Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Pengendali Cuaca, Perubahan Iklim, dan Ketidakpastian Cuaca

Oleh : Anas Baihaqi, S.P.

(Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat)

Cuaca dan iklim yang terjadi di suatu tempat di bumi khususnya Indonesia, merupakan hasil dari proses panjang dari beberapa aktivitas yang terjadi di atmosfer. aktivitas-aktivitas tersebut dikenal sebagai “pengendali cuaca dan iklim” yang didominasi oleh interaksi antara lautan dan atmosfer. Pengendali-pengendali yang sampai saat ini telah ditemukan dan diteliti oleh para meteorologis antara lain interaksi laut-udara antara lautan Pasifik tengah dengan atmosfer yang dikenal dengan El-Nino dan La-Nina. El-Nino adalah fenomena menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah yang memicu terjadinya penurunan tekanan udara di atmosfer bagian atasnya.

Sebagaimana air yang selalu mengalir menuju titik terendah, udara pun berlaku demikian terhadap perbedaan tekanannya. Penurunan tekanan udara menyebabkan massa-massa udara dari tempat lain mengalir menuju Samudra Pasifik dengan tekanan udara terendah. Sehingga awan-awan yang mengapung di langit Indonesia yang seharusnya menurunkan hujan di wilayah indonesia, justru ikut bergerak bersama udara menuju ke Samudra Pasifik. Untuk itulah El-Nino disebut-sebut sebagai salah satu fenomena yang memicu terjadinya kekeringan di wilayah Indonesia. Dimana kurang lebih 60% wilayah Indonesia akan terdampak saat El-Nino terjadi.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sedangkan La-Nina, adalah fenomena yang berkebalikan dengan El-Nino. La-Nina adalah sebuah fenomena yang didefinisikan sebagai kejadian penurunan/pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah yang memicu peningkatan tekanan udara di atmosfer. Berbeda dengan El-Nino yang memicu kekeringan di wilayah Indonesia, La-Nina justru memicu peningkatan hujan untuk wilayah Indonesia karena awan-awan hujan didistribusikan ke tempat-tempat dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat termasuk Indonesia.

Sejauh ini para ahli telah melakukan penelitian terkait penyebab dan fase berulang dari kejadian El-Nino dan La-Nina, dimana mereka menyimpulkan bahwa kejadian El-Nino dan La-Nina dikendalikan oleh arus laut global dan memiliki fase berulang setiap 2 hingga 7 tahun sekali. Selain El-Nino dan La-Nina, dikenal pula pengendali cuaca dan iklim yang lain yang dikenal dengan sebutan Angin Musim Timuran dan Baratan yang berganti arah secara berkala selama 6 bulan sekali. Angin Musim Timuran dan Baratan ini diidentikkan dengan musim kemarau dan musim penghujan di wilayah Indonesia. Pengendali cuaca dan iklim lainnya adalah Madden-Jullian Oscillation (MJO). MJO adalah pengendali skala regional, yang diinterpretasikan sebagai gugus awan yang bergerak mengitari garis khatulistiwa dengan periode ulang 30 hingga 60 hari untuk bergerak melintasi wilayah yang sama.

Masing-masing pengendali cuaca dan iklim tersebut berkerja secara kompleks di atmosfer dengan intensitas dan periode ulangnya masing-masing, menghasilkan kejadian cuaca yang beragam di masing-masing tempat di permukaan bumi. Terkadang mereka saling menguatkan untuk membentuk karakter cuaca di suatu tempat, akan tetapi tidak jarang pula satu dengan yang lainnya saling melemahkan bahkan saling meniadakan. Terdengar sangat rumit, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seluruh aktivitas pengendali cuaca dan iklim tersebut dapat diidentifikasi dengan mudah menggunakan berbagai alat canggih seperti satelit, stasiun pengamatan cuaca darat dan laut, radar, dan sebagainya. Bahkan hasil penelitian para ahli terkait periode ulang pengendali cuaca, sangat memudahkan prakirawan cuaca dan iklim untuk memprediksi periode-periode basah dan kering yang akan terjadi kedepannya dalam skala harian, mingguan, bahkan bulanan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sekitar tahun 1990-an, perihal menganalisa dan membuat prediksi cuaca/iklim dirasa bukan merupakan sesuatu yang dirasa terlalu rumit. Bahkan masyarakat awam yang tidak pernah mengenyam pendidikan tentang cuaca pun akan mampu memprediksi kecenderungan cuaca dengan menggunakan intuisinya. Akan tetapi semua menjadi berubah ketika bumi mulai mengindikasikan adanya peningkatan terhadap suhu udara rata-rata yang berubah secara drastis dalam 100 tahun terakhir. Perningkatan suhu udara ini pertama kali terjadi ditengarai oleh melonjaknya kandungan Karbondioksida / CO2 di udara akibat emisi mesin-mesin industri yang pemakaiannya dilakukan secara masif di beberapa dekade terakhir ini. Penebalan gas rumah kaca di atmosfer menjadi efek samping lanjutan yang tidak terelakkan. Hal ini diperparah dengan makin menipisnya lahan hutan karena penebangan yang tidak bijak. Akibatnya, bumi akan sulit menyeimbangkan panas yang diterimanya dari matahari, dan suhu udara rata-rata di bumi pun meningkat. Selanjutnya, ibarat sel kanker yang menjalar dari satu bagian tubuh ke tubuh yang lainnya, cepat atau lambat perubahan suhu udara ini juga akan menular ke parameter iklim yang lainnya. Curah hujan, kelembapan udara, arah dan kecepatan angin, dan sebagainya adalah parameter iklim yang dikhawatirkan akan berubah mengikuti perubahan suhu udara. Yang masih menjadi misteri dan masih selalu diteliti oleh para ahli, adalah arah perubahan iklim yang dimungkinkan akan terjadi. Apakah iklim di wilayah mereka akan berubah ke arah iklim yang lebih basah ataukah justru menjadi lebih kering dari sebelumnya.

Perubahan dari satu atau beberapa parameter cuaca dan iklim yang sedang dan akan terjadi ini, membuat aktivitas pengendali cuaca dan iklim menjadi terganggu. El-Nino dan La-Nina, Angin Musim Timuran dan Baratan serta MJO yang dahulunya memiliki fase dan periode ulang yang tetap, kini fasenya menjadi tidak menentu. Periode ulang dari El-Nino, La-Nina dan MJO menjadi begitu singkat dan sangat sulit untuk diprediksi. Maka terjadilah apa yang disebut sebagai ketidakpastian cuaca dengan berbagai problematika alam dan problematika sosial yang mengikutinya. Hujan lebat di periode musim kemarau dan mingu-minggu tanpa hujan di periode musim hujan seakan menjadi ‘keanehan’ yang kini harus dimaklumi. Berbagai metode pendekatan untuk memonitor perilaku pengendali cuaca/iklim pun dikerahkan oleh institusi meteorologi internasional termasuk BMKG Indonesia sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun dituntut untuk melakukan adaptasi dan mitigasi di dalam menghadapi perubahan iklim dengan mengubah pola hidup. Menghemat penggunaan Air Conditioner (AC), listrik, bahan bakar fosil serta menggalakkan reboisasi, menjadi langkah efektif yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebagai langkah mitigasi perubahan iklim. Selalu sadar dan perhatian terhadap setiap perubahan cuaca di daerahnya dan mempelajari keterkaitan perubahan cuaca terhadap sektor yang digelutinya, merupakan langkah adaptasi yang sangat diharapkan untuk dimiliki oleh setiap individu masyarakat Indonesia. Jika pemerintah dan masyarakat menjadi pemerintah dan masyarakat yang tangguh, tanggap dan memiliki kesadaran yang tinggi akan hal ini, maka resiko kerugian akibat dampak perubahan iklim dapat diminimalisir. (*)

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini

Oleh :  Anas Baihaqi, S.P. Sebagaimana dimaklumi bahwa Indonesia adalah negara yang terletak di kawasan garis lintang 0o atau yang biasa dikenal dengan garis...

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST (Forecaster and Observer Iklim BMKG NTB) Pada akhir bulan Maret 2021 Stasiun Klimatologi Lombok Barat NTB telah melakukan diseminasi informasi...

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST ( Observer dan Forcaster Iklim BMKG NTB) Masih sangat hangat perbincangan tentang Siklon Tropis “Seroja” yang menghantam wilayah Nusa Tenggara...