CATATAN KHAS KMA

Wawan, NSC, Harapan Baru

Hermawan Some (kiri) bersama penulis

PEKAN lalu saya kehadiran seorang kawan dari Surabaya. Sesama alumni International Visitor Leadership Program (IVLP). Program kunjungan ke Amerika Serikat. Di group alumni, kami sering berinteraksi. Jumpa langsung, baru kali ini.

Hadir di Bima baginya bukan tidak punya alasan. Aktivis lingkungan bernama Hermawan Some ini, ternyata keturunan Raba, Wawo, Kabupaten Bima. Kali ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi mengantar investor bersama kawan-kawan dari NTB Solution Centre (NSC). Agendanya pun padat. Bertemu dengan Wali Kota Bima, Bupati, Wakil Wali Kota, serta para pejabat dua pemerintahan itu.

Sebelum ke Bima, Wawan, panggilan akrabnya, sudah menghubungi saya. Jaringan sesama alumni IVLP ini ada di seluruh dunia. Semua agendanya di Bima disampaikan kepada saya. Ini kali kedua saya dikunjungi sesama alumni. Sebelumnya sempat berjumpa dengan Yusuf Daud, Muhammad Fakhrudin, dan Yudha P Sunandar. Wawan ingin saya juga ikut dalam semua agendanya. Tetapi saya tidak enak saja. Tidak enak karena semua agenda itu tidak terkait dengan saya. Saya tidak ingin kehadiran saya malah akan mengganggu agenda penting Wawan bersama NSC. ‘’Ayo bang, gabung. Sekarang saya sedang di Kolo dengan Pak Wali (Wali Kota Bima),’’ kata Wawan dalam pesan WhatsApp dan mengirim foto-foto kegiatannya.

Demikian pula dengan agenda malam dengan Dinas Pariwisata, Pokdarwis Kota Bima, serta pemangku kepentingan lainnya. Esoknya, agenda kunjungan ke Uma Lengge di Wawo bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima, Drs Dahlan Muhammad. Ada juga Kepala Bapedda Drs H Muzzakir, M. Si. Sore, masih bertemu dengan Bupati Bima, Indah Dhamayanti Putri di kediamannya. Banyak hal yang dibicarakan. Banyak komitmen terangun. Ini harapan di saat pandemiCovid-19 telah menghancurkan sendi ekonomi. Di saat Bima kering dan langka investasi.

Malam, mereka meluncur ke Bonto, bertemu dengan Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH. Wawan sampaikan kepada saya tidak ada agenda yang terlalu serius dengan Wakil Wali Kota Bima. Hanya silaturahmi biasa sambil melihat potensi lain di sekitar Bonto.

Kali ini saya hadir, ya karena tidak ada agenda khusus itu. Saya pun merasa harus ketemu dengan Wawan. Tidak enak rasanya jika sudah beberapa hari di sini, kami tidak jumpa langsung. ‘’Saya mau kenalkan juga dengan bu Aishah Muhammad dan kawan-kawan NSC,’’ kata Wawan.

Wawan berangkat ke Amerika pada 2014 lalu. Dia mendapat perhatian dari pemerintah Paman Sam karena kegigihannya mengurus sampah dan lingkungan. Itu sudah sangat lama dilakoninya di Surabaya. Juga di banyak daerah lain. Wawan mengaku kerap keras mengritik kebijakan Pemerintah. Di Surabaya dan Jawa Timur misalnya. Bahkan Bu Risma Rismaharini saat menjadi Wali Kota Surabaya, kerap buang muka jika melihat dirinya dalam satu forum. ‘’Bukan hanya tidak suka, tetapi sering buang muka,’’ ujar Founder dan Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya ini sambil tertawa.

 

Kepala Bappeda Kabupaten Bima Drs H Muzakir, M.Si (baju kuning) di Ina Hami.

Apa saja yang telah dilakukan pria kelahiran Sumbawa dari orang tua asal Raba Wawo Bima ini sebagai aktivis lingkungan? Hal paling penting adalah edukasi dan pemberdayaan yang terus menerus. Memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana mengurus sampah. Bagaimana pentingnya sampah diurus. ‘’Dunia sudah penuh sampah. Sampah plastik paling berbahaya. Bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga sangat berbahaya bagi kesehatan manusia,’’ ujarnya.

Hingga kini, Wawan menyebut sudah menanam jutaan pohon bakau (mangrove). Sudah jadi dan sudah tumbuh besar. Teknik dan ilmu budidaya bakau Wawan kuasai. Bakau-bakau itu sudah ada yang tumbuh besar bahkan menjadi hutan bakau. Agar masyarakat merasakan manfaat secara ekonomi, ada yang dijadikan sebagai destinasi wisata mangrove. Dibuatkan jalur, disediakan perahu. Wisatanya di tengah hutan bakau. Pengunjungnya bisa belanja segala kebutuhan dari masyarakat pengelola. Wisata mangrove kini tidak sekadar menjadi wilayah konservasi, tetapi juga sebagai tujuan wisata yang berbeda. Melihat air laut, ikan berenang, burung di antara ranting mangrove, juga aneka keunikan lainnya yang tidak ada pada destinasi lain.

Buah bakau juga dibuat sirup untuk kesehatan. ‘’Sangat bagus sekali untuk obat radang tenggorokan. Kandungan vitamin C sangat tinggi,’’ tambahnya.

Wawan ke Bima juga menghadiri Seminar Kolaborasi NSC dengan STKIP Taman Siswa Bima. Dia hadir sebagai narasumber bersama Ketua NSC, Aishah Muhammad, Ph.D, Dr Nurlaila Kemal Hasyim. Ada juga dua investor dari Eropa yang juga founder Yayasan Kebon Sepatu. Mereka pasangan suami istri Mr dan Mrs Akke M Draijer De Jong, PhD. Acara itu yang berjalan sukses itu, dipandu oleh Lily Marfuatun, SH, MH. Selain pengurus NSC, Lily juga adalah seorang dosen dan advokat di Bima. Ketua STKIP Taman Siswa, Dr Ibnu Khaldun tentu bangga dengan suksesnya kegiatan tersebut. Apalagi setelah kegiatan di Auditorium Sudirman Ismail, juga ada ada tandatangan nota kesepakatan dengan NSC.

Terlepas dari interaksi dengan saya, apa hal penting dari kehadiran NSC, Wawan, dan dua investor di Bima? Selain sebagai Ketua NSC, lembaga konsultan dan investasi, Aishah Muhammad adalah owner PT Aishah Muhammad Consutant & AM & Co. Law Firm. Aishah juga adalah seorang investor. Rencana konkrit jangka pendek yang segera dilakukan di Kota Bima adalah membangun restoran terapung di Kolo dan Lawata. Dua tempat menikmati kuliner di atas laut ini tentu akan menambah dan melengkapi yang sudah ada. Memiliki keunikan dan sensasi tersendiri. ‘’Kalau di Lombok, ada tamu yang harus reservasi tiga bulan sebelum datang,’’ kata Aishah. Dia sangat optimis di Bima pun akan mendapat sambutan yang baik dari pecinta kuliner.

Makan di restoran terapung, layak ditunggu. Ini akan menjadi tren baru bagi masyarakat Bima. Wali Kota Bima menyambut dengan sangat antusias rencana tersebut. Tetapi karena wilayah laut merupakan pengembangan wisata Provinsi NTB, Wali Kota akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk memudahkan rencana investasi tersebut.

Lainnya, seperti dijelaskan Mrs Akke M Draijer De Jong, akan mendidik pemuda nelayan dan petani di daerah ini. Mereka akan diberdayakan dengan semangat baru bertani dan menjadi nelayan, tanpa merusak lingkungan. Akke memberi contoh bagaimana membuat perahu dengan menggunakan bambu. Menurutnya, perahu yang dibuat dari bambu jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan kayu. Umur ekonomisnya pajang, tidak mudah rusak. Selain kekuatannya, Akke menekankan pentingnya aspek penyelamatan hutan yang sudah kian kritis di Bima. Di belakang Mrs Akke ada banyak ikutannya, investor lainnya yang tertarik dengan Bima. Tinggal pemerintah daerah ini siapkan insentif dan kemudahan. Permudah proses perizinan, ciptakan suasana aman.

 

Hermawan Some (kanan) bersama Tengku Jubair di lokasi wisata alam Ina Hami.

Ahad pagi, saya dengan Wawan bertemu lagi. Kejutannya, kali ini ada Kepala Bappeda Kabupaten Bima yang menemani. Kami meluncur ke Wawo, melihat denyut destinasi wisata baru yang tersembunyi di kawasan Ina Hami. Itu tempatnya di puncak, tidak terlihat dari jalan raya. Di sini kami bercerita banyak hal. Wawan berkomitmen akan memberikan sumbangan pikiran juga tenaga terkait pengelolaan sampah di Bima.

Memasuki destinasi di Ina Hami ini, saya cukup kagum juga kaget. Yang viral itu spot selfie pinggir jalan di sisi selatan jalan. Tetapi ini beda. Walau belum dimulai sepenuhnya, tetapi rencana pengelolanya, Tengku Jubair, ST, sungguh membangkitkan semangat di masa ekonomi sulit karena pandemi Covid-19 ini. Ini memberi harapan baru. Akan ada geliat nafas ekonomi di tengah hutan di mana pelakunya adalah masyarakat sekitar. Seperti apa destinasi wisata baru ini? Ikuti Catatan Khas KMA berikutnya. (*/khairudin m. ali)

 

Share
  • 79
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top