Pertama, Industri Pangan, yang menurutnya pada tahun 2020 lalu telah menorehkan sejumlah capaian, meski baru dalam proses peletakan pondasi. Nuryanti menyebut sejumlah capaian industri pangan tersebut dimulai dari kegiatan standardisasi dan sertifikasi olahan pangan lokal (halal, merek, BPOM PIRT dan uji laboratorium produk lainnya). Kemudian pelibatan IKM NTB dalam penyediaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang mengurangi dampak Covid-19.

Bimtek dan pendampingan bersama BPPOM untuk pangan lokal dalam kemasan/kaleng ayam Rarang, ayam Taliwang, sate Rembiga, sate pusut serta olahan hasil pertanian/perkebunan juga dilakukan. Perikanan/kelautan dan peternakan juga hasil hutan bukan kayu lainnya.

Kedua, Industri Hulu Agro, mulai menampakkan capaiannya. Misalnya Industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), seperti minyak atsiri, minyak cengkeh, minyak kayu putih dan lain-lain. Capaian yang tak kalah pentingnya dalam industri agro, adalah pembangunan pabrik pakan terbesar di NTB (Feedmill) yang berlokasi di STIPark Banyumulek.

Ketiga, Industri Permesinan Alat Transportasi. Pada sektor inipun telah mencatatkan sejumlah hasil karya putra putri NTB. Diantaranya, pengembangan kendaraan listrik Le-Bui, Matric-B dan ngebUTS. Berkembangnya aneka mesin-mesin teknologi sederhana dari IKM untuk IKM. Prototype dan bimtek pembuatan mesin-mesin untuk mendukung program zero waste, kampung unggas (mesin pakan, penetas telur dan lainnya), mesin-mesin untuk pakan ternak (pencacah rumput untuk pakan) dan mesin olahan makanan maupun penyulingan essens oil.

Keempat adalah industri hasil pertambangan. Fokus dalam sektor ini, menurut Kadis kelahiran Mbojo ini, menyiapkan segala sumber daya untuk program industri turunan smelter di Kabupaten Sumbawa Barat.

Kelima, industri kosmetik, farmasi herbal dan kimia. Hasil yang dicapai pada industri ini antara lain; pengembangan industri kosmetik dan farmasi herbal (organik Lombok dan teh kelor). Pendampingan pembuatan APD (Alat Pelindung Diri) buatan IKM, standarisasi produk dan bantuan peralatan bagi IKM kosmetik, farmasi herbal dan alat kesehatan (APD).

Terakhir, adalah ekonomi kreatif. Kegiatan industri inipun sudah mulai menggeliat dan melibatkan kaum milenial sebagai motor penggeraknya. Didalamnya terdapat Moslem Fashion Industry, pelatihan pewarna alam untuk kain tenun. Bimtek tenun menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin), festival desiner tenun Lombok Sumbawa, fashion show tenun di tingkat nasional.

Nuryanti menambahkan bahwa untuk kerajinan, dikembangkan pula industri penyamakan kulit sapi, pengolahan sampah plastik dan pengolahan limbah serabut kelapa, IG mutiara dan IG ketak.

Ia menegaskan bahwa program industrialisasi yang dicanangkan oleh duet duo Doktor ini sudah mulai menunjukan bukti dan terlihat wujud jati dirinya.

Tahun 2021, kata dia, pondasi industrialisasi ditargetkan tuntas. Tahun 2019/2020 adalah membangun kerangka pendukung. Misalnya, peraturan-peraturan di daerah tentang industrialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang konsep industrialisasi.

Berdasarkan target Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD), tahun 2021 ini, capaian program industri dapat naik satu persen dari capaian terakhir tahun 2020.

‘’Satu persen ini adalah berkembangnya industrialisasi. Dan penyerapan tenaga kerjanya, serta jasa-jasa usaha ikutan dari masing-masing sektor,’’ imbuhnya. PUR

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top