Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Hilang Kesadaran Sepeda Gunung

Foto yang sempat saya kiirim ke Group WA BB debelum hilang kesadaran.

BOTOL tanggung air mineral saya letakkan di atas aspal. Mereknya Narmada, isi 600 ml. Saya duduk menghadap selatan, menatap kubah Masjid Raya Al-Muwahiddin Kota Bima. Pandangan saya mulai nanar, kabur. Semuanya akhirnya gelap. Botol itu jatuh. Itu peristiwa terakhir yang saya ingat.

Pukul 08.15 Wita saya mendengar ada suara motor meraung mendaki tanjakan Bukit Jatiwangi yang ektrem itu. Saya bangun. Rasanya lemas sekali. Kacamata saya ada di sisi timur, agak masuk ke badan jalan. Saya lupa kapan saya lepas dan simpan di situ. Helm sepeda masih saya pakai. Badan saya basah penuh peluh.  Saya haus sekali. Cari air mineral tadi, tidak ada. Saya berusaha duduk dengan sedikit tenaga yang mulai pulih.

Saya sempat kirim foto sebelum semuanya gelap itu ke group WhatsApp (WA) Bima Berkhidtmat (BB). Ternyata itu pukul 08.01 Wita. Saya ingat itu hanya beberapa saat sebelum saya kehilangan kesadaran.  Sekarang pukul 08.15 Wita? Artinya cukup lama saya berbaring tanpa sadar. Di aspal yang mulai hangat diterpa sinar matahari pagi.  Hanya seorang diri. Saya pingsan begitu lama. Ini kejadian pertama saya alami.

Pagi itu, Sabtu, 5 Juni 2021. Baru tiga hari usia saya masuk angka 56 tahun. Tidak ada niat gowes sama sekali. Saat buka group WA, salah satu anggota group BB memosting foto gowesnya. Saya memanggilnya Aji Reso. Namanya H Rashid Harman. Usianya sedikit di atas saya. Selain teman diskusi, pemilik Apotek Prima Farma ini juga adalah sahabat. Kami sudah lama gowes bareng. Belakangan, komunitas gowes itu agak kurang kompak. Gowesnya pun, akhirnya sendiri-sendiri.

Saya tergoda. Belum sempat sarapan, langsung putar sepeda ke arah utara. Rute favorit saya ya tanjakan Jatiwangi itu. Seperti sepekan sebelumnya. Bahkan saat itu dua hari berturut-turut. Jumat dan Sabtu. Alasannya sederhana saja dengan tanjakan ekstrem itu. Satunya pendek tetapi dapat keringat cepat. Keduanya,  ya saya bisa istirahat di pondok di atas bukit sambil siram tanaman dan silaturahmi dengan warga.

Di kantong celana saya ada uang Rp42 ribu. Sisa membeli air galon Cleo di kios tetangga. Saya beli nasi empat bungkus. Rencananya, saya ingin sarapan dengan Mo’i, warga Bukit jatiwangi yang tinggal di sisi timur tanjakan itu. Pekan lalu saya jumpa beliau, ngobrol banyak hal. Banyak ilmu dan pengalaman hidup yang ditularkan. Kangen juga. Kali ini saya ingin sarapan bersama di pondoknya.  Jadi dari rumah, saya belum sarapan. Wajah Mo’i terbayang. Akan terlihat giginya yang mulai jarang itu saat antusias bercerita.

Tas plastik kresek nasi itu sempat mengganggu saat saya mulai menanjak. Saya geser dan gantung ke tengah. Tanpa hambatan, pondok Mo’i pun mulai terlihat. Saya tidak akan memaksakan diri terus putar sampai pintu kebun Mo’i itu. Pekan lalu pun begitu. Saya istirahat di pohon asam setelah tikungan kedua.

 

Tanjakan jalan Bukit Jatiwangi.

Tetapi kali ini beda rasanya. Saya merasa tarikan napas saya kurang teratur. Saya terus membaca Irstigfar sambil membelai dada saya. Sesekali saya ajak bicara dengan organ tubuh saya agar kuat. Saya sempat duduk di bawah pohon asam. Saya berpikir untuk mengirim foto ke group WA BB itu. Jangan-jangan bakal terjadi apa-apa dengan saya. Biarlah foto itu jadi kenangan. Saya kembali ke bahu jalan dan duduk di situ. Kali ini duduknya di aspal. Tidak seperti di bawah pohon asam, saya duduk di batu. Saya selonjorkan kaki.

Yang mengagetkan, ketika saya duduk di aspal itu, pandangan saya mulai nanar, kabur, akhirnya gelap. Hal terakhir yang saya ingat adalah saat meletakkan botol air mineral tadi. Saya hanya sempat beberapa menguap karena terasa sangat ngantuk. Selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi. Sesaat saya hanya sempat melihat botol itu jatuh.

Suara motor menyadarkan saya. Itu pasti bukan motor pertama yang lewat. Apalagi itu Sabtu, akhir pekan. Jalan itu cukup ramai. Saya juga tahu hari itu jadwal olah raga Sahabat HMQ di Bukit Jaiwangi. Saya tahu jadwal mereka. Mereka pasti belum balik setelah naik bukit usai shalat subuh. Biasanya pukul 09.00 Wita baru bubar. Orang yang lewat mungkin berpikir saya hanya istirahat. Tidak ada yang membangunkan atau membantu.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Perkiraan saya lebih 15 menit lamanya. Itu lama sekali. Kalau antre di bank, Anda pasti mulai tidak sabar. Apalagi kalau antrenya di ATM, Anda pasti sudah marah-marah. Antre 60 detik di lampu lalulintas saja, ada yang tidak sabar, kemudian terobos lampu merah.

Saya berusaha memulihkan tenaga. Yang saya cari pertama adalah botol air tadi. Ternyata tidak ada lagi. Saya pikir pasti sudah meluncur ikut jalan yang menurun itu. Dengan tenaga yang ada, saya mencarinya. Tidak berhasil walau sudah jauh ke bawah.

Saya memutuskan untuk berusaha menuju pondokan Mo’i. Saya ingin sarapan dengan dengan Mo’i. Pasti ada air minum di sana. Dengan susah payah saya terus berusaha. Saya panggil-panggil tidak ada sahutan. Pondoknya terkunci. Saya putuskan sarapan sendiri. Untung ada dua anak kucing yang menemani. Tanpa air minum.

 

Mo’i, warga Bukit Jatiwangi.

Saya tidak jadi memberikan nasi yang saya bawa kepada Mo’i. Saya keluar dari pondok dan berjalan pelan ke arah bawah. Saya belum berani naik sepeda. Saya papasan dengan warga Bukit Jatiwangi dan menyerahkan tiga bungkus nasi yang saya bawa itu. Saya terus menuntun sepeda di jalan menurun dengan kerongkongan kering.

Saat turun itu, saya berusaha lagi mencari botol air tadi di kiri kanan jalan. Berhasil! Senangnya luar biasa. Ada di sisi kiri jalan, di dalam got. Saking kerasnya benturan dengan dinding tebing itu, botol penyok. Seperti dilempar. Alhamdulillah. Bersyukur karena air tidak tumpah. Saya baru berani naik sepeda pelan-pelan setelah dekat dengan jalan raya di bawah. Masih ada tenaga hingga rumah.  Saya istirahat dan tertidur hingga azan shalat dzuhur dikumandangkan dari masjid Al-Hidayah dekat rumah.

Sebenarnya, tanjakan Jatiwangi itu sudah biasa saya lewati. Bahkan tanpa istirahat sama sekali. Bukan hanya sampai puncak, bahkan sampai pondok saya yang jaraknya masih 400 meter dari puncak pertama. Bahkan pernah terus mengayuh hingga ujung jalan aspal. Jaraknya lebih dari dua kilometer. Itu juga terus menanjak, walau tidak seekstrem tanjakan pertama. Masih ditambah lagi dengan jalan kaki bareng Sahabat HMQ beberapa putaran.  Itu kalau kondisinya prima dan tentu saja sudah sarapan.

Bukan hanya sekali dua kali. Tetapi sudah puluhan kali. Saya sadar, seiring bertambahnya usia, tentu tidak bisa lagi dipaksakan. H Muhammad Qurais H Abidin (HMQ), yang mantan Wali Kota Bima dua periode itu, pernah menasihati saya agar ingat usia. Jangan dipaksakan. ‘’Kita olahraga jalan kaki saja di bukit ini,’’ katanya suatu waktu.

Sahabat HMQ punya agenda rutin tiap pekan.  Usai shalat subuh di masjid Terapung Kota Bima, mereka langsung menuju Bukit Jatiwangi. Empat kali sepekan. Jamaahnya makin ramai dan antusias.  Seperti kata HMQ, ada tiga hal yang harus dilakukan sendiri oleh setiap orang dan tidak bisa diwakilkan. Shalat, makan, dan olahraga.

Saya sebenarnya sudah berjanji pada diri saya untuk tidak lagi gowes ke Bukit atiwangi itu. Selain karena usia, rem belakang sepeda saya sudah tidak bisa berfungsi baik. Saya tidak paham servis rem hidrolik itu setelah dealer sepeda United dan Polygon tutup. Biasanya, dengan MTB United Epsilon 3.00, saya lebih percaya diri ngebut saat turunan karena hebatnya rem hidrolik itu. Untuk turunan pekan lalu, saya hanya mengandalkan rem depan. Saya was-was juga.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sepeda ini memang lebih cocok untuk downhill. Bukan untuk menanjak. Berat. Ukuran bannya lebih besar, 27,5 X 25,0. Punya sistem suspensi dobel. Agar tidak terlampau berat saat tanjakan, suspensi belakang bisa dikunci. Suspensi depan juga bisa diatur sesuai kebutuhan. Kadang, saat menanjak saya lupa kunci suspensi, sehingga terasa sangat berat sekali. Bagi saya, sepeda ini cukup mahal. Makanya saya tidak beli sendiri. Harganya lebih sekitar Rp12 jutaan. Ini endors dari United.

Saya belum paham mengapa saya sampai kehilangan kesadaran. Apakah karena belum sarapan? Ini juga tergantung kebiasaan. Kawan-kawan saya di komunitas, malah ada yang sarapannya usai gowes.  Sarapan ramai-ramai. Biasanya memang lebih lahap, lebih banyak, lebih nikmat. Ketua Konstanta Bima Club (KBC), dr Irfan Zubaidi, memilih lontong dan soto kambing Madura di pasar lama. Ada langganan di situ. Bisa masuk dua porsi kalau sarapan usai gowes. Tetapi ada juga yang tidak makan daging seperti H Rashid. Dia lebih memilih makanan seperti pecal. Apakah Anda biasa sarapan sebelum beraktivitas? (khairudin m.ali)

 

 

Share
  • 116
    Shares
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

DI DINDING Facebook, saya tulis begini: Rakyat boleh saja bodoh, tetapi seorang pemimpin itu harusnya beda. Dia mestinya seorang yang lebih bijak, lebih adil,...

CATATAN KHAS KMA

KALI ini saya  mau menulis ini: Bukit Jatiwangi (lagi). Iya ini catatan khas saya yang kedua. Tentang bukit di sisi utara Kota Bima ini....

CATATAN KHAS KMA

NEGARA ini tidak begitu populer. Apalagi mau disandingkan dengan Amerika. Atau Jerman tetangganya. Saya hanya mengerti dua hal dari negara ini. Satunya Pakta Warsawa,...

CATATAN KHAS KMA

‘’AMBIL menu yang mana?’’ Itu ucapan Irawan Nugroho, interpreter yang mendampingi saya saat di Amerika Serikat. Saya masih ingat betul ucapan itu. Walau itu...