Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Memperingati Hari Kartini dengan Menilik Capaian Pembangunan Gender di Kota Bima

JIKA berbicara tentang emansipasi wanita, sosok Raden Ajeng Kartini tampaknya akan selalu hadir dalam pembahasan ini, karena dalam kutipan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” munculah istilah kesetaraan gender atau emansipasi wanita.

RA Kartini dikenal sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita, karena perjuangannya terhadap hak wanita untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan diberikan kesempatan yang sama untuk menerapkan ilmu yang dimiliki agar tidak direndahkan derajatnya.

Emansipasi berbeda dengan kesetaraan gender, tetapi melalui emansipasilah para wanita menuntut kesetaraan gender. Karena emansipasi adalah apa yang selama ini kita sebut dengan effort untuk memperoleh kesetaraan gender tersebut.

Emansipasi artinya, memberikan hak yang sepatutnya diberikan kepada orang atau sekumpulan orang, dimana hak tersebut sebelumnya dirampas atau diabaikan dari mereka. Dimana refleksi emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini adalah untuk membawa perubahan besar kepada perempuan Indonesia, yaitu perjuangan menuntut hak pendidikan bagi perempuan. Karena kita ketahui bahwa di zaman dahulu, pendidikan bagi perempuan ataupun kaum pribumi adalah hal yang sangat tabu dan sangat susah untuk dicapai.

Sedangkan kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara, dimana antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi (kualitas hidup) adalah sama. Gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.

Kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari publikasi Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia. Tahun 2020, angka IPG Kota Bima mencapai 96,41 persen atau mengalami peningkatan sebesar 0,02 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Semakin dekat angka IPG ke-100, maka semakin kecil kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, ideologi dan budaya patriarki yang menjadi penyebab diskriminasi terhadap kaum wanita sudah ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat.

IPG sendiri merupakan pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia yang seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan memperhatikan ketimpangan gender. IPG dapat digunakan untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan.

Dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus 2020, menunjukkan bahwa persentase wanita berusia 15 tahun ke atas yang bekerja sebesar 62,38 persen, masih lebih tinggi dibanding persentase wanita 15 tahun ke atas yang ‘hanya’ mengurus rumah tangga yang sebesar 25,19 persen. Artinya, wanita-wanita di Kota Bima sebetulnya tidak memiliki kendala yang berarti untuk mengakses lapangan kerja. Sedangkan Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) di tahun yang sama mencapai 95,64 persen, yang artinya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,36 persen di tahun tersebut.

Secara kuantitas, jumlah perempuan ternyata masih lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2020, menyebutkan bahwa angka sex ratio Kota Bima di tahun tersebut mencapai 98,6 persen, yang artinya jumlah perempuan 1 persen lebih banyak dari laki-laki dan dapat diartikan pula dalam setiap 100 orang perempuan ada sebanyak 99 orang laki-laki.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Dari penduduk perempuan, 67,74 diantaranya merupakan penduduk usia produktif dan sisanya merupakan penduduk yang belum/tidak produktif lagi. Dengan demikian angka dependency ratio Kota Bima di tahun 2020 adalah sekitar 47,6 persen. Artinya, setiap 100 penduduk perempuan usia produktif menanggung sekitar 47-48 penduduk perempuan usia belum/tidak produktif.

Sekarang, mari kita lihat tujuan perjuangan Kartini semula yang memperjuangkan pendidikan wanita. Dari segi pendidikan, partisipasi perempuan usia 7-24 tahun yang masih sekolah sebesar 73,19 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang hanya mencapai 70,62 persen. Kemudian, jika kita lihat dari pendidikan tertinggi, jumlah perempuan yang telah menamatkan pendidikan minimal SMA ada sebanyak 58,78 persen, angka ini sedikit lebih rendah dari laki-laki mencapai 63,39 persen. Sedangkan jumlah perempuan buta huruf ada 7,34 persen, dimana sebagian besar adalah penduduk perempuan yang belum bersekolah atau masih menduduki kelas 1 sekolah dasar dan sebagian besar lainnya adalah penduduk perempuan lanjut usia.

Dalam bidang politik, di tahun 2020 ada 4 perempuan yang terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kota Bima dari total 25 anggota. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menempatkan kaum perempuan sebagai partner dalam pembangunan, bahkan politik gender saat ini telah memakai pendekatan Women in Development, dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam target pembangunan nasional. Konsep tersebut memberikan porsi kepada kaum perempuan untuk lebih menunjukkan keberadaanya dan meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan menuju bangsa yang sejahtera dan penuh kedamaian.

Persamaan Gender sudah menjadi salah satu dari 8 sasaran pembangunan dalam pencapaian The Millenium Development Goals (MDGs), yaitu persamaan gender dan pemberdayaan perempuan. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kesetaraan tidak harus sama. Ada beberapa hal yang tidak bisa dimiliki atau dilakukan laki-laki maupun perempuan, yaitu kodrat. Pemberian dari Tuhan yang tidak dapat dirubah. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah, peningkatan peran perempuan dari tahun ke tahun di segala aspek pembangunan.

Seandainya Ibu Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia masih hidup, mungkin beliau akan tersenyum melihat kebangkitan kaumnya dari kegelapan dan ketidakberdayaan menuju terbitnya terang dan menyongsong kesetaraan gender dalam segala bidang.

Bila orang hendak sungguh-sungguh memajukan peradaban, maka kecerdasan pikiran dan pertumbuhan budi harus sama-sama dimajukan. (RA. Kartini)

Selamat Hari Kartini untuk 78.131 Perempuan Kota Bima. Bermimpilah setinggi langit dan jagalah selalu semangat Kartini dihatimu.

Penulis: Triana Pujilestari, S.Si, M.SE (Fungsional Umum BPS Kota Bima)

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Share
  • 18
    Shares
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Hukum & Kriminal

Dompu, Bimakini. – Seorang suami asal Dusun Sorilandi, Desa Soriutu, Kecamatan Manggelewa, membacok istrinya yang sedang berbaring. Kasus tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.-Personel Polres Bima Kota yang bertugas pada sejumlah Pos Pengamanan (PAM) dan Pos Pelayanan (YAN) di wilayah hukum Polres Bima Kota, membagikan...

Hukum & Kriminal

Dompu, Bimakini. – Diduga melakukan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Apriansyah (16) asal dusun Pelita, Desa Mbawi, Kecamatan Dompu hingga kritis. Empat terduga pelaku yang...

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.- Polsek Langgudu membubarkan aksi Pungutan Liar (Pungli) oleh sekumpulan anak muda di Jalan Lintas Tente Karumbu, tepatnya di tempat wisata Sori Na’e...