Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Upacara di Bukit Demokrat

Ryan Kusuma Permadi dan anaknya.

Ryan Kusuma Permadi dan anaknya sebelum Upacara HUT RI di Bukit Jatiwangi.

SAYA bukan orang partai. Saya juga tidak partisan. Sikap itu saya ambil, sejak saya menjadi wartawan. Itu sudah lama sekali, sejak 1992. Pun hingga saat ini.

Walau sebenarnya, saya pernah benar-benar nyaris. Nyaris saja! Bahkan saya sudah mengikuti pengaderan partai itu secara daring. Bersama pengurus pusat dan provinsi se Indonesia. Pun saya sudah dinyatakan lulus. Namanya Akademi Pemimpin Indonesia (AMI). Mungkin ada yang tahu partai apa yang melaksanakan kegiatan ini, tahun lalu.

Cuma: saya belum terima Surat Keputusan Kepengurusan, juga satu ini: belum isi online data Kartu Tanda Anggota. Yang kedua itu, menjadi syarat untuk mendapatkan sertifikat lulus AMI itu. Dan, saya tidak mendaftarkan diri dan memilih mundur. Soal ini, saya akan usahakan tulis terpisah saja.

Peristiwa itu terjadi tahun kemarin. Ketika saya sebenarnya, secara praktis tidak lagi menjadi wartawan, tidak pula memimpin media. Juga tidak (lagi) menjadi pengurus organisasi pers. Terakhir, saya menjadi anggota Dewan Kehormatan PWI NTB. Juga ketika Musyawarah Cabang PWI NTB, saya tidak menghadirinya. Karena saya sudah tidak lagi ingin terikat dengan profesi ini. Jadi tidak ada hambatan bagi saya —sebenarnya— untuk terjun ke politik.

Ada banyak alasan. Tetapi kawan saya bilang, profesi ini tidak ada matinya. Tidak ada pensiunnya. Kecuali kita sudah benar-benar mati. Apalagi saya sudah memperoleh Kartu Emas, tanda lulus uji kompetensi wartawan tingkat Utama, sejak 2012 lalu.

Melihat saya vakum, istri saya mendorong untuk menulis lagi. Maka lahirlah rubrik Catatan Khas KMA ini. ‘’Kalau tidak menulis, nanti bisa pikun,’’ begitu kata istri saya.

Sebagai orang independen, bukan berarti saya tidak kenal atau berinteraksi dengan fingsionaris partai. Saya banyak habiskan waktu terlibat dalam proses Pemilihan Umum. Menjadi Pengawas Pemilu. Itu saya lakonai sejak Pemilu 2004 lalu. Kemudian Pemilu 2009, juga 2014. Tiga kali Pemilu Legislatif, DPD, dan Pemilu Presiden, satu kali Pilkada Gubernur dan satu kali Pilkada Kota Bima. Di kalangan pengurus partai, tentu saya bukanlah orang asing.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Juga bagi kawan-kawan pengurus Partai Demokrat. Saya tahu sejarahnya juga. Interaksi pribadi yang kerap terjadi belakangan dengan Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bima H Muhammad Qurais H Abidin (HMQ) itulah, yang kemarin mengantar saya sampai mengikuti ini: upacara HUT Kemerdekaan RI yang unik di puncak Bukit Jatiwangi.

Bagi saya, ini tentu unik. Dilaksanakan di pucak bukit. Walau saya tahu, banyak anak muda yang melaksanakan secara rutin di sejumlah tempat yang jauh lebih unik dan menantang. Misalnya di puncak gunung Pundu Nence, atau gunung Tambora.

Saya juga ikut (an) Sahabat HMQ olah raga jalan di bukit Jatiwangi. Interaksi-interaksi ini, membuat kami kerap bersentuhan, melakukan hal secara bersama-sama. Jalan bersama, sarapan bersama, cerita hal yang bisa juga sama.

Dari kiri: Ryan Kusuma, HMQ, Syukri Dahlan, dan H Ridwan Mustakim.

Dari sekian lama interaksi itu, tahulah saya bahwa: HMQ begitu menyintai bukit ini. ‘’Saya ingin menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata hebat dan mahal,’’ katanya kepada saya.

Pada masa jabatannya sebagai Wali Kota Bima dua periode, HMQ memang punya minat besar menggarap perbukitan. Saya pernah menulis soal ini. (Baca: Buka Jalan di Bukit untuk Menumbuhkan Ekonomi Masyarakat)

HMQ melihat, bukit-bukit yang dimiliki Kota Bima harus menjadi masa depan bagi rakyatnya. Apalagi areal dalam kota yang maki terbatas. Tanah semakin mahal. Semakin tidak terjangkau. Penduduk terus bertambah, maka bukit adalah tempat baru bagi masa depan bersama.

Saya jadi teringat dengan kota San Francisco di negara bagian California, Amerika Serikat. Kota di sisi barat Amerika ini berada di dekat laut dan berbukit-bukit. Kota ini praktis dibangun di atas bukit. Jika Anda pernah nonton film-film Amerika, banyak adegan yang diambil di kota ini. Terutama pelanggar aturan yang kejar-kejar polisi di jalan yang naik turun itu. Kota ini punya transportasi massa, kereta listrik. Kadang adegan juga dilakukan dalam kereta itu. Saya dua hari menginap di kota ini untuk menemui sejumlah tokoh.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

HMQ adalah salah satu pemimpin yang sering main ke negara lain. Termasuk Amerika. Membangun kota berbukit, bisa menjadi inspirasi baginya.

Upacara unik Partai Demokrat di bukit Jatiwangi itu, sebenarnya dihadiri kalangan terbatas pengurus dan keluarga. Tidak mengerahkan massa, mengingat pandemi Covid-19 belum berlalu. HMQ berdoa, semoga Covid-19 segera ditarik oleh Allah SWT. Di masa datang, ia bertekad mengadakan kegiatan serupa di tempat yang sama, melibatkan masyarakat umum.

HMQ hadir sebagai Pembina Upacara, sementara anggota DPRD Kota Bima yang juga Wakil Ketua Partai Demokrat Kota Bima, M Ryan Kusuma Permadi, menjadi Inspektur Upacara. Pembaca naskah Pembukaan UUD 45 adalah Syukri Dahlan, sekretaris Partai Demokrat Kota Bima, yang juga anggota DPRD.

Kepada kader Demokrat, HMQ meminta untuk menjadikan puncak Jatiwangi sebagai tempat yang sehat, tempat yang baik, dan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Di mana Anda ikut upacara? Apakah di alam liar, atau hanya online? Dirgahayu bangsaku, tetaplah jaya Indonesia. Merdeka! (khairudin m.ali)

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  SAYA ini kadang iseng. Bertanya kepada orang lain tentang cita-cita masa kecil seseorang. Itu agak privasi. Bisa jadi juga, itu rahasia. Tidak pernah...

CATATAN KHAS KMA

NAMANYA Fiudin. Kami memanggilnya Fiu. Tetangga saya di bukit. Selain bertani, Fiu mengurus kuda-kuda pacuan. Ada beberapa ekor kuda di kandang belakang rumahnya. Awalnya,...

CATATAN KHAS KMA

PADA 1993, saya pernah mengunjungi wilayah ini. Ntobo. Sebuah desa, di kecamatan Rasanae. Memiliki banyak anak muda yang mengadu nasib menjadi tenaga kerja keluar...

CATATAN KHAS KMA

    INI soal kebutuhan dasar, air. Inilah yang dialami warga bukit Jatiwangi. Bukit indah di sisi utara Kota Bima ini, butuh air. Untuk...

Opini

Oleh : Munir Husen Kedatangan Ketua Umum  Partai Demokrat di Kota Bima sekaligus calon Presiden Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudoyono yang biasa disapa dengan...