Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

‘’Saya Ingin Banyak Orang Sukses’’

 

Aishah Mohamed, Ph.D

 ‘’SAYA lebih suka disapa Aishah atau mbak Aishah saja. Tidak perlu title (gelar) saya disebut pak,’’ katanya kepada saya.

Iya, tamu Catatan Khas KMA kali ini, punya nama lengkap Aishah Mohamed. Seorang konsultan hukum juga pebisnis Internasional yang memiliki jaringan yang sangat luas di puluhan negara. Saya sudah berkali-kali jumpa dengan wanita cantik ini. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Singapura, kemudian melanjutkan program magister ke Amerika ini. Program magisternya di Michigan, sementara program doktoral ia diselesaikan di Inggris.

Michigan, bagi saya tidak asing-asing amat. Saya pernah mengunjungi dua kota di negara bagian yang berbatasan langsung dengan Kanada di utara ini. Ada danau Erie dan Ontario yang dibagi dua Amerika-Kanada. Dua kota itu, Dearborn dan Detroit. Saya berjumpa dengan sejumlah kalangan dan mengunjungi banyak tempat di dua kota ini. Shalat Jumat pun, saya lakukan di negara bagian ini, dalam kunjungan saya selama empat hari itu.

Dearborn dan Detroit merupakan kota Mobil Ford berpusat. Dearborn kota dengan populasi muslim terbesar di Amerika. Nama jalan juga toko-toko, menggunakan nama bahasa Arab dan Inggris. Juga dengan tulisannya. Saya sempat makan di sebuah restoran muslim, Yasmeen di kota dengan penduduk sekitar  90 ribu jiwa ini.

Aishah adalah warga negara Singapura. Tetapi belakangan ini, sering disebut namanya di Bima. Itu karena dia bersama tim NTB Solution Centre (NSC) sudah dua kali ke Bima. Bertemu dengan Wali Kota, juga Bupati. Sempat juga bertemu dengan Wakil Wali Kota, sejumlah pejabat di dua pemerintah ini, serta menjalin kerjasama dengan dua kampus, STIE Bima dan STKIP Taman Siswa.

Walau warga negara Singapura, Aishah mengaku cinta NTB. Aishah kecantol, berawal sekitar 12 tahun silam, ketika menangani kasus mitranya dari Swiss. ‘’Kasus itu berjalan 1.5 tahun dan dari situ melihat betapa tempat ini (NTB) memberi rezeki yang luar biasa. Salain keindahan alamnya  yang masya Allah,’’ katanya kepada saya.

Berawal dari situ, dia memutuskan untuk bermukim di Lombok. ‘’Saya melihat potensi bisnis yang meluap-luap di sini. Dan lagi, bodoh kalau kita pilih tempat yang sudah maju. Sebaiknya menjadi pioner, membangun tempat yang perlu dibangun,’’ tambahnya lagi.

Baca juga:

Karpet Merah Investasi

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Pembuktian Rangga!

Wawan, NSC, Harapan Baru

Atas ketertarikannya itu, dia kemudian berpikir untuk berbuat sesuatu untuk membangun tempat yang indah tetapi belum semaju negaranya ini. Selain menjadi investor, Aishah juga membawa investor. Dia memanfaatkan jejaring yang luas. Banyak investor yang punya uang tetapi bingung mau diinvestasikan di mana. ‘’Nah, peran kita ya kita kenalkan. Mereka mau,’’ katanya.

 

Lily, Yulia, dan tim Geo Trash Management

Belakangan, Aishah kemudian membentuk sebuah lembaga bersama sejumlah koleganya di NTB. Namanya NTB Solution Centre (NSC). Dia ingin menjadi pioner untuk membantu memecahkan masalah NTB di masa depan. ‘’Bukan yang sudah lewat,’’ tambahnya.

Bersama tim NSC, dia sudah dua kali ke Bima. Hasilnya, sudah ada komitmen dan nota kesepahaman yang ditandatangani dengan dua pemerintah di Bima. Untuk Kabupaten Bima, akan dibangun Rumah Oleh-Oleh Khas Bima (Uma Bimanesia). Di Kota Bima akan dibangun Floating Resto atau restoran terapung. Ini Aishah sendiri yang bangun. Sementara Geo Trash Management, investor yang dibawa NSC, akan mengolah sampah plastik menjadi solar. Juga di dua daerah ini. Dua-duanya Penanaman Modal Asing (PMA).

Saya punya kesempatan mengobrol lama dengan Aishah usai shalat Ashar di kediaman Wali Kota Bima. Seraya menunggu Wali Kota, kami punya kesempatan untuk berbicara banyak hal. Mulai dari investasi juga kiprah pribadi Aishah. Itu bukan pertemuan pertama. Tetapi untuk kesekian kalinya. Awalnya, saya dikenalkan oleh kawan sesama alumni IVLP, Hermawan Some. Aktivis lingkungan yang juga tim NSC. Pada kesempatan lain, saya dihubungi oleh Lily Marfuatun, tim NSC juga. Nah, yang terakhir, mulai dari pertemuan di ruang Bappeda dan Litbang Kota Bima itu, saya dihubungi oleh Kepala Bappeda dan Litbang, Muhammad Fakhrunraji. ‘’Abang harus dampingi saya bertemu dengan kawan-kawan NSC,’’ kata Fakhrunraji kepada saya.

Jadilah saya ada di situ. Entah sebagai apa. Anggaplah sebagai wartawan, walau tidak untuk meliput. Tetapi kepada tim NSC, Kepala Bappeda dan Litbang malah kenalkan saya dengan status yang sedikit beda. Apa itu? Kita simpan saja. Ketua DPRD Kota Bima, Alvian Indrawirawan, pun kaget. Ternyata selama pertemuan itu menganggap saya adalah salah satu Kabid di Pemkot. ‘’Maaf bang, saya pikir salah satu Kabid, soalnya pakai masker,’’ katanya sambil bangun dan menyalami saya akrab.

Aishah ada di NTB dengan banyak aktivitas. Mulai dari kegiatan sosial, juga kemanusiaan. Membantu pasien tidak mampu dan mendukung anak-anak muda yang mau berusaha. Tidak semuanya mulus. Kadang ada yang mengecewakan. Tetapi bagi Aishah tak apa. ‘’Yang terpenting kita berbuat saja. Untuk sesama dan menjadi investasi akhirat kita,’’ tuturnya.

‘’Saya ingin lebih banyak orang sukses,’’ tambahnya lagi penuh semangat.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Aishah mengaku tidak sedikit orang yang meminta agar dia istirahat. Bersenang-senang, dan menikmati hidup. Baginya itu tak ada gunanya. Setiap orang seharusnya, berbuat untuk orang lain. Jangan pernah berhenti semasih bisa. Bantu yang bisa kita bantu, orang bahagia, kita juga akan menikmatinya. Orang sukses, kita juga akan merasa bahagia bahwa kita turut serta di dalamnya. Harusnya setiap kita, berpikir seperti itu. Tidak egois! ‘’Kalau ingin senang-senang sendiri saya tidak perlu sibuk seperti ini,’’ ujar Aishah.

NSC yang dibentuk Aishah bersama sejumlah koleganya itu, merupakan suatu kelompok pemerhati persoalan investasi di NTB. Bergerak nyata untuk mengkoordinasikan dan membantu perubahan kinerja pengelolaan investasi di sektor strategis, membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB. Tim yang selalu setia mendampinginya, ada Dr Nurlaila Kemal Hasyim, Hermawan, Yulia, Lily Marfuatun.

Aishah penuh energi positif. Nyaris tidak kenal lelah. Tidak ada waktu yang terbuang selama kunjungannya. Bahkan malam seharusnya pergi ke suatu tempat dengan saya untuk melihat potensi lain, dibatalkan karena harus rapat dengan tim. Kerjanya serius sekali. Dia pun memanfaatkan waktu untuk berjumpa dengan pelaku usaha terutama anak muda di Bima. Memberi motivasi agar terus berinovasi dan maju.

Dia bahkan menjanjikan investasi jika ada produk yang bagus. Karena Aishah tahu, banyak anak muda kesulitan pendanaan usaha rintisan mereka. Perlu waktu memang untuk langsung berlari kencang. Di situlah peran pihak lain yang peduli.

Kepada saya Aishah sampaikan keyakinan bahwa Bima ini akan maju. ‘’Awalnya kami mendapat informasi kurang bagus tentang Bima. Itu membuat investor tidak mau datang. Mereka butuh kemudahan dan keamanan investasi,’’ katanya.

Tetapi setelah jumpa dengan Wali Kota Bima, H M Lutfi dalam suatu kesempatan, Aishah punya kesan baik. ‘’Wali Kota Bima ini bisa sangat cepat dan lincah. Kita harus lebih lincah. Saya diundang ke sini,’’ tambahnya.

Bagi Aishah, itu dibuktikan dengan telah ditandatanganinya nota kesepahaman antara investor dengan Pemerintah Kota Bima. Juga dengan Pemerintah Kabupaten Bima. Juga dengan dua kampus. Semua berjalan dengan baik. Tinggal eksekusi saja.

 

Aishah Mohamed bersama penulis.

Sebagai warga Kota Bima, saya tentu boleh berharap. Semakin banyak investasi yang ke Bima, tentu semakin baik. Aishah memiliki jaringan yang sangat luas. Dengan unit bisnis dan profesinya sebagai konsultan hukum, Aishah memiliki jaringan lebih dari 40 negara. Dia telah menyelesaikan lebih dari seribu masalah terkait hukum dan investasi. Pengalamannya pun, lebih dari 15 tahun.

Aishah memiliki hubungan yang baik dengan semua otoritas regulasi terkait di Singapura dan yurisdiksi lain. Aishah juga bertanggungjawab atas keseluruhan keputusan dan proses manajemen. Telah bertahun-tahun, Aishah memberikan layanan hukum dan keuangan kepada investor dari seluruh dunia, yang ingin menjalankan bisnisnya di Lombok.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Inilah menjadi kekuatan Aishah sehingga memiliki jaringan yang luas dan punya reputasi yang bagus sehingga memperoleh kepercayaan investor. Momentum ini bagi Bima, sangat penting untuk dimanfaatkan. Jangan sampai ada hambatan yang bisa merusak citra investasi. Pintunya sudah ada. Bisa jadi seperti pintu kemana saja miliknya Dora Emon. Karena lewat Aishah, ada banyak investor yang bisa diajak ke daerah kita. Semoga! (*/khairudin m.ali)

 

Share
  • 873
    Shares
Komentar

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

APAKAH saya harus senang? Ataukah sebaliknya? Entahlah! Tetapi begini: Waktu saya pertama membangun media di Bima, itu pada 21 tahun lalu, ada yang menyebut...

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.- Sekretaris Daerah Kota Bima Drs. H. Mukhtar, MH bersama Kasat Lantas Polres Bima Kota, Kepala Dinas Perhubungan, dan Kepala Dinas Kominfotik...

CATATAN KHAS KMA

  KALI ini saya tidak menulis. Catatan Khas KMA kali ini, ingin membagi cerita, membangi cinta, cinta dunia juga cinta akhirat. Cinta sepasang kekasih...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Sebanyak 17 Kota dan 19 Kabupaten di Indonesia maju ke penilaian tahap II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tingkat Nasional Tahun 2021....