Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

‘’Yang Horor pun Bisa jadi Destinasi’’

 

Juru Bicara Presiden RI, Fadjroel Rachman saat menjadi narasumber webinar.

PEMERINTAH Kota Bima rupanya serius juga urus pariwisata. Ini kesan yang saya tangkap dari webinar atau zoom meeting yang dihelat Selasa pagi, 9 Maret 2021. Diskusi yang dipandu Lily Marfuatun itu, berlangsung lebih dua jam.

Narasumber yang dihadirkan, selain Wali Kota Bima, HM Lutfi, juga ada juga juru bicara Presiden RI, Fadjroel Rachman sebagai keynote speaker. Deputi Bidang Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf RI, Hari Santosa Sungkari pun ikut serta, selain Kadis Pariwisata NTB dan Kota Bima.

Apakah pilihan Kota Bima menjadi destinasi pariwisata nasional realistis? Salah seorang peserta webinar meminta agar bercermin. Dia agak ragu hal itu dapat diwujudkan. Bisa jadi karena dia melihat kondisi Kota Bima saat ini. Belum siap dari segala aspek. Destinasi, sumber daya manusia, sumber daya pendukung lainnya.

Namun begitu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bima tetap optimis. Tidak ada kamus tidak bisa kalau semua direncanakan dan diupayakan dengan sungguh-sungguh. Kata Hari Sungkari, jangankan tempat yang indah, yang horor pun bisa menjadi destinasi wisata. Artinya, dari aspek alam, Kota Bima sesungguhnya memiliki potensi itu. Potensi yang tentu saja bisa dijual. Bisa menjadi destinasi nasional.

Sekarang, destinasi itu memang sudah bergeser.  Bukan hanya pantai yang indah, air terjun yang tinggi. Tetapi jika dipoles, semua bisa menjadi destinasi yang menarik. Teluk Bima misalnya. Ini saja kalau digarap dengan baik, akan sangat digemari. Bisa wahana, bisa kuliner, bisa trip laut, bisa memancing, bisa menyelam, dan banyak lagi. Teluk Bima seperti danau di tengah kota.

Teluk Bima, seperti kata Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, lalu Hasbulwadi, masuk dalam Reincana Induk Pariwisata Daerah (Riparda) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kekayaan laut Teluk Bima, belum dieksploitasi. Pemkot Bima baru menggarap Lawata, hanya sisi kecil Teluk Bima. Tetapi di situ bisa menjadi akses untuk membuka kekayaan alam teluk ini.

Tetapi seorang peneliti laut dan dosen Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Syafyudin Yusuf mengingatkan tentang kualitas Teluk Bima yang terus merosot. Teluk Bima seperti kata Alaudin, seorang mahasiswa Makassar dalam webinar menyebut, saat ini menjadi penampung segala buangan dari Kota  Bima.

Faktanya, bukan hanya diri Kota Bima, tetapi juga dari Kabupaten Bima. Sedimen terus bertambah. Yang berbahaya, adalah residu pestisida dari pakan tambak dan bukit-bukit yang ditanami jagung. Baca juga: Apa Pentingnya Save Teluk Bima?

Wali Kota Bima dan jajaran saat pemaparan materi webinar.

Tetapi Pemkot Bima tentu sudah mempertimbangkan soal itu. Ini bisa menjadi titik awal untuk menjaga Teluk Bima. Ini potensi yang tidak dimiliki oleh daerah lain itu. Kita harapkan dirawat untuk kemaslahan umat. Bagaimana caranya, tentu perlu berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk kalangan kampus, juga masyarakat.

Ada nada pesimis dengan prospek Kota Bima menjadi destinasi pariwisata nasional. Tetapi sikap itu seperti hanya pasrah pada keadaan. Memulai dengan optimisme dan terukur, termasuk dukungan anggaran yang memadai, adalah awal yang patut didukung semua pihak. Itu menjadi komitmen Wali Kota Bima, HM Lutfi dalam masa kepemimpinannya.

Mantan aktivis ini pun, seakan bernostalgia dengan Jubir Presiden RI, Padjroel Rachman. ‘’Dahulu kita berjuang di jalanan, kini saatnya kita berbuat untuk kesejahteraan masyarakat. Kita  wujudkan apa yang menjadi fokus perjuangan kita dahulu,’’ ajak Fadjroel pada Wali Kota Bima.

Bagi saya, keduanya bukan sekadar bernostalgia. Atau ingin terlihat akrab. Jauh lebih dalam dari itu. Keduanya punya ikatan erat secara emosional sebagai sesama aktivis. Itu sebuah jejaring yang bisa membantu mewujudkan cita-cita Pemkot Bima. Jubir Presiden, aksesnya langsung ke RI 1. Bisa membuka jalan untuk mendapatkan dukungan negara atas cita-cita Kota Bima. Dinobatkan menjadi destinasi pariwisata nasional.

Sinyal juga diperoleh. Fadjroel berjanji akan ke Bima. Akan mendukung apa yang menjadi keinginan Pemkot Bima. Tentu saja dengan sejumlah pra kondisi yang harus diciptakan. Penganggaran misalnya, Pemkot sendiri harus sudah mulai memberikan porsi yang signifikan untuk membanguna pariwisata Kota Bima. Wali Kota tentu saja menyambut dengan antusias. ‘’Saya suka kuliner, termasuk makan ikan. Di Kota Bima saya tahu ikan lautnya enak,’’ kata Fadjroel.

Fadhroel ingatkan pentingnya marketing dan peran media. ‘’Mention saya supaya saya juga bagikan,’’ katanya.

Hari Sungkari pun memberikan dukungan penuh kepada Pemkot Bima mengembangkan destinasi pariwisata untuk menjadi destinasi nasional. Hari menyebut sejumlah kiat. ‘’Pasti bisa kalau dilakukan. Jadikan semua kepala OPD (organisasi perangkat daerah) sebagai Kepala Dinas Pariwisata,’’ kata Hari sambil memberi contoh gebrakan Banyuwangi.Saya juga jadi teringat Fadel Muhammad ketika menjadi Gubernur Gorontalo. Dia menjadikan semua Kepala Dinas seakan Kepala Dinas Pertanian, karena menjadikan jagung sebagai komoditi andalan.

Hari menyebutkan, Kota Bima memiliki banyak potensi wisata, mulai dari alam, budaya, hingga kuliner. Tinggal ditata saja. Siapkan sumber daya pendukung. ‘’Destinasi juga bisa dibuat.Tidak harus indah. Yang horor juga bisa, yang penting marketing dan story telling,’’ ujarnya.

Namun begitu, story telling bukan kisah fiksi yang dibuat-buat. Harus berdasarkan fakta sejarah. Makanya perlu melibatkan pihak terkait, misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Bisa juga kalangan kampus.

Karena saat ini masa pandemi, wisata out door sangat diminati. Orang sudah menjauh dari pusat perbelanjaan dan tempat tertutup yang dikerumuni orang. Kota Bima yang memiliki banyak bukit misalnya, bisa memaksimalkan potensi itu.

Hari Sungkari mengingatkan tiga hal pokok dalam pengembangan pariwisata. Inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Inovasi merupakan kemampuan menciptakan destinasi. Sementara adaptasi dikaitkan dengan kondisi pandemi saat ini. Pariwisata yang menghindari kemungkinan kerumunan, melanggar protokol kesehatan. Pilihannya adalah wisata alam, termasuk Teluk Bima. Kolaborasi yang dimaksud Hari, Pemkot Bima tentu tidak bisa bekerja atau maju sendiri. Harus ada kerjasama saling mengisi, termasuk dengan daerah sekitar. Misalnya Kota Bima yang tidak memiliki pantai untuk berselancar seperti Dompu, bisa menyediakan souvenir dan lain-lain.

Secara geografis sebenarnya Kota Bima sangat diuntungkan karena diapit oleh dua kawasan wisata hebat. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok dan Otorita Pariwisata Labuan Bajo. Dua wilayah ini memang sangat maju, karena mandapat dukungan dari Pemerintah Pusat. Tetapi Kota Bima tidak boleh hanya menjadi penonton. Harus ambil bagian dalam posisi yang startegis tersebut itu. Butuh komitmen kolektif.

Keingian untuk menjadi destinasi pariwisata nasional, akan diperjuangkan bersama. Fadjroel Rachman maupun Deputi Hari Sungkari, berjanji akan membantu memperjuangkan keinginan Pemkot Bima. ‘’Kita akan perjuangkan bersama-sama. Ayo buat event yang menghadirkan Menparekraf Sandiaga S Uno ke Bima,’’ kata Hari Sungkari. Event yang dimaksud Hari, bisa semacam triatlon atau bisa juga event budaya.

Hari menyebut salah satu indikator suksesnya suatu destinasi wisata adalah ketika wisatawan kembali lagi untuk berkunjung. ‘’Biasanya mereka akan membawa lagi kawan, keluarga, juga kerabat mereka. Ini tandanya wisata sukses,’’ ujarnya.

Dinas Pariwisata Provinsi NTB pun mendukung keinginan Wali Kota Bima. ‘’Ayo kita berjuang bersama-sama,’’ kata Lalu Hasbulwadi.

Webinar diikuti lebih dari seratus peserta, termasuk kepala OPD di lingkup Pemkot Bima. Banyak pertanyaan yang diajukan. Karena waktu yang terbatas, moderator hanya membuka satu sesi. Lainnya, pertanyaan tertulis.

Peserta berharap ada tindaklanjut dari webinar ini. Kumpul bersama para pelaku pariwisata, komunitas, kelompok sadar wisata, juga media massa. Ini momentum yang bagus untuk mulai bertindak kolektif. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Bima, Zulkifli, harus menangkap energi ini.  Bagaimana menurut Anda? (*/khairudin m.ali)

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi, SE meletakan batu pertama pembangunan menara Masjid Baiturrahaman, Lingkungan Kodo I, Kelurahan Kodo, Kecamatan Rasanae...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Anggota Komisi IV DPR RI, H Muhammad Syafruddin, ST, MM, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyerahkan bantuan bagi Nelayan di Kelurahan...

CATATAN KHAS KMA

SAYA tidak punya pengalaman yang cukup untuk menulis tentang olah raga. Sejak pertama menjadi wartawan pun, saya lebih banyak menjadi wartawan bisnis, walau kadang...

CATATAN KHAS KMA

SAYA harus sering tulis soal ini. Siaran televisi digital. Ini penting, supaya migrasi dari analog ke digital, bisa berjalan sukses. Literasi televisi digital masih...