Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Konsep Zona Musim Dalam Penentuan Masuknya Awal Musim Hujan dan Kemarau

Oleh :  Anas Baihaqi, S.P.

Sebagaimana dimaklumi bahwa Indonesia adalah negara yang terletak di kawasan garis lintang 0o atau yang biasa dikenal dengan garis khatulistiwa. Oleh karena itu, Indonesia termasuk salah satu negara yang mendapatkan jumlah penyinaran matahari tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang terletak di lintang menengah dan lintang tinggi, seperti : Kanada, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Chile, Argentina, dan negara-negara Eropa. Namun tingginya penyinaran matahari yang diterima Indonesia ini tidak serta merta menjadikan Indonesia mengalami musim kemarau / musim panas sepanjang tahun. Pada kenyataannya, letak geografis Indonesia yang unik yaitu terletak di antara 2 benua dan 2 samudera, menjadikan Indonesia memiliki 2 musim, yaitu musim hujan (MH) dan musim kemarau (MK).

Walaupun menurut masyarakat awam, MH dan MK sudah memiliki pola pergantian yang dapat dirasakan dan diperkirakan, namun penentuan kapan masuknya awal MH atau MK secara lebih mendetil adalah hal yang sangat penting untuk dicermati dan dilakukan. Karena ini sangat berkaitan dengan perencanaan kegiatan di berbagai sektor seperti pembangunan, pariwisata, transportasi, pertanian, dan sebagainya. Apalagi karakteristik setiap daerah di Indonesia sangat beragam dan berbeda. Hal ini membuat masuknya awal MH atau MK tidak merata dan tidak mungkin terjadi secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Inilah yang menjadi permasalahan utama mengapa memprediksi kapan masuknya awal musim tidak semudah yang dibayangkan.

Untuk itu dibuatlah konsep Zona Musim (ZOM). Konsep ZOM ini diinisiasi dengan tujuan untuk menyederhanakan dan mempermudah proses analisis dan prediksi kapan akan masuknya awal MH dan MK. Konsep ini sekaligus juga diterapkan untuk mempermudah masyarakat di dalam memahami produk Informasi Prediksi MH dan MK yang dikeluarkan oleh BMKG.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Teknis pengaplikasiannya adalah dengan cara mengelompokkan daerah-daerah yang memiliki karakteristik musim yang sama menjadi 1 ZOM. Daerah-daerah yang berdekatan yang berada di dalam 1 wilayah ZOM, dianalisis serta diasumsikan mengalami penurunan dan kenaikan curah hujan dari ambang batas MH dan MK, yang terjadi secara serentak di Dasarian (periode 10 harian) yang sama. Sehingga masuknya awal MH dan MK bagi daerah-daerah yang berada di dalam 1 wilayah ZOM pun sama.

Pewilayahan ZOM yang termutakhir adalah dengan menggunakan periode curah hujan rata-rata tahun 1981 – 2010. Dimana berdasarkan periode ini, Provinsi NTB terbagi menjadi 21 wilayah ZOM dengan 10 ZOM di Pulau Lombok dan 11 ZOM di Pulau Sumbawa. Masing-masing ZOM dinamai dengan urutan penomoran yang telah diurutkan oleh BMKG dari Provinsi Aceh hingga Papua. Nama-nama dari ZOM di Provinsi NTB adalah ZOM 220 yang meliputi Sekotong dan Lembar, hingga ZOM 240 yang meliputi Kota Bima, Ambalawi, Sape dan sekitarnya. Sehingga total jumlah ZOM di Provinsi NTB tepat berjumlah 21 ZOM.

Pewilayahan ZOM harus selalu dimutakhirkan setiap 10 tahun sekali. Memasuki tahun 2021 ini, mengingat data curah hujan tahun 2020 telah lengkap, maka ZOM Provinsi NTB akan segera dimutakhirkan dengan berpedoman pada periode data tahun 1991 – 2020, beranjak dari periode tahun 1981 – 2010 yang sebelumnya digunakan. Pola wilayah ZOM dengan menggunakan periode tahun yang baru sangat mungkin berbeda dengan pola ZOM yang dibuat berdasarkan pedoman periode sebelumnya. Hal ini ditengarai sebagai sebab dari variabilitas iklim atau perubahan iklim yang dialami selama tahun-tahun berlalu. Jumlah ZOM bisa saja bertambah sebagai konsekuensi dari semakin bervariasinya keadaan iklim dari wilayah-wilayah yang awalnya berada di dalam ZOM yang sama, bisa berkurang karena variasi keadaan iklim menurun, atau bisa saja tetap namun polanya yang berubah. Entah bagaimanapun bentuknya, hasilnya tergantung dari hasil analisis rekan-rekan BMKG yang akan segera dilaksanakan. (*)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Penulis adalah Observer BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat.

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST (Forecaster and Observer Iklim BMKG NTB) Pada akhir bulan Maret 2021 Stasiun Klimatologi Lombok Barat NTB telah melakukan diseminasi informasi...

Opini

Oleh : Afriyas Ulfah,SST ( Observer dan Forcaster Iklim BMKG NTB) Masih sangat hangat perbincangan tentang Siklon Tropis “Seroja” yang menghantam wilayah Nusa Tenggara...

Opini

Oleh : Anas Baihaqi, S.P. (Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat) Jika diterjemahkan secara bebas, yang dimaksud dengan “new normal” atau kenormalan yang baru,...