Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Ekstrim, Jatah Hujan Dua Bulan Turun dalam 1 Hari di Kecamatan Hu’u

Dampak banjir akibat cuaca ekstrim.

Oleh : Anas Baihaqi, S.P.

(Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat)

Periode Musim Hujan 2020 / 2021 untuk wilayah NTB memang belum berakhir. Terlebih lagi BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat telah mengeluarkan statement bahwasanya Bulan Januari dan Februari ini merupakan periode puncak musim hujan. Tidak cukup sampai di sana, kedahsyatan curah hujan yang diprediksi akan turun di puncak musim hujan ini, diperkuat oleh fenomena iklim ekstrim yang sedang terjadi yang disebut dengan La-Nina. Fenomena La-Nina menggiring awan-awan hujan yang berada di atas Samudera Pasifik untuk bergerak ke wilayah Indonesia dan meningkatkan potensi hujan di Indonesia. Sehingga berita mengenai kejadian curah hujan ekstrim dan banjir di berbagai pelosok negeri khususnya NTB, selalu terdengar ramai beberapa pekan terakhir ini. Tidak terkecuali Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu.

Sebagaimana yang telah dilansir oleh news.detik.com, bahwasanya pada hari Minggu (28/02/2021)  telah terjadi banjir bandang yang menerjang 3 desa di Kecamatan Hu’u. Dilaporkan pula bahwa sejumlah ternak, sepeda motor dan mobil ikut hanyut terseret banjir. Hal serupa juga diberitakan oleh mediaamanat.com, dimana 36 rumah hanyut diterjang oleh banjir bandang pada tengah malam di Kecamatan Hu’u. Berdasarkan laporan dari pengamat pos hujan kerjasama BMKG yang berlokasi di Kecamatan Hu’u, Bapak Ramik, memang telah terjadi hujan yang sangat ekstrim di daerahnya pada hari Minggu (28/02/2021). Curah hujan yang ia laporkan kepada BMKG adalah sebesar 337 mm (milimeter). Ini merupakan jumlah curah hujan harian yang sangat fantastis yang pernah terjadi di Kecamatan Hu’u. Ia menuturkan bahwa curah hujan sebesar itu belum pernah terjadi sebelumnya selama ia menetap di Kecamatan Hu’u dan menjadi pengamat curah hujan.

Menurut database BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, rekor data curah hujan harian tertinggi untuk Kecamatan Hu’u adalah sebesar 199 mm yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2013. Diikuti oleh rekor curah hujan bulanan tertinggi yang juga jatuh pada bulan yang sama, yaitu bulan Desember 2013. Sedangkan pada bulan terkait, yaitu bulan Februari, kejadian curah hujan ekstrim 337 mm yang turun pada hari Minggu (28/02/2021) kemarin bahkan mengalahkan rekor curah hujan bulanan tertinggi untuk bulan Februari sendiri. Dimana rekor curah hujan bulanan tertinggi untuk bulan Februari adalah 273 mm yang terjadi pada bulan Februari 2020.

 

Seberapa besarkah curah hujan 337 mm?

Secara definisi, curah hujan adalah ketinggian air hujan dalam satuan mm (milimeter) yang terukur pada wadah yang datar, dengan asumsi tanpa adanya losses berupa penguapan, aliran atau peresapan. Artinya, curah hujan 337 mm adalah tinggi genangan air yang mungkin terbentuk pada tempat dengan kriteria/asumsi tersebut. Sehingga jika kita berada di dalam kolam renang yang kosong, maka ketinggian air hujan yang dapat mengisi kolam tersebut adalah 337 mm, atau setinggi 33,7 cm dari dasar kolam. Menurut literatur, curah hujan sebesar ini mampu menjaga kandungan air tanah selama 2 bulan penuh. Karena berdasarkan laju penguapan rata-rata harian yang sebesar 5 mm/hari, harus ada minimal 5 mm curah hujan yang jatuh untuk menutupi defisit air yang hilang melalui penguapan tersebut. Sehingga jika dikalkulasi, maka harus ada jatah hujan minimal 5 mm/hari x 60 hari = 300 mm yang turun berangsur-angsur selama 2 bulan untuk menjaga tanah agar tetap basah. Namun curah hujan 337 mm ini turun sekaligus dalam 1 hari. Hal ini membuat tanah tidak mampu menampungnya dan terjadilah banjir bandang.

Fenomena cuaca ekstrim seperti ini masih berpotensi tinggi akan terjadi hingga bulan Maret 2021 mendatang. Angin baratan sebagai penanda periode musim hujan, dan fenomena La-Nina yang memicu tingginya curah hujan untuk wilayah Indonesia, terpantau masih aktif dan diprediksi akan tetap bertahan hingga bulan Mei 2021. Untuk itu masyarakat dihimbau untuk tetap waspada terhadap terjadinya perubahan cuaca secara tiba-tiba, seperti adanya potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang, serta dampak yang mungkin dapat ditimbulkan karenanya. Seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, maupun gelombang tinggi. Masyarakat juga dihimbau untuk selalu memperhatikan dan mengupdate informasi cuaca dan iklim BMKG terlebih dahulu sebelum beraktivitas. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, selalu melindungi kita dari segala bentuk bencana dan marabahaya. (*)

Sumber : dokumentasi pribadi Bapak Ramik, pengamat pos hujan kerjasama BMKG untuk Kecamatan Hu’u

 

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST ( Forecaster and Observer Iklim BMKG NTB) Wilayah Bima merupakan wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak di ujung...

Opini

Oleh :  Anas Baihaqi, S.P. Sebagaimana dimaklumi bahwa Indonesia adalah negara yang terletak di kawasan garis lintang 0o atau yang biasa dikenal dengan garis...

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST (Forecaster and Observer Iklim BMKG NTB) Pada akhir bulan Maret 2021 Stasiun Klimatologi Lombok Barat NTB telah melakukan diseminasi informasi...

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST ( Observer dan Forcaster Iklim BMKG NTB) Masih sangat hangat perbincangan tentang Siklon Tropis “Seroja” yang menghantam wilayah Nusa Tenggara...