Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

‘’Sudah Vaksin, Siap Cari Jodoh’’

Penulis saat divaksin

SEORANG pria berdiri di photo both sisi selatan Kantor Lurah Penatoi, Kota Bima. ‘’Siap, senyum,’’ kata pria lainnya yang sedang bersiap untuk ambil foto dengan handphone android. ‘’Klik’’

Jadilah foto itu, sambil memegang tulisan: ya seperti di judul. ‘’Sudah Vaksin, siap cari jodoh.’’ Keduanya tertawa bersama. Mereka hanya iseng, karena keduanya sudah punya jodoh.

Itulah suasana vaksinasi di Kelurahan Penatoi, Kota Bima, Rabu pagi. Saya pun ikutan hadir di situ. Saya juga ingin divaksin. Seperti warga Indonesia lainnya. Ini salah satu ikhtiar untuk ‘memenangkan’ pertarungan melawan pandemi Covid-19.

Saya pun ikutan foto. Saya minta bantuan seorang anggota Babinkamtibmas. Tetapi saya tidak berpose dengan tulisan cari jodoh itu. Ini: Mo.. Bebas Corona Vaksin Gaes. Dan satu lagi: Ayo… Kita Vaksin.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Berpose di situ, sebenarnya salah satu trik untuk mengurangi kecemasan saat menunggu dimulainya vaksin. Saya yang hadir sangat-sangat awal, bahkan saat petugas belum datang. Saya tiba pukul 07.32 Wita. Baru dua ibu yang duduk di situ. Saat registrasi pun, belum ada petugas yang datang. Kami berinisiatif meng-antre-kan kartu tanda penduduk (KTP). Jadilah saya yang paling bawah. Saat dipanggil, tentu saja saya peserta pertama yang divaksin. Itu pukul 08.45 Wita.

Saya masuk ruangan yang sudah disediakan. Ada tiga petugas medis di ruangan itu. Tiga-tiganya wanita. Cantik-cantik, pakai masker semua. Saya hanya melihat matanya. Petugas pertama, melakukan tes tensi alias mengukur tekanan darah. Normal, 120. Petugas kedua, sedikit wawancara sambil mengisi formulir. Hanya centang-centang. Supaya cepat. Memastikan kondisi fisik kita bisa prima untuk menerima vaksin. Tidak ada riwayat penyakit berat. Misalnya jantung, sesak napas, dan lain-lain. Harus sudah sarapan pula. Itu juga ditanya, karena wajib.

Berlangsung sangat cepat. Nah, petugas ke tiga yang melakukan vaksin. ‘’Boleh foto gak?’’ tanya saya. ‘’Mari pak, saya yang foto. Jempol pak,’’ katanya. Klik, klik, klik. Tiga foto jadi. Tentu foto itu diambil saat jarum suntik menancap di lengan saya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Bagaimana rasanya? Sejak kecil saya tidak pernah takut sama jarum suntik ini. Apalagi sudah tua. Biasa saja. Yang saya takutkan hanya satu, efek vaksin. Banyak beredar di media sasial yang kadang bikin takut.  Ternyata tidak terbukti.

 

’Sudah Vaksin, Siap Cari Jodoh’’

Bagi masyarakat Indonesia, vaksin ini sifatnya wajib. Ada aturannya. Karena ini pandemi, Presiden mengeluarkan Perpres Nomor 99 tahun 2020. Masih kurang tegas, ditambahkan lagi sanksi pada Perpres Perubahan Nomor 14 Tahun 2021. Apa yang berubah? Salah satunya adalah mewajibkan bagi setiap warga negara yang sudah ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin. Ini diatur pada tambahan Pasal 13A. Pada ayat (4) tegas sekali. Jika tidak melaksanakan vaksin, maka akan dikenakan sanksi berupa: a. penundaan atau penghentian pemberian jaminan sosial atau bantuan sosial, b. penundaan atau penghentian layanan administrasi pemerintahan, dan/atau c. denda.

Perpres ini represif dan banyak dipersoalkan. Tetapi tujuannya pasti baik. Agar semua warga negara punya tanggungjawab bersama memerangi pandemi ini. Ya salah satu senjatanya, vaksin itu. Kita dibekali dengan senjata yang memungkinkan tubuh mengenali Covid-19 untuk diserang oleh antibodi. Itulah hakekat dan cara kerja vaksin.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Saya pribadi hadir pagi-pagi ke tempat vaksin, tentu saja bukan karena sanksi yang diatur Perpres itu. Murni karena rasa tanggungjawab kepada keluarga dan orang-orang dekat saya. Saya sadar, sebagai kepala keluarga, tentu paling banyak berinteraksi di luar rumah. Saya ingin berikhtiar untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga di tengah pandemi ini. Itu saja!

Bagaimana efeknya? Banyak cerita horor juga soal ini. Saya sengaja menunda menulis Catatan Khas ini, paling tidak 24 jam, untuk menunggu reaksi vaksin itu. Ternyata, tidak ada efek apa-apa. Saya baik-baik saja. Saya tidak merasakan perubahan signifikan kondisi kesehatan saya, jika dibandingkan dengan sebelum vaksin. Walau petugas mengingatkan ada efek mengantuk, ingin makan terus, atau bahkan bisa menimbulkan demam. Tetapi ini tidak saya alami berlebihan.

Sekitar pukul 12.00 Wita, artinya kurang lebih tiga jam setelah menerima vaksin, saya mengantuk. Saya pun tidur sesuai saran, dan baru bangun sekitar pukul 13.33 Wita. Setelah itu, biasa saja. Makan sempat empat kali. Usai shalat Isya, saya pun tidur. Bukan karena mengantuk, tetapi ingin menjaga kebugaran saja. Pagi  saat saya menulis catatan ini, kondisi saya baik-baik saja. Biasa saja.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

 

Warga yang registrasi sebelum divaksin.

Reaksi vaksin memang tidak sama pada setiap orang. Istri kawan saya katanya sempat tidak enak badan beberapa jam setelah divaksin. Seorang kawan lainnya, mengaku juga begitu, bahkan sempat demam. Bahkan pada vaksin ke dua, dia sakit seperti kena penyakit thypus. Bawaannya lemas. Lainnya, kawan wartawan mengaku selera makannya tinggi sekali. Ingin makan enak dan tidur terus. Bawaannya nagntuk. Badannya tidak lemas, apalagi panas.

Reaksi vaksin seperti itu ya biasa saja. Waktu kita masih kecil juga begitu. Anak-anak kita juga yang divaksin, sama saja. Kadang sampai demam. Vaksin itu menyuntikkan bibit penyakit yang dilemahkan. Tujuannya, agar antibodi mengenali musuh yang masuk. Jadi cepat diserang dengan cara yang tepat. Tidak berlama-lama bingung dan tidak mengenali musuh. Yang bahaya, musuh sudah telanjur banyak, antibodi baru bekerja, kita bisa kalah.

Kapan Anda divaksin. Ayo dukung gerakan bersama memerangi Covid-19. Tetap juga menjalankan protokol kesehatan: Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan. Jangan lupa jalankan pola hidup sehat. Kurangi begadang kalau tidak perlu. Kata Rhoma Irama: Jangan begadang kalau tidak ada perlunya. Apakah nonton Piala Eropa itu sesuatu yang perlu? Saya tidak. (khairudin m.ali)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

 

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

DIBERHENTIKAN oleh Lombok Post pada Juli 1999, telah mengubah arah perjalanan hidup saya. Ini menjadi hari-hari di mana saya akhirnya banyak sekali menghabiskan waktu...

CATATAN KHAS KMA

    ‘’SAYA kadang berpikir, orang Amerika itu lebih islami dari kita umat Islam,’’ kata saya.Iklan. Geser untuk terus membaca. ‘’Kok bisa?,’’ katanya singkat...

CATATAN KHAS KMA

SABTU pagi 19 Januari 2020, handphone (HP) saya bergetar. Saat itu saya sedang di Bukit Jatiwangi. Gowes pagi sebelum bergabung dengan Sahabat HMQ yang...