Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Puasa di Polandia

Masjid di Warsawa, Polandia.

NEGARA ini tidak begitu populer. Apalagi mau disandingkan dengan Amerika. Atau Jerman tetangganya. Saya hanya mengerti dua hal dari negara ini. Satunya Pakta Warsawa, lainnya lagi terkait tokoh bernama Lech Walesa.

Yang pertama, kalau suka baca sejarah pasti tahu ini. Aliansi pertahanan negara-negara komunis-sosialis di kawasan Eropa Timur yang dibentuk 14 Mei 1855. Kedua, tentang seorang tukang listrik peraih nobel perdamaian. Setelah mendirikan Solidaritas Serikat Pekerja Independen pertama di Blok Soviet, namanya mendunia. Dia kemudian menjadi presiden Polandia.

Saya mengerti ini sedikit, ketika suka membaca pada usia muda. Sekira masih kuliah, walau saya bukan peminat sejarah. Namanya begitu populer. Bahkan dalam ingatan saya, lebih populer dari nama negaranya, Polandia.

Dalam Catatan Khas kali ini, saya sama sekali tidak ingin mengupas dua hal itu. Ini soal puasa di negara itu. Yang katanya lebih lama waktunya dari kita. Hampir 18 jam lamanya. Umat muslim di sana, baru bisa buka puasa pukul 20.15 malam.  ‘’Sahur pukul 03.00,  imsyak sekitar pukul 04.00,’’ kata Raodhatul Jannah, mahasiswa asal Bima yang sedang melanjutkan pendidikan master di negara itu.

Seperti di Indonesia, waktu juga bergeser . ‘’Makin lama jadinya sahur jam 02.30 dan imsyak pukul 03.30. Awalnya buka pukul 19.30 tetapi lama-lama jadi pukul 20.15. Puasanya sekitar 18 jam,’’ katanya kepada saya.

Bagi Anna, panggilan akrabnya, ini kali pertama dia puasa di negara lain. Pada 2009 pernah ke Amerika, tetapi bukan waktu berpuasa. Magrib saat itu, bisa lewat pukul 20.00 malam juga. Mirip dengan Polandia.

Apa suka dan dukanya? Yang paling berat ya itu, waktunya lumayan panjang. Bandingkan dengan kita. Tetapi soal makanan halal, sejauh ini tidak ada hambatan. Banyak toko yang menjual makanan yang bisa dikonsumsi umat muslim. ‘’Kalau untuk makanan halal gak ada hambatan karena sapi dan ayam yg dijual di toko Biedronka sudah ada logo (semacam) halal. Bukan logo halal sih, tapi ada kodenya gitu,’’ jelasnya.

Ada juga toko yang khusus menjual makanan Indonesia. Bahan sambal, bumbu, bahkan mie instan. Selain masak sendiri, mahasiswa Indonesia di Polandia biasanya dua kali sepekan diberikan paket berbuka oleh KBRI. ‘’Biasanya kita juga masak sendiri, di sini ada restoran Indonesia namanya Sambal Restauracya,’’ kata Anna.

Restoran milik orang Indonesia ini, kerap mengundang mahasiswa untuk berbuka juga. Gratis. ‘’Kemarin buka puasa di sini (Sambal Restauracya), gratis untuk mahasiswa,’’ jelas Mahasiswa Collegium Civitas Warsawa ini.

Apa saja menunya? Tentu Indonesia betul. Ada rendang, sate, dan makanan khas lainnya. Sambal tentu yang nomor satu dan paling dicari. Lihat saja, nama restoran pun memakai nama ‘’Sambal’’ di depannya. Pasti tidak ada lain di dunia ini menggunakan ejaan Sambal. Khas betul!

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sebagai mahasiswa, yang menjadi soal adalah, ada kesulitan beradaptasi karena kadang kelas sampai pukul 20.00 malam. Itu mestinya waktu berbuka. Tetapi karena harus kuliah, maka belum ada waktu untuk memasak. ‘’Setelah kuliah baru masak. Jadi makannya pukul 21.00,’’ jelasnya. Puasa jadi panjang sekali!

Apakah kondisi cuaca memengaruhi saat berpuasa? Menurutnya tidak, karena saat ini sudah masuk musim semi. ‘’Sekarang spring masih dingin. Suhunya 6 derajat malam hari dan lumayan hangat siang hari. Bisa 10-15 derajat siang hari,’’ katanya.

Kendati pandemi Covid-19 dan sering lock down, Anna masih bisa kumpul dengan teman-temannya. Cuma untuk buka puasa di tempat publik atau restauran, jumahnya dibatasi.  Hanya boleh dua orang saja.

Bagi warga Polandia, tidak terlalu aneh dengan wanita muslim berhijab. Bahkan dosen-dosennya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa saat awal Ramadan. Respon warga ketika melihat wanita berhijab, biasa saja setelah itu berpaling. ‘’Karena kita minoritas mungkin. Tetapi kadang ada nenek-nenek yang suka liatin lama-lama,’’ ceritanya.

Kendati demikian, secara umum masyarakat Polandia baik-baik. ‘’Pengalaman Anna, orang Poland baik-baik, tidak ada masalah,’’ tambahnya.

Menurut rencana, shalat Idul Fitri akan dilakukan secara virtual. Ini untuk kali kedua. Tahun lalu juga demikian, setelah ada pandemi Covid-19. ‘’Kita semua shalat di rumah secara virtual. Kita ikuti khutbah dan imam dari KBRI di Warsawa. Ini aneh seh, tapi mau apalagi. Belum boleh berkumpul. Tarawih juga di rumah saja,’’ tutur Anna.

Raodhatul Jannah, Mahasiswa asal Bima di Polandia.

Apakah di Polandia ada masjid? Anna hanya tahu ada satu. Setiap Jumat, selalu disediakan makanan di masjid ini. Ada dapurnya. Bahkan bisa dibawa pulang, terutama oleh mahasiswa. Nama masjid ditulis dengan tiga bahasa, Arab, Polish, Indonesia. ‘’Mungkin mereka tahu kalau Indonesia mayoritas muslim,’’ katanya.

Puasa pada saat jauh dari rumah, keluarga, bahkan jauh dari negaranya Anna selalu merindukan suasana dan makanan rumah. Kangen berkumpul dengan keluarga.

Warga Indonesia di Polandia, biasanya berkumpul di KBRI pada hari-hari tertentu. Misalnya halal bihalal usai shalat Idul Fitri, juga saat Independent Day. Mereka merayakan HUT Kemerdekan Indonesia, berbagai lomba dan pameran diadakan. Tetapi sudah saat ini semuanya dibatasi. Selain mahasiswa, tidak sedikit juga pekerja migran di negara ini.

Anna tidak punya data tentang jumlah masjid dan umat muslim di negara itu. Umat Islam sebenarnya bukan hanya warga pendatang. Ada juga warga asli Polandia yang memeluk Islam. Biasanya karena perkawinan  atau sebab lain. Data terakhir yang saya peroleh, dari 38 juta warga Polandia, sekitar 30 ribu adalah muslim. Jumlah itu hanya 0,1 persen. Penduduk muslim Polandia yang banyak dari suku Tatar. Lainnya, imigran yang masuk koloni Uni Soviet ini pada sekitar 1990.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Anna adalah salah satu mahasiswa magister yang melanjutkan studi di Polandia atas beasiswa NTB Gemilang. Dia berangkat Oktober 2020 lalu, bersama penerima beasiswa lainnya dari NTB. Dengan latar belakang Sarjana Ilmu Komunikasi, Anna mengambil magister jurusan Social Media Management and Digital Commerce di Collegium Civitas. Kampus ini ada di tengah kota Warsawa. Pusat kota dan pusat pemerintahan negara dengan warna bendera Putih Merah. Terbalik dari Indonesia!

Memilih Polandia bagi tujuan pendidikan anak-anak NTB, bukan tanpa alasan. Selain kualitas dan standar pendidikan Eropa yang masuk lima besar, biaya hidup di sana relatif murah. Polandia berada di pusat Eropa, yang dekat dengan Jerman, Ceko, Slowakia, Lituania, Belanda, dan lain-lain.

Jika tidak ada pembatasan sosial karena pandemi, Anna berencana mengelilingi Eropa. ‘’Bisa ditempuh hanya dengan kereta dari negara satu ke negara lainnya. Maunya ke Belanda pada April lalu. Sedang mekar Tulip. Tetapi tidak boleh,’’ tambah Anna.

Karena penasaran dengan Tulip yang namanya mendunia itu, Anna akhirnya membeli dan menyimpan di vas dalam kamarnya. ‘’Bagus. Ternyata dia mekar juga. Foto yang selama ini kita lihat saat dia mengatup, ada yang ungu juga,’’ katanya.

Apakah ada hambatan dalam menempuh pendidikan? ‘’Sejauh ini tidak ada. Karena kelas internasional, maka bahasa yang digunakan di kampus saat kuliah adalah Bahasa Inggris,’’ kata Anna.

Fakta ini memang bertolak belakang dengan fakta masyarakatnya yang enggan menggunakan bahasa Inggris. Warga negara yang jauhnya 14 jam terbang dari Jakarta ini, sangat keukeuh mempertahankan bahasa Polish. Walau begitu, dalam berinteraksi dengan warga lokal, masih bisa diatasi juga. Apakah ada yang ingin coba puasa 18 jam? (khairudin m.ali)

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

DI DINDING Facebook, saya tulis begini: Rakyat boleh saja bodoh, tetapi seorang pemimpin itu harusnya beda. Dia mestinya seorang yang lebih bijak, lebih adil,...

CATATAN KHAS KMA

BOTOL tanggung air mineral saya letakkan di atas aspal. Mereknya Narmada, isi 600 ml. Saya duduk menghadap selatan, menatap kubah Masjid Raya Al-Muwahiddin Kota...

CATATAN KHAS KMA

KALI ini saya  mau menulis ini: Bukit Jatiwangi (lagi). Iya ini catatan khas saya yang kedua. Tentang bukit di sisi utara Kota Bima ini....

CATATAN KHAS KMA

‘’AMBIL menu yang mana?’’ Itu ucapan Irawan Nugroho, interpreter yang mendampingi saya saat di Amerika Serikat. Saya masih ingat betul ucapan itu. Walau itu...