Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Cerpen : N g i d a m

Ilustrasi

Oleh : Asikin Rasila

Senyalang mata elang menyasar mangsanya di permukaan laut, Sukarman menangkap sepotong pertanyaan pada selembar koran bekas yang dipungutnya   di areal tempatnya bekerja—sekitar base camp, saat istirahat makan siang. “Pernahkah anda bayangkan permintaan perempuan hamil muda?” dan sebaris kalimat tanya ini,  sekonyong-konyong bayangan istrinya hadir di pelupuk mata dan terngiang ucapannya minggu lalu.

“Bang! kenapa janin yang kukandung ini, memintamu mengenakan seragam polisi?“ tanya istrinya  saat menyambut Sukarman di depan pintu, sepulang kerja.

Mendengar permintaan istrinya yang tak wajar itu, kedua alis Sukarman terangkat dengan dahi terlipat—seperti bungkusan batang sosis yang dikerut kebawah. Kedua tangannya memegang pundak perempuan belahan hatinya—kemudian menatap wajah istrinya yang memelas—seperti anak kecil yang merengek dibelikan mainan. Namun, Sukarman terkesiap, saat teropong kedua mata istrinya, seolah-olah terbayang sosok bayi laki-lakinya, kedua jari tangannya terkepal, dan terdengar tangisan keras istrinya. Tanpa sadar, kedua tangan Sukarman yang berada di pundak istrinya—terlepas. Mulutnya terkunci. Sukarman sadar, apa yang dilihatnya barusan adalah isyarat—bahwa istrinya yang sedang hamil muda, benar-benar sedang mengidamkan itu.

Dibuangnya remasan koran bekas yang buram itu—hembusan angin siang, membawanya terbang bergerak naik turun mengikuti kompas mata angin—sampai menghilang dari pandangannya. Begitu pula harapan laki-laki yang  memasuki umur kepala tiga itu—kepada  sang istri—saat memintanya mengenakan seragam polisi, agar bisa diubah permintaannya, mungkin dengan sesuatu yang lain.

Di tempat kerjanya—seminggu ini, Bambang rekan kerjanya merasa ada yang aneh pada Sukarman—tidak seperti biasanya. Bambang ingat, kejadian dua hari yang lalu, saat memasang batu pondasi bendungan yang tingginya sudah mencapai dua meter, kaki Sukarman terpeleset, akibat tidak fokus—dan untungnya, Bambang tepat berada di samping Sukarman—dengan gesit Bambang menahan tubuh Sukarman agar tidak jatuh. Bambang tidak bisa bayangkan, tubuh Sukarman yang hilang keseimbangan itu, bila terjatuh—kemungkinan: tulang patah atau kepala bocor atau merenggut nyawanya.

“Beberapa hari ini, abang tidak  fokus, apa karena janji kontraktor itu bang?”, tanya Bambang hati-hati, saat berjalan berdampingan menuju kembali ke lokasi kerja, setelah istirahat makan siang.

“Ya! saya kecewa dengan janji kontraktor itu, kamu tahu sendiri kan? sampai detik ini, upah kerja kita belum dibayar,” ungkapnya dengan nada kecewa, tanpa menoleh ke samping.

Ketika menunjukan pukul 17.00, para pekerja menghentikan pekerjaannya—dan kembali ke base camp, tempat mereka bermalam—hanya saja, Sukarman tidak nginap bersama teman-temannya—pikirannya terganggu oleh desakan istrinya seminggu yang lalu—memintanya mengenakan seragam polisi. Bisa saja Sukarman tidak mau meladeni permintaan istrinya—biarpun menangis meraung-raung sampai keluar air mata                  darah—tapi itu bukan jalan terbaik—Sukarman sadar, kehamilan istrinya telah memantik gairah baru dalam hidupnya.

Entah bisikan dari mana yang meracuni pikiran istrinya, sampai-sampai Sukarman tidak konsentrasi dalam bekerja—memikirkan permintaannya yang aneh. Saat Sukarman menginjakan kaki di depan pintu rumah—berharap bersenda gurau, mengelus-ngelus perut istrinya—seketika itu, istrinya memegang kedua tangan Sukarman yang masih berdiri mematung di depan pintu, menatap wajah Sukarman tanpa berkedip dan kedua matanya berkaca-kaca.

“Bang! aku tidak main-main, aku ingin melihat abang memakai seragam polisi, hanya sehari saja,” kata istrinya merengek – rengek.

Sukarman terperangkap dengan permintaannya istrinya— seumpama dirinya terkurung oleh sekelompok penjahat dan berusaha untuk melepaskan diri, mencari celah agar bisa lolos dari kejaran. Sukarman melepaskan kedua tangan istrinya pelan-pelan—langkahnya lemas, dan tangannya menarik kursi plastik yang ada di samping pintu—menggeretnya ke meja kayu yang tampak lapuk dan catnya terkelupas, kemudian  duduk tanpa melihat istrinya.

Seketika suaranya bergetar,” Apa tidak ada permintaan lain? dimana aku dapatkan seragam polisi itu? apa kata orang-orang melihat aku mengenakan seragam polisi? orang-orang mengira aku sudah gila! apa kamu tega, suamimu dianggap gila oleh orang-orang kampung? aku tidak mau gila seperti si Jaka, yang tiap hari keliling kampung-kampung memakai seragam polisi!” ucap Sukarman sedikit emosi dengan pertanyaan-pertanyaan beruntun, berusaha meluluhkan hati istrinya.

“Bang! bukan aku, tapi janin yang kukandung ini yang memintanya,” intonasi istrinya  tidak kalah kerasnya.

Setelah membuat Sukarman tidak berkutik dengan hujaman kalimat sakti—istrinya masuk ke kamar dengan suara terisak-isak—sementara Sukarman tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduk dengan sorot matanya penuh makna.

Terbayang oleh Sukarman dua tahun lalu—saat musim hujan, istri sahabatnya Supardin, yang tinggal sekampung dengannya, sedang hamil muda, meminta kepada Supardin—untuk digendong keliling kampung. Awalnya mengira istrinya hanya bercanda, namun Supardin mengindahkan permintaan istrinya—bukan hanya sekali istrinya meminta, tapi berulang kali. Sehingga hari naas pun tiba, saat Supardin tidak ada di rumah, istrinya nekat berlari keliling kampung saat hujan lebat, karena permukaan tanah yang licin—istrinya Supardin jatuh tersungkur dan mengalami keguguran. Ibarat nasi sudah menjadi bubur—penyesalan Supardin tidak bisa mengembalikan kehamilan istrinya.

Sekembalinya ke tempat kerja, Sukarman merasa hasil kesepakatan dengan para pekerja kemarin—benar-benar menjadi kenyataan. Kemarin, sebelum pulang ke rumah, Sukarman bermusyawarah dengan para pekerja dan sepakat: melakukan mogok kerja.

“Sebelum ada kejelasan, kapan keringat kita dibayar—kita tetap melakukan mogok kerja,” teriak Sukarman menyemangati teman-temannya yang sudah berkerumun.

“Siap!”,  teriak para pekerja seperti dikomando.

“Sudah tiga kali Husni bolak balik ke base camp untuk memohon pengertian agar tidak melakukan mogok kerja. Tapi kita  tidak mau mengindahkan permintaan Husni, dan kita suruh ketemu dulu sama Bang Sukarman,” lapor Ridwan diantara kerumunan teman-temannya.

Selaku mandor proyek, Husni yang memiliki tubuh tambun itu, merasa khawatir adanya mogok kerja, kalau sampai pihak kontraktor tahu, akan berbuntut panjang dan dianggap tidak becus menangani masalah. Bahkan yang dikhawatirkan oleh Husni, apabila para pekerja melakukan tindakan-tindakan anarkis: merusak alat-alat berat—dan nekat membakarnya. Husni tahu sendiri, banyak kasus di beberapa tempat proyek,  karena masalah terlambat bayar upah, para pekerja melakukan tindakan anarkis seperti       pembakaran—dan ini harus diantisipasi lebih awal, pikir Husni dalam kekalutannya.

Dengan nafas yang ngos-ngosan, Husni mandatangi base camp, menemui para pekerja yang berkumpul saat mendengar arahan dari Sukarman. Ketika melihat Husni datang, mereka menyambutnya, ingin tahu informasi terbaru pembayaran upah mereka.

“Sabar, teman-teman,” suara Husni seperti orang penyakit asma. Saya barusan komunikasi dengan bos kontraktor, beliau sekarang masih ada                                                    di Jakarta—menyelesaikan administrasi proyek—dan saya mengatakan terus terang sama bos—bahwa para pekerja menuntut upah selama lima belas hari sesuai dengan janji dikontrak,” ujar Husni dengan suara yang terputus-putus, berharap para pekerja mengerti penjelasannya.

“Husni! yang kami mau dengar, kapan mau dibayarkan upah kerja kami, jangan kecewakan kami dengan janji-janji kosong, istri dan anak-anak kami butuh uang,” kata Sukarman dengan nada tinggi.

“Sabar, Bang Sukarman! tadi bos kontraktor sendiri yang bilang, besok beliau star dari Jakarta—kalo star pagi jam sembilan atau jam sepuluh, sore jam empat atau jam lima, sudah ada di tempat ini, dan langsung membayar upah semua para pekerja,” ungkap Husni dengan hati-hati

“Ingat! kami sudah bosan dibohongi terus, jangan sampai besok hanya pepesan kosong, kami tidak tahu akan berbuat apa besok, kalau bos kontraktor  tidak menepati janjinya,” ungkap Sukarman dengan sedikit ancaman

Husni tidak mampu berbuat apa-apa, air mukanya tampak cemas, mendengar nada ancaman Sukarman. Sebagai orang kepercayaan bos kontraktor Husni tidak bisa mendikte—hanya yang menjadi kecemasan Husni, apabila bos kontaktor menunda kedatangannnya. Husni tidak bisa bayangkan, kalau itu terjadi.

*

Satu masalah diselesaikan Sukarman dengan teman-temannya—namun, belum bisa menutupi kegundahan Sukarman.

Di mana harus mendapatkan seragam polisi itu? inilah pertanyaan yang  terus-menerus merecoki  pikiran Sukarman.  Setahunya, tidak ada orang yang menjualnya sembarangan—hanya anggota kepolisian yang berhak mengenakan seragam polisi. Sanak saudara Sukarman pun tidak ada yang menjadi anggota polisi,                             kalaupun ada—tidak semumet ini pikirannya. Sukarman tinggal meminjam seragam polisi saudaranya, menunjukan kepada istrinya. Persoalannya selesai. Sukarman harus hati-hati mengenakan seragam polisi—karena resikonya besar dimata hukum.

Lagi-lagi, Sukarman teringat seorang pemuda di kampungnya: tubuh atletis, tinggi, dan rambutnya sering dicukur pendek. Bagi orang yang belum kenal—menganggapnya seorang polisi. Orang-orang di kampung sering memanggilnya Sugeng. Di kampung, Sugeng cukup dikenal dan disegani oleh anak-anak muda—karena memiliki keahlian bela diri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya—Sugeng mewarisi keahlian bapaknya sebagai pelatih bela diri. Namun sayang, memiliki postur yang ideal                                  disalah gunakan—menipu para perempuan dengan berkedok sebagai anggota polisi dan Sugeng pun mengakhiri petualangannya di hotel prodeo.  Lamunan Sukarman tentang Sugeng, buyar bersama hadirnya rombongan teman-temannya untuk istirahat makan siang.

*

Sepulang kerja, Sukarman memilih waktu larut malam pulang ke rumah—agar tidak ada yang mengenalnya, setelah memenuhi permintaan istrinya. Ketika memasuki gang menuju rumahnya—Sukarman menyarungkan sarung yang dikeluarkan dari tasnya, kemudian secepat kilat, kedua tangannya memegang ujung sarung bagian atas—lalu menariknya seperti orang yang merasa kedinginan, mulai dari kepala sampai di atas  lututnya—hanya bagian mata saja yang kelihatan, dengan siasat seperti ini,  Sukarman menutupi seragam polisi yang ia kenakan. Langkahnya pelan, ayunan kakinya ringan saat bersentuhan dengan tanah dan berusaha tidak menginjak sesuatu yang menimbulkan suara. Matanya menengok kiri kanan, langkahnya terhenti—kaget, melihat seekor kucing hitam memotong jalannya. Dari jauh suara lolongan anjing, menyayat—Sukarman memasang telinganya, suara lolongan anjing itu berasal dari kolong jembatan ujung kampung. Gonggongan anjing menggema malam itu—menyusupi rasa takut  diruang jiwanya—kakinya sedikit gemetar—ketika sudah berada di depan rumah, ditengoknya sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Sukarman mengetuk pintu rumah dengan buru-buru—seperti melihat monster yang menyeramkan—dengan suara tercekat, menyuruh istrinya cepat-cepat menutup kembali pintu rumah.  Sukarman melepas sarung yang dipakainya, mata istrinya berbinar haru melihat seragam polisi yang dikenakan suaminya. Tanpa menunggu waktu   lama—karena luapan rasa bahagia, istrinya memeluknya dengan erat—istrinya tidak merasa bahwa seragam polisi yang dipakai suaminya kusam dan bau. Setelah membiarkan istrinya memeluk sampai puas—Sukarman membuka seragam polisi itu dan menyuruh istrinya memasukan ke dalam tas kerjanya.

Senyum bahagia istrinya, setelah permintaannya dipenuhi—dan malam itu, istrinya mimpi indah dalam tidurnya— di tengah selimut ketakutan suaminya.

_____________________________________________________________

Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 pagi, tepat di kolong jempatan ujung kampung, seorang kakek yang biasa mencari ikan di sungai menemukan sosok tubuh laki-laki tanpa baju, hanya mengenakan celana pendek, mulutnya diplester dengan lakban, kedua kaki dan tangannya diikat, kemudian dibiarkan di tepi kolong jembatan—penasaran, kakek pun mendekati laki-laki yang tergeletak dengan posisi tengkurap itu, setelah dibalik badannya—betapa terkejutnya sang kakek, ternyata laki-laki itu, si Jaka. Sosok dikenal luas oleh masyarakat umum—karena kelainan dan selalu memakai seragam polisi, lengkap dengan topinya.*

 

*Asikin Rasila, Lahir di Rato-Sila Bima, 18 September. Menyelesaikan Studi di Universitas 45 Mataram NTB. Pernah aktif sebagai wartawan—gemar menulis  Artikel, Opini, Essay, puisi, dan cerpen karya-karyanya dimuat di berbagai media lokal di Bima. Sekarang disamping mengabdikan diri sebagai pengajar pada   SMKN 4 Kota Bima—juga aktif sebagai pengurus di Dewan Kesenian Kota Bima. Kumpulan Cerpen “SAIS” merupakan buku karya sastra pertamanya yang diterbitkan Genta Press Jogjakarta Tahun 2016 dan Antologi Puisigrafi bersama “KABAR DARI TELUK” Tahun 2017 diterbitkan Ruas Media (Group Genta Press Jogjakarta). Sekarang lagi merampungkan antologi cerpen solo yang ke—dua, insyaAllah Tahun 2021 akan diterbitkan.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini

Oleh: Asikin, S.Pi Melihat Indonesia dalam kacamata Sumberdaya Alam adalah lanskap hamparan zamrud khatulistiwa yang memiliki (mengandung) potensi yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak,...

Opini

Oleh: Asikin, S.Pi   Keanekaragaman budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia, menjadi keunikan yang sangat membanggakan dimata dunia. Sebagai bangsa yang majemuk, yang terdiri atas...

Opini

Oleh: Asikin, S.Pi Sebuah ungkapan yang sangat menggelora dan memantik mimpi-mimpi besar untuk sebuah perubahan besar pada dunia pendidikan. Apa kata-kata  Nakhoda Pendidikan Mendikbud...

Opini

Oleh : Asikin Rasila* Pernahkah kita berfikir berada pada suatu tempat yang asing, tanpa meneguk secangkir kopi? Aroma secangkir kopi, mampu menggugah selera, menghidupkan...