Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Hanya Rp15 Juta, jadi Anggota DPD RI

Penulis bersama anggota DPD RI, H Achmad Sukisman Azmy di Bukit Jatiwangi.

HARI itu, Jumat 8 Oktober 2019. Saya menjadi narasumber workshop yang digelar Dewan Pers di Kota Bima. Bersama saya, ada Hendry Ch Bangun. Anggota Dewan Pers mewakili unsur wartawan.

Selama karirnya sebagai wartawan hingga pensiun di Harian Kompas pada 2018, tidak banyak yang tahu kepanjangan Ch di tengah namanya. ‘’Nama kita sama,’’ kata saya. Iya, Ch itu, singkatan dari Chairudin. Hanya sedikit berbeda penulisan. Saya pakai Kh. Tambahan nama Chairudin itu, setelah ia menjadi pemeluk Islam.

Saya bukan ingin menulis Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019-2022 itu. Tetapi tentang seseorang yang sama-sama kami kenal. Namanya Ir Achmad Sukisman Azmy. Yang pada saat kami ‘gosipin’ sedang menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB. ‘’Hebat, Ketua PWI NTB terpilih menjadi anggota DPD RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia),’’ kata Hendry.

Saya kaget! Benar-benar kaget. Saya tidak pernah mendengar ketua PWI NTB itu maju menjadi calon anggota DPD. Dan terpilih! Bayangkan, hanya 4 orang yang mewakili NTB. Tokoh Pulau Sumbawa, termasuk almarhum Faouk Muhammad, tereliminasi. Padahal saat itu, almarhum adalah petahana. Entah saya yang kurang gaul, atau sosialisasinya yang kurang. ‘’Memang saya habiskan uang hanya Rp15 juta, dan saya terpilih. Suara saya nomor dua,’’ kata Sukisman kepada saya.

Paling tidak ada dua alasan mengapa saya tidak percaya. Pertama, saya kenal benar Sukisman sebagai pria kalem yang tidak pernah punya keinginan terjun ke politik. Kami tujuh tahun bersama di Lombok Post. Sejak dari koran pertama itu bernama Suara Nusa.

Kedua, ada nama yang sama dengan Sukisman Azmy ini. Sukiman Azmy. Kalau tidak cermat membaca, nama mereka memang sama. Nyaris persis bahkan, kalau hanya diucapkan! Hanya kurang huruf S di tengah. Itu mantan Bupati Lombok Timur (Lotim) periode 2008-2013. Saya berpikir, dialah yang ikut nyalon DPD setelah kalah Pilkada. Seperti juga banyak mantan kepala daerah lainnya.

Saya akhirnya menghubungi beberapa wartawan sambil browsing. Saya mencari konfirmasi atas informasi dari mantan Sekjen PWI Pusat dua periode itu. Benar! Ketua PWI NTB itu memang terpilih menjadi anggota DPD RI wakil NTB. Bagaimana ceritanya?

Saya jarang jumpa dengan Sukisman sejak tidak lagi di Lombok Post pada akhir 1999. Sama-sama menjadi pengurus PWI NTB tidak juga membuat komunikasi kami intens. Saya di Dewan Kehormatan, Sukisman di Pengurus Harian. Beda! Apalagi selama masa itu, tidak ada laporan dugaan pelanggaran etik oleh anggota PWI. Praktis sebagai Dewan Kehormatan, tidak ada masalah etik yang diproses.

Rupanya bencana banjir Bima telah mempertemukan kami kembali. Dia jauh-jauh datang dari Jakarta, untuk menyerahkan bantuan bencana. Yang disasar utama, adalah wartawan korban banjir. Ada enam orang ternyata. Mereka tidak ada satu pun yang anggota PWI. ‘’Yang penting wartawan, kapan lagi saya bisa berbuat untuk kawan-kawan se profesi,’’ katanya kepada saya.

Saya jemput Sukisman di Marina Inn, Selasa. Pagi hari pertama puasa Ramadan, kami habiskan di Bukit Jatiwangi. Saya ingin menjemputnya usai shalat Subuh. ‘’Biasanya saya mengaji usai shalat Subuh sambil menunggu Syuruq,’’ katanya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sukisman (paling kanan) berdiskusi dengan Ketua PWI Bima, Gunawan, dan Muzakir NS.

Nah kebetulan, di masjid kami juga ada ceramah pagi. Saya baru menjemput sahabat lama itu pukul 06.20 Wita. Kami langsung menuju Bukit Jatiwangi. Melihat keindahan Kota Bima di pagi hari, sambil menikmati sunrise. Berjemur hingga pukul 08.30 Wita.

Kami mengobrol banyak hal. Bukan nostalgia. Saya ingin ada jawaban soal cerita yang membawanya ke Jakarta itu. Awal mula ia memutuskan menjadi calon anggota DPD RI itu. Yang saya sampai tidak tahu itu. Jadilah —tak apa– wartawan sesekali mewawancarai wartawan. Di berugak, sambil berjemur.

‘’Saat itu tiba-tiba ada ide dari kakak saya Sukiman Azmy. Dalam mobil, kakak bilang agar saya ikut calon anggota DPD RI. Biar sekalian sosialisasi,’’ kata Sukisman memulai ceritanya. Saat itu, Sukiman Azmy memang ingin maju kembali menjadi calon Bupati Lombok Timur. Ketika menjadi petahana, dia dikalahkan oleh Ali Bin Dachlan. Sebelumnya, dialah yang mengalahkan tokoh LSM senior NTB yang mendirikan banyak Bank Perkreditan Rakyat itu. Dua tokoh ini seperti sedang menjadi rival. Kira-kira semacam revans. Mudahnya begini. Pada periode 2003-2008, Ali Bin Dachlan –populer dipanggil Ali BD itu– menjabat Bupati. Pada Pilkada 2008, Ali BD ditantang dan dikalahkan oleh Sukiman Azmy sehingga menjadi Bupati Periode 2008-2013. Nah, revans terjadi lagi. Pada Pilkada 2013, Sukiman Azmy kalah dari Ali BD.

Rupanya belum selesai. Sukiman Azmy kembali dan menang untuk masa jabatan 2018-2023. Tetapi Ali BD sudah tidak menjadi calon Bupati. Dia naik kelas menjadi calon Gubernur NTB, yang akhirnya dimenangkan oleh Dr Zulkieflimansyah.

Nah pada proses ingin kembalinya Sukiman Azmy menjadi Bupati itu, setiap sosialisasi akhir pekan, Sukisman selalu turut. Sukisman hanya bisa menemani di akhir pekan, karena hari lain sibuk di Radar Lombok, koran harian yang lahir dari Lombok Post. Dalam perjalanan waktu, lahirlah ide sang kakak agar Sukisman ikut dalam kontestasi DPD RI.

Itu hanya lima hari sebelum penutupan pendaftaran calon anggota DPD. Sukisman kaget karena tidak pernah menyangka. Keputusan pun dia ambil setelah mendengarkan banyak dalih sang kakak.  ‘’Saya tidak pernah menyangka ditodong seperti itu. Di atas mobil saat kami bergerak untuk sosialisasi,’’ kisahnya.

Tidak pernah punya minat terjun ke politik, plus waktu yang sudah demikian mepet, membuatnya apriori. ‘’Saya pikir tidak mungkin lolos dan memenuhi syarat. Waktunya begitu sempit. Hanya lima hari tersisa,’’ katanya.

Setelah dinyatakan siap, tim pemenangan kakaknya, langsung rapat. Malam itu juga terkumpul 15 ribu fotokopi KTP. Syartanya Cuma minimal 2 ribu fotokopi KTP. Yang menjadi soal, bukan jumlahnya, tetapi administrasinya. Harus ada tandatangan dukungan di atas meterai. ‘’Berbekal satu unit laptop dan scanner, akhirnya berhasil menyetorkan syarat minimal ke KPU NTB. Itu di menit-menit akhir,’’ tutur Sukisman.

Pada saat mendaftar itu, muncul tokoh-tokoh hebat yang menjadi rivalnya. Empat petahana yaitu Baiq Diyah Ratu Ganefi, Farouk Muhammad, Suhaimi Ismy, dan Rabiatul Adawiyah, masih mendaftar. Selain mereka, ada juga puluhan tokoh lain yang sudah punya nama seperti mantan Bupati Kabupaten Sumbawa Barat, KH Zulkifli Muhadli, Sunardi Ayub, Lalu Abdul Muhyi, dan lain-lain. Dalam kalkulasi politik yang beredar, tiga petahana masih sangat kuat. Hanya satu slot yang diperkirakan diisi oleh penantang. Berat sekali!

Itu adalah hitungan manusia! Allah tentu punya rencana sendiri. Tiga petahana ternyata tumbang. Yang tersisa hanya H Suhaimi Ismy. Itu pun, perolehan suaranya tidak aman sehingga nyaris tidak lolos. Posisinya nomor empat, hanya memperoleh 207.352 suara. Bandingkan dengan pendatang baru, Evi Apita Maya, yang dipersolkan foto cantiknya itu. Ia dipilih 283.932 orang. Luar biasa!

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Yang mengejutkan, Sukisman berada pada posisi kedua dengan  perolehan 268.905 suara. Kemudian disusul TGH Ibnu Halil sebanyak 245.570 suara. ‘’Itu keajaiban,’’ ujarnya.

Sukisman 

Apa kiatnya? Dengan biaya minimalis hanya Rp15 juta, ternyata hanya menggarap Lombok Timur. Dia sudah menghitung untuk meraih suara 30 persen saja di daerah kelahirannya itu. ‘’Di daerah lain, saya hanya mengandalkan jejaring dan relasi saja,’’ ujarnya.  Pantas saja saya tidak tahu. Di group WhatsApp PWI pun saya sudah tidak ada.

Dia pernah coba menggarap Lombok Tengah dan Mataram. ‘’Biayanya sangat mahal. Saya tidak mampu. Saya akhirnya kembali fokus di Lombok Timur. Saya juga diuntungkan oleh kakak yang saat itu juga menjadi calon Bupati. Kami bisa jalan bersama. Setelah kakak terpilih pada 2018, saya masih punya waktu sosialisasi sendiri sebelum Pemilu 2019,’’ katanya.

Penampilan fisik yang mirip kakaknya, membuatnya juga diuntungkan. Apalagi nama juga hampir sama. ‘’Setiap saya sosialisasi, ada saja yang sebut saya mirip Bupati Lombok Timur,’’ kata pria tiga putra yang lahir 6 Agustus 1964 ini.

Pria dua putri dan satu putra ini mengaku tidak pernah menyangka, apalagi bercita-cita menjadi politisi. Bahkan pernah berujar, jika didudukkan langsung sekalipun, dia akan menolak. Wartawan yang memulai kariernya di Harian Umum Karya Dharma Surabaya pada 1990 ini mengaku sudah sangat senang dengan profesinya.

Suami Endang Susianti asal Blitar ini, mengaku sempat bekerja di Biro Iklan sambil kuliah Teknik Industri di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.  Bertemu dengan H Ismail Husni, bos Lombok Post di Kota Pahlawan itulah, yang mengenalkannya dengan dunia jurnalistik. Kemudian mereka sempat magang di Jawa Pos sebelum diboyong ke Haruan Suara Nusa di Mataram.

Dalam hidupnya, Sukisman mengalami sejumlah keajaiban yang terjadi di luar nalarnya.  Saat bekerja di Biro Iklan, sempat tidak dapat order hingga sepekan. Dia pasrah dan hanya berdoa. Saat kondisi seperti itu, dia didatangi seseorang yang membawa banyak orderan. Hasilnya, saya tidak bisa habiskan setahun. ‘’Banyak sekali,’’ tuturnya.

Kedua, saat berhaji. Dengan gaji kecil menjadi wartawan, baginya itu mustahil. Tetapi sekali lagi, Allah menunjukkan kuasanya. ‘’Saya mendapat hadiah perjalanan ke Singapura dan Thailand dari Lombok Post. Selain tiket, ada juga akomodasi yang diberikan perusahaan. Saat itu saya ajukan untuk umrah saja,’’ kisah Sukisman.

Pimpinannya, H Ismail malah menawarkan naik haji. Tetapi karena biaya berhaji masih tinggi, ia sempat menolaknya. Dia hanya ingin umrah saja. Karena didesak, akhirnya dia mendaftar untuk haji pada 1999 dengan uang yang masih kurang. ‘’Di sinilah kuasa Allah kembali ditunjukkan. Entah bagaimana kisahnya, saya mampu selesaikan setoran ONH dan saya berangkat tanpa hambatan,’’ ujar ayah Fairuz Lukiana Ismayani, Abiyulwan Sismawapi, dan Siti Nuraziza Ismayanti ini.

Keajaiban ketiga ya saat lolos menjadi anggota DPD ini. Dia benar-benar tidak percaya dengan hasil itu. Raihan suara nomor pula. ‘’Ini benar-benar di luar akal sehat saya,’’ katanya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sukisman adalah lambang perjuangan seorang wartawan dalam menghadapi hidup. Sabar dan tawakal! Dengan prinsip hidup ‘’Berikhtiar dan berdoa, selanjutnya Allah yang menentukan’’ Sukisman telah encapai level yang tidak ada dalam angannya.

Apakah punya rencana untuk terus menjadi politisi? ‘’Saya sedang menjajaki partai. Saya sudah bangun komunikasi dengan elit partai untuk Pemilu 2024,’’ tambahnya.

Sukisman menikmati udara pagi di Bukit Jatiwangi.

Apa yang berubah setelah menjadi DPD? ‘’Tidak ada yang berubah. Saya tetap seperti dahulu. Saya juga tidak pernah mau tahu berapa gaji saya. Selain untuk biaya hidup, selebihnya digunakan untuk lelah tim yang dahulu telah membantu saya. Toh jabatan ini saya raih tanpa modal,’’ katanya.

Kepada para wartawan muda, dia ingin terinspirasi dari kisah hidupnya yang sederhana. Serahkan semuanya kepada Allah, ikhlas dalam berbuat dan bertindak.  Biarlah Allah yang menentukan. Hidup baginya tidak selamanya bisa direncanakan. Banyak hal ajaib di dunia ini. Berusaha, berdoa, dan sabar. Saya jadi teringat Surah Al-Baqarah ayat 153. ‘’Wahai orang-orang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar. ‘’ (khairudin m. ali)

 

 

 

Share
  • 56
    Shares
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

WARTAWAN senior Dahlan Iskan menulis skala kekecewaan pakar komunikasi yang juga pengajar Ilmu Jurnalistik, Effendi Gazali. Angkanya fantastis, 9.5 pada skala 0-10. Nyaris sempurna...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.-  Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB), Evi Apita Maya mengunjungi Pantai Lawata, Rabu malam...

CATATAN KHAS KMA

APAKAH saya harus senang? Ataukah sebaliknya? Entahlah! Tetapi begini: Waktu saya pertama membangun media di Bima, itu pada 21 tahun lalu, ada yang menyebut...

Berita

  MENGENAL tokoh saya yang satu ini, sebenarnya sudah cukup lama. Itu di forum-forum diskusi online dan group media sosial. Jumpa langsung, sudah beberapa...