Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Karpet Merah Investasi

 

Walikota Bima menandatangani MoU dengan investor.

SEMUA hepi. Saya merekam ekspresi semua pejabat dan investor dalam dua pertemuan sekaligus, Jumat, 5 Maret 2021. Ekspresi ceria Wali Kota Bima, H M Lutfi, SE, Ketua DPRD Kota Bima, Alvian Indrawirawan, S. Adm, juga Kepala Bappeda dan Litbang, H Muhammad Fakhrunraji, ME. Begitu juga sejumlah Kepala Dinas lingkup Pemkot Bima. Ada aura antusias di sana. Akhirnya ada juga investor. Begitu kira-kira.

Tentu lebih sumringah lagi, tim investor asing yang hadir bersama NTB Solution Centre (NSC). Ada Andrew Sinclair, Managing Director Geo Trash Management (GTM) bersama tim. Dr Aishah Mohamed, owner Aishah Mohamed Group of Companies lebih hepi lagi. Karena dia yang membawa orang-orang itu.

Selain Ketua NSC, DrAishah adalah investor juga advokad internasional, Aishah memiliki paling tidak empat perusahaan. Ada PT Samaa, PT Asia Karya Iman, PT Aishah Mohamed Consultants, dan Tours and Travel. Siapa Dr Aishah Mohamed, saya akan kupas pada catatan terpisah.

Pertemuan pertama yang saya ikuti adalah di ruang Kepala Bappeda dan Litbang. Sore, dilanjutkan dengan tandangan nota kesepahaman di kediaman Wali Kota Bima. Dua kegiatan ini selain diikuti oleh tim NSC, investor, dan sejumlah Kepala Dinas, juga diikuti oleh Ketua DPRD Kota Bima. Sebenarnya ada tiga pertemuan. Paginya ada presentasi para investor ini di Illo Cake. Saya tidak ikut dalam pertemuan tersebut.

Hasil presentasi dilanjutkan dengan meninjauan ke TPA di Oi Mbo. Di sana diperoleh gambaran, ternyata potensi sampah kita luar biasa besar. Yang selama ini menumpuk tak gune. Setelah dicek, kalau diubah menjadi solar, tidak habis diolah lima tahun. Padahal pabrik pengolah limbah plastik menjadi solar itu, makannya sepuluh ton sehari. Jika tidak habis lima tahun, maka ada tumpukan plastik di sana sekitar 600 ribu ton. Wah!

Investor tentu senang, pasutri campuran Australia-Sweden itu, sumringah. Tidak perlu khawatir kekurangan stok untuk diolah kendati investasinya besar. Bukan hanya itu, di sana ada banyak stok sampah organik juga. Jumlahnya juga tentu jauh lebih banyak. Kini saatnya sampah berguna. Jadi uang, juga buat pendapatan daerah. Tentu ada tenaga kerja lokal yang akan diserap.

Perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) ini, sudah menjalankan investasi serupa di Lombok Barat. Sudah jalan. Kini lanjut dengan Bima. Pemerintah Kota Bima (Pemkot) akan memperoleh banyak manfaat dari invetasi ini. Selain serapan tenaga kerja lokal, ada pendapatan tujuh persen dari keuntungan perusahaan setiap tahun. Tiga persen lagi untuk CSR (Corporate Social Responsibility). Dana ini biasanya diberikan kepada masyarakat dalam bentuk yang macam-macam. Bisa uang tunai, bisa juga dalam bentuk bantuan, atau modal usaha.

 

Wali Kota Bima didampingi Ketua DPRD bersama Andrw Sinclair dan Dr Aishah.

Keuntungan lain, investor akan menyewa juga tanah milik Pemkot yang digunakan untuk membangun infrastruktur di lokasi pabrik pengolahan limbah. Ada lagi, sampah tidak perlu menumpuk. Sampah plastik kota juga akan terserap. Jadi setiap warga, siap-siap saja mengumpulkan sampah plastiknya. Plastik apa saja, termasuk tas kresek warna hitam yang jelek dan bau itu. Semua akan jadi uang. Jangan dibuang sembarangan. Aka ada yang membelinya nanti.

Prinsip kerjanya, plastik itu diolah dan dikembalikan ke asalnya. Asalnya ya minyak itu. Solar yang dipakai untuk bahan bakar mesin diesel.

Sampah organik, juga akan diolah menjadi gas methan untuk energi listrik. Paling tidak, energi itu bisa digunakan untuk kebutuhan listrik di TPA. Semua punya nilai ekonomi. Yang selama ini kita anggap bau dan jorok.

Itu urusan sampah! Apalagi? Nah, Dr Aishah dengan group bisnisnya, akan membangun restoran terapung di Lawata. Sekarang proses perizinan sedang berjalan. Titik koordinat sedang diminta kepada Pemerintah Provinsi NTB. Keluar titik koordinat, izin rampung, aksi! Pembangunan dimulai. Warga bisa menjadi pemasok kebtuhan restran itu. Bisa ikan segar, sayur, cabe, dan aneka bumbu masak. Yang bertani sayuran, siap-siap saja. Pasar baru mulai ada. Jangan lupa jaga kualitas sesuai standar mereka.

Apa yang ada di situ? Selain menyajikan kuliner, ada wahana juga. Untuk menuju restoran, bisa jadi warga sekitar yang punya perahu akan dilibatkan. Silahkan siapkan desain perahu terbaik, untuk mengantar tamu yang berkunjung ke restoran di atas laut itu. Kawasan Amahami-Lawata, akan semarak dengan wahana penunjang. Banana boat, jetsky, perahu hias dan fasilitas pendukungnya akan dibangun di situ. Jadilah kawasan itu memiliki Terapung Kembar, masjid dan restoran.

 

Wali Kota Bima (tengah), Ketua DPRD (kanan) dan Abdul Gawis (kiri).

Butuh kawasan yang cukup luas nanti untuk investasi ini. Tetapi Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Bima,  Drs H Zulkifli, M.Ap punya harapan. ‘’Pengunjung ke restoran terapung nanti, kalau bisa masuk lewat Lawata,’’ ujarnya.

Semua dinas terkait langsung menyambut dan bertekad memperlancar proses perizinan investasi ini. Mereka menggelar karpet merah untuk investor. Ini menjadi pintu masuk bagi banyak investor luar yang dijanjikan NSC. Seperti kata Dr Nurlaila Kemal Hasyim, Wakil Ketua NSC, jika proses pertama ini lancar, maka akan menjadi jaminan bagi investor lain mau investasi ke Kota Bima.

Bukan hanya para Kadis, Ketua DPRD Kota Bima yang akrab disapa Pawan pun, menyambut dengan antusias. ‘’Kita gelar karpet merah buat investor. Mari berinvestasi di daerah kami. Kamu sebagai representasi rakyat, akan mendukung sepenuhnya,’’ katanya.

Meski baru dua kali ke Bima, tim NSC dan investor langsung tune in dan ingin tancap gas. Mereka merasa nyaman dan hepi dengan kemudahan yang  diperoleh. Langsung tanda tangan MoU  (memorandum of understanding). ‘’Kita bawa pulang hasil. Ada kepastian,’’ kata Nizar, tim GTM.

Seperti Ketua DPRD dan para Kadis, Wali Kota pun demikian antusias. ‘’Kita sambut investasi dengan tangan terbuka,’’ ujarnya sebelum tandatangan MoU.

Dalam bayangan saya, betapa semaraknya pintu masuk Kota Bima di Lawata. Ada ikon baru, restoran terapung. Saya masih ingat betapa banyak kunjungan warga Dompu saat pertama dibukanya tempat makan di Amahami era almarhum HM Nur Alatif. Warga Dompu, dan juga Kabupaten Bima, ramai-ramai berakhir pekan di Amahami. Padahal saat itu bukan apa-apa. Sederhana sekali. Tetapi karena tidak adanya tempat nongkrong yang bagus, jadilah Amahami dikunjungi ramai-ramai.

Sekarang tentu sudah lebih ramai. Lawata yang dahulu kata Ketua DPRD tempat mainnya mahluk aneh-aneh, kini sudah ramai sekali. Menjadi destinasi andalan baru. Ada aneka spot di sana. ‘’Kehadiran restoran terapung, tentu bukanlah pesaing. Tetapi akan saling mengisi dan membesarkan. Ini akan menjadi ikon baru,’’ ujar Dr Aishah.

Tengoklah di media sosial. Banyak spot yang viral di Lawata. Kunjungan dari berbagai daerah, meningkat drastis terutama akhir pekan. Usaha anak muda seperti Laluna juga jalan. Banyak tenaga kerja terserap di situ. Demikian pula dengan kehadiran restoran terapung kelak. Ekonomi bergeliat, bergerak, bergairah. Masyarakat sekitar bisa ikut merasakan manfaatnya. Tenaga kerja juga akan terserap di situ.

Kepala Bappeda dan Litbang meminta para Kadis untuk fokus dan bekerja cepat membantu investor. ‘’Tidak ada biaya perizinan alias nol rupiah. Tidak ada pungutan macam-macam,’’ kata M Fakhrunraji meyakinkan.

 

Suasana rapat di ruang kerja Kepala Bappeda dan Litbang Kota Bima.

Dua investor di tahap awal ini, akan segera memulai pembangunan setelah memperoleh izin. Bahkan, ada keinginan untuk sambil proses izin, sambil proses pembangunan, asal sudah ada titik koordinat yang diperoleh dari Pemerintah Provinsi. Merekalah yang berkuasa atas kawasan laut sebagai daerah pengembangan pariwisata strategis. Ini semua sejalan sebenarnya. Tidak ada masalah berarti.

Plt Dinas Lingkungan Hidup, Abdul Gawis pun optimis semuanya akan berjalan dengan baik. Demikian pula dengan Plt Dinas Perizinan dan Pelayanan Terpadu, Adisan Sahidu. ‘’Kita akan proses sesuai dengan ketentuan dengan cepat asal semua persyaratan sudah terpenuhi,’’ ujar Adisan.

Kita tentu berharap semua proses ini lancar. Pembangunan segera dimulai, kita bisa coba makan sambil terapung. Bagaimana sensasinya. Saya tidak punya cukup alasan untuk datang ke Ekas di Lombok Timur. Di sana ada restoran terapung yang juga dibangun Dr Aishah. Ramai sekali. Kabarnya, tamu bisa-bisa harus inden tiga bulan sebelum merasakan sensasi makan di atas air laut itu. Apa saya tidak mabuk laut nantinya? Mungkin tidaklah sampai bikin mabuk. Baiknya kita tunggu saja! (*/khairudin m.ali)

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi, SE meletakan batu pertama pembangunan menara Masjid Baiturrahaman, Lingkungan Kodo I, Kelurahan Kodo, Kecamatan Rasanae...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Anggota Komisi IV DPR RI, H Muhammad Syafruddin, ST, MM, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyerahkan bantuan bagi Nelayan di Kelurahan...

CATATAN KHAS KMA

SAYA tidak punya pengalaman yang cukup untuk menulis tentang olah raga. Sejak pertama menjadi wartawan pun, saya lebih banyak menjadi wartawan bisnis, walau kadang...

CATATAN KHAS KMA

SAYA harus sering tulis soal ini. Siaran televisi digital. Ini penting, supaya migrasi dari analog ke digital, bisa berjalan sukses. Literasi televisi digital masih...