Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Hanu di Atas La Hanu

Peserta trip kapal layar La Hanu segera naik ke kapal.

PERNAH  dengar La One? Sebuah film tentang joki cilik yang sukses. Belum tayang, tetapi banyak yang penasaran. Tetapi ini mengenai La Hanu. Tidak ada hubungannya dengan film yang dibesut sutradara Awaludin Tahir itu. Yang sama hanya ada kata La di depan.

La, dalam bahasa Arab, berarti tidak. Tetapi La, dalam bahasa Bima, berarti Si. Apakah La Hanu itu sama dengan Si Dia? Karena Hanu ini, biasanya disematkan pada seseorang anonim, alias tidak dikenal. Kita tidak tahu namanya, maka kita sebut saja La Hanu. Saya coba samakan dengan Si Dia. Dia, orang  ketiga yang tidak saya tahu namanya.

Apa pentingnya bahas La Hanu. Nah, La Hanu ini, bukan Si Dia atau seseorang yang tidak kita kenal. Tetapi dia adalah sebuah nama. Nama kapal layar wisata. Dan saya sudah coba ikut paket wisata yang ditawarkan La Hanu, bersama La Hanu. La Hanu yang kedua, karena ada beberapa peserta tur yang tidak saya kenal namanya. Ya La Hanu.

Paket wisata di atas perahu layar La Hanu yang saya ikuti: Sunset trip. Naik kapal layar, sambil melihat sunset. Melihat matahari terbenam. Apa perlunya naik kapal untuk melihat matahari terbenam? Bagi saya, sebenarnya melihat matahari terbenam, itu sudah biasa. Baik yang diselimuti awan, atau yang cerah, juga merah, merona. Saya sudah punya tempat favorit untuk itu. Namanya Villa Ratu Balqis. Itu di Bukit Jatiwangi, tempat pribadi pimpinan Garda Asakota, Muzakir NS.

Indah sekali, karena terbuka. Saat matahari terbenam di atas gunung Donggo, kita bisa melihatnya tanpa hambatan. Ada bayangannya di teluk Bima. Tetapi bersama La Hanu, tentu saja beda. Di atas kapal layar, ada bayangan matahari di  atas laut, juga terbuka. Sensasi bertambah, kala ombak menggoyang dengan irama alamnya.

Untuk bisa mengikuti Sunset Trip di teluk Bima, La Hanu menawarkan banyak fasilitas. Selain naik Hanu, juga makan Hanu. Saya sebut saja Hanu, karena saya lupa tanya nama masakan koki andalan La Hanu. Saya juga lupa tanya nama perahu kecil yang mengantar sampai La Hanu. Ya saya sebut juga naik Hanu.

Untuk sekali jalan, kita harus melakukan pembukuan dan reservasi. Menentukan paket dan jumlah peserta. Untuk sekali jalan menikmati Hanu, maksudnya sunset, La Hanu melayani minimal 15 peserta, dengan tarif Rp175 ribu per orang. Bukan berarti kita harus menunggu ada 15 orang baru bisa jalan. Kita bisa saja jalan bersama kawan-kawan misalnya lima orang, tetapi tetap dihitung 15 orang.

Atau mau seperti Sultan, jalan sendiri saja. Tinggal minta kru kapal yang memegang kipas. Mr Black dan kawan-kawan siap melayani. Opss.. tidak perlu! Karena sudah ada fasilitas pendingin ruangan pada tiga kamar tidur yang tersedia oleh La Hanu.

Mau bersenang-senang, misalnya sambil bernyanyi? Tersedia juga fasilitas karaoke di atas La Hanu. Ada layar LCD 32 inci yang bisa memanjakan. Tidak perlu ragu soal suara. Gak ada yang akan protes kalau jelek. Toh tidak ada orang lain yang dengar.

 

Makan malam di kapal.

Setelah reservasi dan sudah ada jadwal dan kepastian berlayar, kita diminta datang setengah jam sebelum berlayar. Kru akan mengurus manifes penumpang ke KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan) di Pelabuhan Bima. Nama harus sesuai KTP, seperti kalau naik pesawat.

Jika cuaca bagus, pukul 15.00 Wita, penumpang bisa mulai naik La Hanu di kawasan wisata, Pantai Lawata. Kita bisa masuk setelah membayar karcis masuk Rp3 ribu per orang, plus uang parkir.

Karena di situ tidak ada dermaga, calon penumpang akan diangkut dengan perahu tadi. Sekali jalan, bisa memuat lima orang.  Di kapal, kita akan disuguhi minuman selamat datang. Bagi penikmat kopi, bisa memilih sendiri Robusta atau Arabica. Di kapal itu sudah tersedia yang sudah di-roasting, tetapi belum menjadi bubuk. Perlu diblender dahulu supaya bisa diseduh. Saya bukanlah penikmat kopi, jadi tidak tahu mana yang enak. Saya disuruh cium, harumnya seperti parfum tetangga saya. Harum kopi.

La Hanu akan membawa kita ke arah utara menuju So Numbe. Kecepatan La Hanu, sekitar enam knot per jam. Atau sekitar 11 kilometer per jam. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai So Numbe. Kru La Hanu akan memastikan, penumpangnya bisa sampai tepat waktu sambil menunggu matahari terbenam. Namanya saja Sunset Trip. Mau tengok matahari yang mau terbenam.

Di So Numbe, La Hanu akan beristirahat lebih dari satu jam. Aktivitas utama, ya melihat matahari terbenam itu. Juga pemandangan bawah laut dengan koral biru yang menawan.

Di sini, makan malam mulai disajikan. Saya suka masakannya. Rasanya, mirip kalau saya sedang makan di hotel-hotel bintang. Saya tambah berulang-ulang. Saya sangat menikmati  masakan itu. Itu pun tidak bisa habis.

Jelang kembali ke Lawata, kami disuguhi lagi jahe hangat dan green tea (teh hijau). Tidak cukup satu gelas, kami menambah juga.

Sepanjang jalan, saat berangkat maupun pulang, kami menikmati  pemandangan teluk Bima yang menawan. Bongkar muat kapal di Pelabuhan Bima, juga aktivitas nelayan yang mencari ikan. Melihat Kota Bima dari laut di malam hari, juga memiliki keunikan tersendiri. Bukit Jatiwangi, terlihat paling semarak dari kejauhan. Lampu warna-warni begitu indah.

Di kapal, kita tinggal pilih cara untuk bahagia. Ada dua kursi pantai, bangku-bangku santai, juga bantal warna-warni. Tersedia dua toilet. Bisa tidur di kamar juga. Ada tiga kamar berpendingin udara, dengan masing-masing rancang susun. Tersedia selimut hangat, kalau merasa dingin.

Pukul 20.45 Wita, kami tiba di Lawata. Jangkar ditambatkan, penumpang diangkut lagi dengan Hanu itu.

Ketua STIE Bima, Firdaus, ST bersama istri dan anaknya.

Firdaus, ST, MM, Ketua STIE Bima mengikuti perjalanan itu. Dia membawa serta istrinya, bu Fanny, dan Keysa putrinya yang masih duduk di kelas VI SDIT Insan Kamil. Mereka mengaku sangat menikmati perjalanan itu. ‘’Ini perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya akan ajak kawan-kawan di kampus suatu waktu nanti,’’ katanya kepada saya.

Hal serupa juga disampaikan Zainil Bahri dan Hidayat. Mereka ingin mengulangi lagi jalan-jalan bersama La Hanu yang dinakhodai oleh Zarli itu.

Mustahit alias Mr Black, Logistic Officer, kepada saya mengaku akan membuka sejumlah paket tambahan selain yang sudah ada saat ini. ‘’Untuk saat ini, selain paket Sunset Trip, ada juga Coffee Time on Ship, One Day Trip, dan Family Private Trip,’’ katanya.

Untuk Coffee Time on Ship, ditentukan waktunya mulai pukul 20.00 sampai 23.00 Wita. Tarifnya Rp50 ribu per orang, minimal 15 orang. One Day Trip tarifnya Rp4,5 juta maksimal 15 orang, mulai pagi pukul 09.00 sampai 20.00 Wita. ‘’Untuk Family Private Trip, durasinya dua hari satu malam, maksimal 10 orang dengan tarif Rp6 juta,’’ tambah Black.

Mengalami sendiri perjalanan dengan La Hanu, memang memiliki sensasi yang berbeda. Saya sendiri awalnya ragu, karena takut mabuk laut. Di masa depan, pengelola harus terus inovatif membuat paket-paket. Paket itu, bisa saja dikombinasikan dengan kegiatan di darat, misalnya bermalam dan membakar ikan pantai.

‘’Rencananya kami akan menawarkan juga trip sampai Satonda atau Pulau Moyo. Ini sedang kita rencanakan,’’ ungkap Black.

Ada potensi yang bisa dijual juga di Teluk Saleh Dompu. Kemunculan hiu paus di sana telah mengundang perhatian banyak kalangan. Mungkin saja trip ke Teluk Saleh itu bisa diagendakan.

Kapan Anda akan merasakan sensasi hanu bersama La Hanu? Kita tunggu. (khairudin m.ali)

Share
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA cukup beruntung. Dua hari, sejak Ahad, 29 Agustus 2021, hingga keesokan harinya, saya bisa jumpa dan diskusi dengan dua tokoh ini: Dr Abdul...

CATATAN KHAS KMA

HARI ini begitu heboh. Heboh soal Perumda Bima Aneka itu. Sebetulnya bukan hanya hari ini saja. Kemarin-kemarin juga. Juga hari-hari sebelumnya. Selalu saja heboh....

CATATAN KHAS KMA

SAYA tidak tahu, mau mulai menulis ini dari mana. Entah! Saya bilang pada Muzakir, bos Garda Asakota itu, bahwa saya bingung. Dan ini bukan...