Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Polemik Impor Beras dan Kesejahteraan Petani Lokal

Panen padi di sawah Kota Bima.

PERBEDAAN pendapat mengenai kebijakan impor beras masih menjadi topik terkini yang membutuhkan analisa lebih lanjut. Beberapa pendapat mengatakan setuju dengan kebijakan impor beras, diantaranya karena alasan adanya kenaikan harga beras eceran, produksi beras menurun karena cuaca yang tidak menentu, cadangan beras pemerintah mulai menipis dan swasembada pangan yang dilakukan oleh Bulog tidak mencapai target.

Namun, ada beberapa pihak yang kontra dengan kebijakan ini, yaitu ketika impor beras dilakukan pada saat panen raya, hal tersebut akan berdampak pada anjloknya harga beras lokal dan merugikan petani.

Di tengah-tengah ramainya polemik isu impor beras, Badan Pusat Statistik (BPS), akhir Maret 2021, melalui media sosialnya telah merilis data luas panen dan produksi padi di Indonesia sejak tahun 2019, 2020 dan dibandingkan dengan prediksi panen pada subround pertama tahun 2021.

Data Produksi Padi Indonesia

Berdasarkan hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA), total luas panen padi pada tahun 2019 mencapai 10,68 juta hektar, dengan puncak panen raya padi terjadi pada bulan Maret sebesar 1,72 hektar dan luas panen terendah terjadi pada bulan Desember, yaitu sebesar 0,32 juta hektar. Sementara untuk produksi padi tertinggi pada tahun 2019 terjadi pada bulan Maret yaitu mencapai 9,17 juta ton dan produksi terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 1,70 juta ton. Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi padi pada 2019 setara dengan 31,31 juta ton beras.

Realisasi panen padi pada tahun 2020 tidak jauh berbeda dengan tahun 2019 yakni seluas 10,66 hektare. Demikian pula dengan produksi padi sebesar 54,65 juta ton gabah kering giling. Sementara jika dikonversikan menjadi beras, angka produksi beras tahun 2020 mencapai 31,33 juta ton. Hal ini merupakan capaian yang menggembirakan dan sebagai salah satu faktor yang mendukung harga beras relatif stabil selama tahun 2020. Adapun produksi beras tertinggi pada tahun 2020 terjadi di bulan April yaitu sebanyak 5,60 juta ton dan produksi beras terendah terjadi di bulan Januari yang hanya sebesar 930 ribu ton. Sementara untuk produksi beras periode Januari-April 2021 diprediksi sebesar 14,54 juta ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yaitu sebesar 11,46 juta ton.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian diprediksi ketersediaan pangan menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 2021 dalam keadaan cukup, bahkan untuk komoditas beras diperkirakan akan surplus hingga 12 juta ton. Perhitungan sampai dengan minggu ke-2 Maret 2021 menunjukkan stok beras yang tersimpan di berbagai tempat seperti Bulog, penggilingan, pedagang, pasar induk beras dan lainnya mencapai kurang lebih 6 juta ton. Senada dengan hal tersebut, dari pihak Bulog juga menyatakan masih memiliki cadangan pangan yang cukup. Persediaan beras Bulog per 14 Maret 2021 di gudang Bulog mencapai 883.585 ton, dengan rincian sebanyak 859.877 ton merupakan stok cadangan beras pemerintah (CBP) dan 23.708 ton stok beras komersial. Sementara beras sisa impor tahun 2018 yang masih tersedia di gudang Bulog sebanyak 275.811 ton, dengan 106.642 ton diantaranya telah mengalami penurunan mutu.

Sebagai upaya mendukung penyediaan beras nasional yang utamanya ditujukan untuk program bantuan sosial (bansos) beras PPKM, mengantisipasi dampak banjir dan pandemi Covid-19, memenuhi kebutuhan masyarakat, serta menjaga harga beras tetap terkendali selama tahun 2021, pemerintah akan melakukan dua skema kebijakan.

Kebjakan pertama, Bulog akan melakukan penyerapan gabah dari petani lokal dengan target setara beras 900.000 ton saat panen raya pada Maret – Mei 2021, dan 500.000 ton pada panen Juni – September 2021. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik maka ketersediaan beras akan terjamin sampai akhir tahun 2021.

Kebijakan kedua, pemerintah akan melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton beras, dimana 500.000 ton untuk cadangan beras pemerintah (CBP) dan 500.000 ton sisanya digunakan untuk kebutuhan komersial Bulog. Beras impor ini nantinya akan digunakan untuk menambah cadangan atau istilahnya iron stock. Mengingat angka produksi beras yang dimiliki pemerintah saat ini masih bersifat proyeksi, sehingga realisasinya bisa berubah tergantung dari cuaca di daerah penghasil beras. Oleh karena itu, iron stock ini dibutuhkan jika kondisi panen padi tak semulus yang diperkirakan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Masih Perlukah Impor Beras?

Kebijakan impor beras sebenarnya hal yang wajar dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan nasional.

Alasannya, pertama, lahan pertanian di Indonesia semakin berkurang, sedangkan jumlah penduduk semakin bertambah sehingga kebutuhan terhadap beras akan semakin banyak.

Alasan kedua, Indonesia menjadi salah satu negara dengan konsumsi beras per kapita relatif besar dan tercatat mencapai 114 kilogram beras per kapita per tahun. Sehingga meskipun Indonesia adalah negara terbesar ketiga yang memproduksi beras terbanyak di dunia, tetapi Indonesia masih perlu melakukan impor beras dari negara eksportir beras seperti Thailand, India, dan Vietnam.

Penyebab yang ketiga, adalah karena harga gabah petani lokal relatif lebih mahal dan kualitas hasil panen belum memenuhi standar kadar air beras yang dipersyaratkan oleh Bulog.

Lantas, mengapa muncul polemik dikalangan masyarakat khususnya petani beras lokal?. Karena wacana impor beras dilakukan pada saat musim panen raya dan terjadi peningkatan produksi gabah kering panen periode Januari-April 2021. Jika rencana impor 1 juta ton beras dilakukan saat panen raya, maka secara tidak langsung akan menurunkan harga beras petani lokal dan akan menurunkan kesejahteraan masyarakat petani tentunya.

Kebijakan impor mestinya berbasis indikator, yakni jumlah produksi gabah berdasarkan data KSA yang dihasilkan oleh BPS, data jumlah stok beras di Bulog dibandingkan dengan kebutuhan minimal 6 bulan ke depan, dan harga rata-rata beras medium selama tiga bulan berturut-turut sebelum terjadinya lonjakan harga.

Kebijakan

Sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan pangan pokok, oleh karena itu sebagai upaya untuk mencapai swasembada beras, pemerintah bisa mendorong para petani untuk meningkatkan produksi padi (kuantitas maupun kualitas) dengan mendorong inovasi teknologi dan menyediakan bibit dan pupuk bersubsidi.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Pendampingan bagi petani juga dibutuhkan agar hasil panen bisa memenuhi standar kadar air beras yang dipersyaratkan.

Dari sisi permintaan, masyarakat patut didorong untuk terus mengurangi ketergantungan konsumsi pada beras dengan mempromosikan konsumsi sumber karbohidrat lainnya sebagai makanan pokok. Program diversifikasi konsumsi pangan non beras berbasis sumber daya lokal menjadi sangat penting untuk dilakukan agar tidak terjadi ketergantungan yang sangat tinggi pada satu jenis pangan saja.

Dengan perkiraan alih fungsi lahan yang kian cepat dan perubahan iklim yang kian masif menjadi faktor penyebab turunnya produksi beras sehingga harga beras akan terus naik secara signifikan.

Selain itu, pemerintah perlu membuat mapping manajemen logistik kebutuhan beras di masing-masing daerah, sehingga mengetahui berapa ton yang dibutuhkan, dan analisis terhadap panen yang dihasilkan, sehingga beras-beras dari wilayah surplus dapat segera didistribusikan ke seluruh pelosok nusantara.

Jika prediksi nasional dapat diketahui sebelumnya, impor beras seharusnya tidak perlu terjadi. Ketika produksi dalam negeri mencukupi, maka kebijakan impor bisa diminimalisir. Semoga!

Penulis: Triana Pujilestari, S.Si, M.SE (Fungsional Umum BPS Kota Bima)

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Dompu, Bimakini. – Guna memastikan pengunjung objek wisata di wilayah Kecamatan Pajo, taat menerapkan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 dan aman. Kapolsek Pajo, IPTU Abdul...

Peristiwa

Mataram, Bimakini. – Budaya Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sangat beragam. Mulai dari seni tari, pewayangan, alat musik tradisional hingga sistem penanggalan atau...

Hukum & Kriminal

Dompu, Bimakini. – Diduga mencuri emas saat korban berangkat shalat Idul Fitri 1442 H, seorang pemuda (21) asal Dusun Ketontembi, Desa Karamabura, Kecamatan Dompu...

Ekonomi

Dompu, Bimakini.-  Karena masih dianggap baru dan belum beredar luas di tengah-tengah masyarakat, sejumlah pedagang menolak uang kertas Rp75 ribu dari konsumen. Kenyataan itu...