Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Selamat Jalan Heri Suparman (2)

Foto ini saya ambil ketika jumpa almarhum Heri Suparman di Sumbawa, 12 September 2018.

DIBERHENTIKAN oleh Lombok Post pada Juli 1999, telah mengubah arah perjalanan hidup saya. Ini menjadi hari-hari di mana saya akhirnya banyak sekali menghabiskan waktu dengan Heri Suparman. Berbicara profesi, juga masa depan profesi ini.

Tidak mudah bagi saya mendapatkan pekerjaan baru. Sempat ditawari membangun media oleh Ali Bin Dahlan yang kelak menjadi Bupati Lombok Timur. Sudah ada nama; Duta Selaparang. Saya akhirnya bergabung dengan Kilas yang digagas Muslimin Hamzah. Heri juga ikut. Di sinilah kami mulai mendidik beberapa wartawan muda, termasuk Condo.

Visi kami beda di Kilas. Kami keluar. Apa selanjutnya. Telanjur mengalir jiwa jurnalistik dalam jiwa kami. Akhirnya muncul ide itu. Ya membangun media di Sumbawa, maka kami berempat, Heri Suparman, Agus Hakim, Antony Mithan, pun memulainya. Tidak mudah apalagi tanpa modal.

Hari-hari saya makin kerap bersama Heri. Saya selalu memperhatikan kebiasaannya, setiap hari, setiap bangun tidur. Pasti sampai saat ini. Yaitu menulis di buku harian. Kegiatan seharian kemarin, dituangkannya dalam buku hariannya. Jumlahnya tentu tidak sedikit. Saya lupa tanya sejak kapan kebiasaan itu. Tetapi di kost Heri, buku harian itu tertata rapi. Banyak!

Itu harta karunnya. Karena Heri tidak punya apa-apa. Heri hanya punya Vespa dan sahabat. Vespa itu pasti butut, mana ada Vespa yang baru. Suaranya khas. Belakangan motor jenis ini menjadi langka dan hanya dipunya kolektor dan penyuka Vespa saja. Sekarang Vespa itu sudah tua sekali.

Awal membangun SumbawaEkspres, saya bersama Heri kerap tidur bersama, kemana-mana selalu bersama. Kadang tidur di penginapan, juga di rumah ibu, BTN Pepabri di belakang Kompi B Yonif 742, Karang Dima Labuhan Badas.  Kadang kami kunjungi keluarga Samili yang ada di Sumbawa, selain diskusi dengan banyak komponen.

Di Sumbawa, kami banyak terlibat diskusi-diskusi ini. Banyak topiknya, juga dengan banyak kalangan. Bahkan Hatta Taliwang sempat  ‘kesal’ sama saya dan Heri. Saat berkunjung ke Sumbawa, tidak kami jumpai. Hatta Taliwang menginap di Tambora Hotel. Saat itu sedang menjadi anggota DPR RI utusan Partai Amanat Nasional (PAN). Tokoh nasional yang populer. Anak angkat Jenderela AH Nasution. Kami berdua akhirnya dihubungi. ‘’Kok saya dicuekin. Saya ini tokoh nasional,’’ kata Hatta Taliwang sama saya dan Heri. Kami memang sedang menggoda senior itu.

Di Sumbawa, kami mendidik sejumlah wartawan muda. Yang kelak juga menjadi hebat. Ada Yunus, Anwar Arman, Akhyar H M Nur, Arief ‘Bedel’ Sahidu, Jamhur, dan lain-lain. Wadah media kecil itu, melahirkan banyak ide besar. Kami provokasi lahirnya Kabupaten Sumbawa Barat, juga ide-ide Provinsi Pulau Sumbawa. Anak-anak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kerap kami ajak diskusi. Para tokoh senior seperti Asaat Abdullah dan anggota DPRD aktif saat itu, menjadi kawan diskusi yang nyaman. Seperti juga Muhammad Zabir, anggota DPRD dari PAN yang kelak ternyata menjadi Wakil Bupati. Juga Husni Djibril, yang kelak juga menjadi Bupati Sumbawa.

Saya ingat ada Arahman Alamudi, anggota DPRD dari PPP. Rumahnya juga saya tahu. Kami banyak diskusi dengan partai yang sejalan dengan asprasi rakyat saat itu.

Media ini menjadi semacam semangat baru perubahan. Ya termasuk soal aksi yang melahirkan buku Bandit Politik Naik Tahta itu. Heri, boleh juga saya dan Agus Halim, menjadi aktor penting dalam semangat perubahan itu.

Heri sangat sederhana. Tidak tergoda pada materi apalagi yang datangnya tidak jelas. Jangankan yang haram, yang subhat saja dihindari. Heri lebih nyaman meminta uang rokok pada sahabatnya. Punya sebungkus rokok, bagi Heri seperti sudah memiliki dunia dan isinya.

Heri sosok wartawan yang menurut saya, sangat berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Tidak punya target apa pun, apalagi terkait materi.

Sebagai media satu-satunya di Sumbawa saat itu, tentu bukan tanpa godaan. Heri sebagai pemimpin redaksi, pasti berada dalam godaan itu. Apalagi sedang ada Pemilihan Kepala Daerah. Ada uang yang berseliweran di sana. Tetapi kami memilih susah-susah dengan Dr Sanapiah Faesal dan kawan-kawan.

Kami memilih bersama rakyat kebanyakan. Menyuarakan kepentingan mereka. Karena merekalah sebenarnya kami terbit. Bukan untuk membela kepentingan sekelompok kecil orang.

Heri yang lahir 13 Oktober 1959 itu, banyak terlibat pada lahirnya media di NTB. Banyak sejarah pers, dia ada di dalamnya. Sebut saja Suara Nusa yang kini menjadi Lombok Post itu. Juga Kilas, dan Suara NTB. Dia melahirkan banyak jejak baik di media-media itu. Wartawan muda banyak tumbuh dari pria disiplin itu.

Berbicara denganmu sehari sebelum meninggalkan kami semua, saya hanya memberikan dukungan semangat. Rupanya telepon masuk pada Sabtu sore pukul 17.12 itu ingin mengabarkan bahwa engkau sedang drop.

Itu baru terjawab setelah Yunus menelepon saya kemarin. Ternyata, Yunus pun mendapat telepon yang sama. Tetapi kami berdua sama kompaknya tidak mengangkat telepon itu. Kami sama-sama tidak mendengar nada dering. Kami berdua pun, sama tidak menelepon kembali, walau sama-sama sempat punya feeling kurang baik tentang dirimu.

Selamat jalan pak Heri Suparman. Saya bersaksi engkau orang baik. Pandai menjaga silaturahmi, menjaga perasaan kawan. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan khilafmu, menerima dan melipatgandakan seluruh amal-amal baikmu, aamiiin.  (khairudin m.ali/habis)

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA cukup beruntung. Dua hari, sejak Ahad, 29 Agustus 2021, hingga keesokan harinya, saya bisa jumpa dan diskusi dengan dua tokoh ini: Dr Abdul...

CATATAN KHAS KMA

PERNAH  dengar La One? Sebuah film tentang joki cilik yang sukses. Belum tayang, tetapi banyak yang penasaran. Tetapi ini mengenai La Hanu. Tidak ada...

CATATAN KHAS KMA

HARI ini begitu heboh. Heboh soal Perumda Bima Aneka itu. Sebetulnya bukan hanya hari ini saja. Kemarin-kemarin juga. Juga hari-hari sebelumnya. Selalu saja heboh....