Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Dialog Kecil dengan KH Ramli Ahmad

 

 

KH Ramli Ahmad, M.A.P (foto: ist)

‘’SAYA kadang berpikir, orang Amerika itu lebih islami dari kita umat Islam,’’ kata saya.

‘’Kok bisa?,’’ katanya singkat dengan ekspresi kaget.

Kata saya: bukankah kebersihan sebagian dari iman?  ‘’Iya betul sekali,’’ sergahnya.

Maka dari mulutnya, keluarlah hadist riwayat Tirmizi ini: Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.

Itu diucapkan sangat lancar dan fasih. Saya hanya menulis terjemahannya. Tentu saja fasih, karena kawan ngobrol saya itu adalah seorang ulama besar yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Barat: KH Ramli Ahmad, M.A.P.

Obrolan itu terjadi saat kami sama-sama menempuh studi Magister Ilmu Administrasi di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya Malang pada 2007 lalu. Ketika itu, saya baru pulang dari Amerika Serikat. Saya menghadiri kegiatan International Visitor Leadership Program (IVLP). Lebih kurang sebulan saya amati kehidupan masyarakat di sana. Bukan hanya di satu kota, tetapi di banyak kota. Itu hanya saya sampaikan kepada H Ramli Ahmad, pengasuh Pondok Pesantren Al-Husainy dan pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Alquran (STIQ) Kota Bima itu.

Fakta yang saya amati, kehidupan masyarakat di sana memang lebih bersih, lebih teratur, lebih disiplin. Bandingkan dengan kita. Ini bukan soal akidah. Bukankah pernah ada studi tentang negara paling islami di dunia? Jangan kaget: hasil studi seorang kelahiran Iran, Hossein Askari dan koleganya Scheherazade S  Rehman, menyebutkan bukan negara Islam, tetapi Irlandia sebagai juaranya. Itu tahun 2014.

Pada tahun 2018, bergeser. Menurut riset mereka, dominasi Irlandia dikalahkan Selandia Baru. Askari dan Rehman adalah seorang guru besar Politik dan Bisnis International di Universitas George Washington, Amerika.

Uniknya, negara Islam sebagian besar berada di posisi di atas 100. Hanya Malaysia dan Indonesia yang menempati posisi 47 dan 64.  ‘’Ini harus menjadi bahan introspeksi bersama,’’ kata mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif. Maarif Institut milikya pun, pernah meneliti hal serupa untuk kota-kota di Indonesia. Hasilnya, Denpasar malah menjadi kota dengan Indeks Kota Islami (IKI) tertinggi.

Mendengar argumentasi saya soal indikator itu, H Ramli membenarkan juga. ‘’Benar juga ya,’’ katanya kepada saya.

Sejak menerbitkan Harian BiMEKS 21 tahun silam, kami kerap berinteraksi dalam banyak kegiatan. Pernah sama-sama sebagai panitia MTQ Kota Bima, bahkan pernah sama-sama ikut menyiarkan secara langsung MTQ dengan lembaga penyiaran kami. Al-Husainy memiliki radio siaran. Tetapi sayang, radio itu tidak bertahan lama. H Ramli Ahmad juga kerap mengisi rubrik keagamaan di media kami.

H Ramli Ahmad adalah qori internasional yang menjadi guru ribuan anak-anak yang belajar Alquran. Muridnya bukan hanya warga Kota Bima, tetapi datang dari aneka penjuru.

Kini, tokoh panutan, teladan yang rendah hati itu, telah mendahului kita semua. Meninggal pada usia 67 tahun, H Ramli Ahmad meninggalkan warisan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Di tangannya lahir banyak penghafal Alquran. H Ramli adalah menantu dan menjadi penerus cita-cita ulama besar Bima, TGH Abubakar Husain. Selamat jalan Tuan Guru. Doa kami menyertai. (khairudin m. ali)

 

 

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA cukup beruntung. Dua hari, sejak Ahad, 29 Agustus 2021, hingga keesokan harinya, saya bisa jumpa dan diskusi dengan dua tokoh ini: Dr Abdul...

CATATAN KHAS KMA

SAYA tidak tahu, mau mulai menulis ini dari mana. Entah! Saya bilang pada Muzakir, bos Garda Asakota itu, bahwa saya bingung. Dan ini bukan...

CATATAN KHAS KMA

  SAYA sungguh, bisa merasakan ini: Bahagia. Tentu, lega sekaligus. Bahagia itu, setelah membaca postingan Direktur RSUD Kota Bima, dr Agus Dwi Pitono di...