Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Yuk…Mengenal  Lebih Dekat  Apa Itu Siklon Tropis

Ilustrasi

Oleh : Afriyas Ulfah,SST ( Observer dan Forcaster Iklim BMKG NTB)

Masih sangat hangat perbincangan tentang Siklon Tropis “Seroja” yang menghantam wilayah Nusa Tenggara khuusnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dampaknya bisa dirasakan hingga wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) salah satunya Bima. Hujan deras dan banjir yang dilaporkan respon cepat oleh tim BMKG Bima terlihat berdampak pada beberapa Kecamatan seperti Bolo, Madapangga, Woha dan Monta. Tercatat curah hujan di wilayah Bima yang diamati di UPT BMKG Bima dan beberapa titik pos hujan di wilayah Bima berada pada kategori menengah hingga tinggi, salah satunya pos hujan Pajo yang melaporkan curah hujan ekstrim hingga mencapai 183 mm/hari. Lalu sebenernya bagaimana kita merespon fenomena siklon tropis tersebut? Hal yang bijak bagi masyarakat adalah untuk mengetahui fenomena siklon tropis itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan dan mitigasi yang harus dilakukan.

Mengenal Siklon Tropis

Siklon tropis merupakan fenomena di perairan tropis yang bisa terjadi kapan saja sehingga sulit untuk diprediksi kecuali sudah ada bibit yang muncul di perairan tropis tersebut berupa nilai tekanan udara yang menurun drastis. Siklon Topis dibagi menjadi beberapa tahap hingga akhirnya nanti menghilang atau punah. Tahap pertama merupakan tahap pembentukan. Pada tahap ini gangguan atmosfer sudah mulai terlihat di citra satelit berupa wilayah-wilayah dengan gambaran awan-awan konvektif . Tahap kedua merupakan tahap belum matang. Pada tahapan ini hal termudah yang terlihat adalah nilai tekanan yang berada dibawah 1000 milibar. Pada kasus siklon tropis “Seroja” tekanan udara terakhir sebelum akhirnya masuk ketahap matang atau tahap siklon adalah 996 milibar hingga akhirnya dinamai dengan Bibit Siklon 99S. Selain melihat tekanan udara kita juga bisa merasakan dengan kondisi angin. Secara umum pada tahap ini kondisi angin maksimum bisa mencapai 63 km/jam. Pada Bibit Siklon 99S angin maksimum mencapai 55 km/jam. Tahap selanjutnya adalah tahap matang ditandai dengan kondisi perawanan konvektif yang lebih teratur dan sudah terlihat mata siklon. Nama siklon diberikan pada tahap ini. Tahap matang biasanya hanya bertahan 24 jam kemudian melemah.Tahap terakhir adalah tahap punah. Tahap ini pusat siklon mulai menghilang, angin mulai melemah dan tekanan udara kembali pada normalnya. Mulai dari tahap pembentukan hingga punah secara rata-rata siklon tropis memerlukan waktu 6 sampai 7 hari hingga akhirnya menghilang.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Selain dari tahapan pembentukan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar siklon tropis akhirnya bisa terbentuk dan matang yang pertama suhu muka laut yang hangat biasanya lebih dari 26.5°C., adanya perairan yang luas (contohnya pada kasus siklon tropis “Seroja” yang berada bahwa laut selatan wilayah Nusa Tenggara merupakan laut lepas yang cukup luas terhubung dengan lautan di wilayah Barat Laut Australia), kondisi atmosfer yang labil, dan adanya lapisan yang relatif basah dekat dengan permukaan.

Dampak dan Mitigasinya

Angin kencang hingga mencapai 63 km/jam, hujan lebat, gelombaang tinggi di laut, naiknya tinggi permukaan laut akibat angin merupakan salah beberapa dampak yang ditimbulkan oleh fenomena siklon tropis. Dari dampak langsung itulah muncul dampak lanjutan yang pada akhirnya dirasakan oleh masyarakat seperti pohon tumbang, banjir dan juga kerusakan rumah bahkan hingga merenggut korban jiwa. Oleh karena itu perlu adanya rangkaian mitigasi yang dilakukan dengan kerja sama BMKG sebagai sumber utama peringatan dini, BPBD sebagai penggerak, Pemda sebagai penghimbau dan masyarakat sebagai pelaku mitigasinya. Mitigasi bisa dilakukan dengan memulai sosialisasi pengertian tentang bencana siklon tropis, bagaimana pembentukannya dan dampak yang dihasilkan. Lalu kemudian menyiapakan lingkungan yang siap siaga dengan bencana hidrometeorologis salah satunya Siklon Tropis dengan pembentukkan kelompok siaga bencana atau semacamnya serta selanjutnya pembuatan jalur dan tempat evakuasi pada saat kejadian siklon tropis. Perlu juga dilakukan himbauan untuk penguatan struktur bangunan yang berada di wilayah rentan siklon tropis agar dampak (selain korban jiwa) bisa diminimalisir. (*)

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini

Oleh :  Anas Baihaqi, S.P. Sebagaimana dimaklumi bahwa Indonesia adalah negara yang terletak di kawasan garis lintang 0o atau yang biasa dikenal dengan garis...

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST (Forecaster and Observer Iklim BMKG NTB) Pada akhir bulan Maret 2021 Stasiun Klimatologi Lombok Barat NTB telah melakukan diseminasi informasi...

Opini

Oleh : Anas Baihaqi, S.P. (Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat) Jika diterjemahkan secara bebas, yang dimaksud dengan “new normal” atau kenormalan yang baru,...