Hukum & Kriminal

Pelaku Skimming ATM Jaringan Internasional Lulusan SD

Suasana saat penangkapan oleh Polda Bali.

Bima, Bimakini.- Oknum pelaku Skimming Anjungan Tunai Mandiri (ATM) jaringan internasional berinisial, J ternyata hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Bahkan hanya se orang laki-laki biasa yang tak punya keahlian dalam bermain komputer.

“Saya tak menyangka suami terlibat dalam pelaku skimming. Sebab suami pernah bercerita, hanya tamatan SD dan tak mahir komputer,” ujar Istri J, Asmah warga Desa Tambe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima saat ditemui di kediamannya, Sabtu (30/1).

Kata dia, pasca mendengar kabar sang suami diciduk Tim Siber Ditreskrimsus Polda Bali pihaknya tampak shok hingga jatuh sakit. Sebab selama ini suami sering keluar daerah mengaku bekerja di usaha bisnis tanah.

“Suami sering keluar daerah. Tapi ngakunya sama saya dia bekerja dalam usaha bisnis tanah,” terangnya.

Meski jarang pulang, bagi dia suaminya tersebut sosok yang baik. Karena tak melupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Yakni setiap kali pulang, dia sering diberi uang. Terkadang dikirim melalui rekening. Walaupun nominalnya tak banyak.

“Bukan cuman saya, ibu kandung saya pun dikasih uang Rp 100 ribu saat pulang,” katanya.

Selama 2 tahun berumah tangga, Asmah tidak menaruh curiga akan perbuatan suaminya. Apalagi dia ikut terlibat dalam jaringan pelaku skimming. Begitupun, barang bukti alat skimming yang tersimpan rapi di rumah mereka, sama sekali tidak pernah dia tahu.

“Saya hanya diminta untuk menjaga barang itu, karena milik bosnya. Jangan sampai ada orang yang membuka. Karena disuruh, saya juga tidak berani,” bebernya.

Terakhir, mereka berkomunikasi Selasa (26/1) atau sehari sebelum barang bukti disita Tim Siber Ditreskrimsus Polda Bali. Dalam komunikasi via HP itu, mereka tak berbicara banyak. Cuma disuruh menyembunyikan barang bukti yang dibungkus karung warna putih ke lahan jagung warga di bagian Barat Desa Tambe.

“Karena berat, saya minta bantu sama adik ipar,” kata Asmah.

Beberapa hari terakhir dia mengaku dilanda gelisah dan cemas. Merasa seperti akan ada sesuatu hal yang terjadi dalam rumah tangganya.
Keresahan hati Asmah pun terjawab Rabu sore (27/1), setelah lima orang Tim Siber

Ditreskrimsus Polda Bali mendatangi rumahnya. Saat itu juga ia mendapat kabar sang suami sudah ditangkap di wilayah Bali bersama dua orang lainnya.

“Saya sempat tidak percaya, sebelum polisi menggeledah barang dalam karung itu,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Melati, Desa Tambe, Zulkarnain juga mengaku tidak menyangka keterlibatan oknum J sebagai pelaku skimming. Selama ini, mereka tergolong keluarga tidak mampu.

“Mereka ini tergolong penerima bantuan bedah rumah. Karena belum membuat Kartu Keluarga (KK) sehingga tidak masuk sebagai penerima,” ucapnya.

Pasca menikah 2018, mereka tinggal di rumah panggung 12 tiang milik mertuanya di RT 04. Banyak warga yang ikut prihatin dengan kehidupan mereka. Karena J ini jarang pulang ke rumah, terkadang Asmah nyambi bekerja serabutan.
“Saya tidak terlalu kenal dengan suaminya Asmah. Jarang saya lihat di kampung,” katanya.

Jika dari status asalnya, dia belum tergolong warga Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Meskipun mereka punya tinggal di Tambe. Sebab, dia belum tercatat atau berdomisili sebagai warga Tambe. Bahkan dalam Daftar Pemilih Tetap pada pemilihan kepala desa dan Pilkada, namanya tidak terdaftar sebagai pemilih.

“Oknum J ini berasal dari Desa Hu’u Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu,” pungkasnya. (BE07)

Share
  • 250
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top