Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

UGD Kosong!

 

Tempat tidur pasien RSUD Kota Bima yang kosong. (foto FB dr Agus)

SAYA sungguh, bisa merasakan ini: Bahagia. Tentu, lega sekaligus. Bahagia itu, setelah membaca postingan Direktur RSUD Kota Bima, dr Agus Dwi Pitono di akun media sosialnya. Itu dua hari lalu.

‘’Alhamdulillah.. Semoga ini akhir… UGD kami sudah kosong hari ini,’’ tulis dr Agus. Ada dua foto yang diposting. Satu, suasana tempat tidur pasien yang memang sudah kosong. Lainnya, foto dua tenaga kesehatan (nakes) yang terduduk keletihan dengan pakaian APD lengkap.

Mereka pastilah nakes yang menangani pasien Covid-19. Lelah mereka tentu lebih dari lelahnya kita yang masih bisa santai dengan keluarga di rumah. Kita hanya diminta laksanakan protokol kesehatan, untuk melindungi keluarga.

Bukan hanya itu, dr Agus juga memosting video suasana  di UGD yang kosong itu. Durasinya, 0,45 detik. Video TikTok seorang nakes wanita, diiringi lagu ‘’Berkibarlah Bendera Negeriku’’ ciptaan Gombloh. Di video ittu, ada tulisan dengan latar merah dan putih:

Salah satu kado terindah

di saat HUT RI ke 76 th

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Pasien Covid-19 di RS menurun drastis

Dan banyak juga yang lulus ISOMAN

Kebahagiaan kami adalah bed pasien ini kosong

Tabung oksigen tidak jadi rebutan di mana2

Lelah dan panasnya APD kami…

Tak terasa lagi melihat pasien sehat dan semangat positif vibesnya

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Semoga tidak ada lagi berita kematian

Dan tangisan di sini karena COVID-19

Terima kasih untuk semua rakyat Indonesia

Kita pasti bisa hidup normal kembali.

Saya lupa tanya soal video ini kepada dr Agus. ‘’Selamat pagi… Semoga menjadi kado terindah di HUT ke76 Kemerdekaan RI..’’ tulis dr Agus.

TikTok nakes, UGD kosong. (foto: tangkap layar)

Tadi pagi, pun saya lewat depan rumah sakit itu. Ingin mampir, ambil foto suasana Unit Gawat Darurat (UGD) yang kosong itu. Tetapi saya masih ragu. Bukan ragu pada informasi dr Agus, tetapi takut terpapar di tempat itu. Apalagi, saya hanya mengandalkan masker. Plus sudah divaksin. Rasanya belum cukup! Tidak punya APD.

Baca juga:

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sudah Vaksin, Siap Cari Jodoh

Vaksin Belanja 

Sensasi Swab Antigen

Penasaran, saya akhirnya tanya juga pada dr Agus. ‘’Iya, kondisinya memang sudah kosong. Sudah empat hari ini. Pasien yang dirawat sekarang adalah sisa yang belum sembuh. Yang positif baru hanya satu orang,’’ kata dr Agus antusias menjawab pertanyaan saya.

Ini turun drastis.  Bukan. Tepatnya, hampir tidak ada tambahan baru. Bandingkan bulan lalu. Pasien tidak bisa ditampung oleh RSUD yang memiliki 67 tempat tidur itu. ‘’Waktu puncak-puncaknya itu, 90 persen sampel yang diambil, positif. Sekarang paling yang positif hanya 50 sampai 60 persen. Semua tempat tidur dipakai untuk merawat pasien Covid-19,’’ katanya.

Sebagai warga Kota Bima, kami merasakan suasana yang mencekam itu. Setiap hari. Bunyi ambulans meraung depan rumah. Tetangga pun ada yang meninggal. Hamil delapan bulan, merawat mertua yang terpapar. Masih sangat muda, baru punya anak satu.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Saya juga beberapa kali melihat ketegangan dr Agus saat berbicara dengan Wali Kota Bima, H Muhammad Lutfi, SE. Itu terjadi di kediaman Wali Kota. Dia serius sekali. Mereka membahas kondisi yang dihadapi. Termasuk langkanya oksigen ketika itu. Pak Wali mendengarkan dengan seksama.

Beberapa kali jumpa dengan saya, Pak Wali juga mengaku sedang sangat fokus pada penanganan Covid-19. ‘’Ini menyangkut nyawa rakyat kita om,’’ katanya kepada saya. Pak Wali memang menyapa saya dengan sebuatan itu. Lengkapnya, saya disapa Om Khaer.

Apa sebabnya sehingga kasus Covid-19 di Kota Bima bisa turun drastis seperti itu? Apakah karena masyarakat enggan berobat ke rumah sakit? Apakah efek Perwali Nomor 49 Tahun 2020 yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh?

dr Agus Dwi Pitono, Direktur RSUD Kota Bima. (foto ist)

Menurut dr Agus, pada puncak kasus, banyak masyarakat yang enggan ke rumah sakit. Mereka isolasi mandiri di rumah masing-masing. Tetapi isolasi mandiri itu, banyak yang gagal, sehingga ke rumah sakit setelah kondisinya parah. ‘’Sudah sesak baru ke rumah sakit. Dites, ya Covid,’’ katanya.

Agus meyakini, penurunan drastis kasus positif Covid-19 di Kota Bima, karena pilihan cara penanganan yang sangat tepat. Pedomannya pasti Perwali itu. ‘’Salah satunya, dari hasil diskusi kami, Pak Wali memutuskan untuk penanganan dengan Tiga T. Kalau lockdown (sekat total) terlalu mahal untuk dibiayai.’’ katanya.

Tiga T yang dimaksud dr Agus adalah Testing, Tracing, dan Treatmen. Orang yang punya gejala, dilakukan tes. Jika hasil tes terkonfirmasi positif, maka ditindaklanjuti dengan tracing atau pelacakan terhadap orang-orang yang telah melakukan kontak dengan pasien yang terkonfirmasi.

Langkah ketiga adalah penanganan atau treatmen terhadap warga yang terkonfirmasi positif. Ini melibatkan banyak pihak, termasuk Babinkamtibmas. Mereka yang positif, bisa isolasi mandiri kalau kondisinya masih baik. Mereka diawasi, dipenuhi kebutuhannya, tidak boleh ke mana-mana. Tetapi jika tidak berhasil, kondisinya memburuk, harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

‘’Saya yakin penanganan itu sudah tepat dan hasilnya bisa kita lihat sekarang. Bulan Agustus, pasien turun drastis. Juli puncaknya,’’ jelas dr Agus.

Saya sendiri pernah merasakan ini. Isolasi mandiri, diawasi dan diantarkan kebutuhan. Ada paket berisi beras, susu, vitamin, dan lain-lain. ‘’Ada anggaran yang kita serahkan kepada setiap kelurahan untuk mengurus warga yang sedang isolasi mandiri. Juga disediakan tempat terpusat di setiap kelurahan bagi warga yang terpapar Covid-19 supaya bisa ditangani secara baik,’’ kata Wali Kota Bima kepada saya.

Apakah UGD di RSUD Kabupaten Bima juga kosong pasien? ‘’Tidak, malah sekarang penuh. Tenda halaman rumah sakit juga penuh. Belum ada penurunan,’’ kata Direktur RSUD Kabupaten Bima, drg Ihsan, MPH kepada saya Ahad pagi di bukit Jatiwangi. Saya menemui keduanya saat jalan-jalan di bukit itu bersama istrinya, dr Early, MPH. CHt. CT.

drg Ihsan bersama istrinya, dr Early, MPH. CHt. CT (foto ist)

DI RSUD Kabupaten Bima, disediakan juga tenda oleh BNPB karena kapasitas tempat tidur di ruang isolasi yang terbatas. ‘’Memang di tenda itu tidak semua positif Covid-19. Di situ tempat observasi untuk mengetahui yang covid dan bukan,’’ katanya.

Tetapi ada juga pasien covid yang minta dirawat di situ. Mereka enggan masuk ruang isolasi karena tertutup dan terisolir. Oleh karena itu, sejak Februari 2021 lalu, RSUD Bima memberi kesempatan satu keluarga sebagai pendamping pasien.

Tentu saja ada syarat yang ketat. Pendamping tidak boleh keluar dari kamar selama perawatan. Dengan cara begitu, pasien tidak stres karena merasa sendirian. Mereka bisa saling menguatkan secara mental. ‘’Cara itu bisa juga mempercepat proses pemulihan pasien juga,’’ kata drg Ihsan.

Di Kabupaten Bima, kasus Covid-19 masih cukup tinggi. Selain yang dirawat di instalasi kesehatan, ditengarai ada juga yang enggan ke rumah sakit. Meninggal pun, ditangani secara biasa oleh warga, sehingga peluang penularannya tetap ada.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Dia meminta agar masyarakat tetap waspada dan melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak atau menghindari kerumunan.

Terlalu dini jika saya simpulkan dua fakta itu. Tetapi patut diduga bahwa intervensi yang ketat, bisa memberikan hasil yang berbeda. Ayo sama-sama kita bangun kesadaran kolektif. Kita perang melawan Covid-19 dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Tetap semangat, jaga imun, kita pasti bisa! (khairudin m.ali)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  SAYA ini kadang iseng. Bertanya kepada orang lain tentang cita-cita masa kecil seseorang. Itu agak privasi. Bisa jadi juga, itu rahasia. Tidak pernah...

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

SEBELUM benar-benar lupa, saya mau menulis ini: Gempa Lombok. Sepekan lagi, itu empat tahun lalu. Tetapi trauma saya (ternyata) belum juga hilang. Sudah pukul...

CATATAN KHAS KMA

INI bukan tentang wong cilik, jualan partai saat dekat Pemilu. Ini benar-benar tentang joki, penunggang kuda yang umurnya masih sangat-sangat belia. Masih duduk di...

CATATAN KHAS KMA

SETELAH melewati Rumah Sakit Kabupaten Bima, jalanan macet total. Saya tidak yakin ada gendang Beleq yang lewat seperti di Lombok. Tidak biasanya di Bima...