Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Haru PON Papua

Purwandi, Pemred Bimakini.com bersama Nurul Iqomah, peraih medali emas PON Papua, asal Kota Bima.

SAYA tidak punya pengalaman yang cukup untuk menulis tentang olah raga. Sejak pertama menjadi wartawan pun, saya lebih banyak menjadi wartawan bisnis, walau kadang juga menulis hiburan, pendidikan, juga politik. Hukum pun, sedikit sekali.

Saat ini saya hanya mengandalkan sepeda sebagai sarana menjaga kebugaran. Bulutangkis sudah lama saya tinggalkan. Menonton pun, saya pilih-pilih. Kalau bukan karena alasan negara atau daerah yangs sedang bertanding, saya hanya menonton MottoGP. Jika menonton sepakbola, saya tidak punya tim apalagi pemain favorit. Saya hanya menunggu gol saja. Tanpa gol, saya kecewa. Lucu?

Saya tidak pernah ditugaskan menangani berita kriminal misalnya dengan ngepos di Polda atau Polres. Pun juga tidak pernah ngendon sidang-sidang di pengadilan. Meliput konflik di Tanjung Luar, Lombok Timur adalah tugas pertama saya setelah dinyatakan lolos seleksi wartawan Suara Nusa.

Sejak awal menjadi redaktur, saya diserahi tugas untuk mengurus halaman ekonomi dan bisnis. Maka nara sumber saya adalah pengusaha, lembaga perbankan, juga BUMN. Pernah menjadi redaktur NTB, mulai menghadapi berita dengan latar beragam. Campur semua. Semua urusan ada di situ. Tidak lama, karena pimpinan anggap prestasi, malah lompat menjadi redaktur halaman utama. Tidak tanggung-tanggung, menangani tiga halaman sekaligus. Beritanya: tentu lebih luas lagi, nasional dan dunia. Hukum, kriminal, politik, juga bisnis, semua ada.

Mulailah kenal tokoh-tokoh politik. Salah satunya, Ali Bin Dahlan. Sebelum menjadi Bupati Lombok Timur dua kali, sebelum juga menjadi calon Gubernur NTB. Cuma punya pengalaman meliput pemilihan Bupati (tanpa wakil) oleh DPRD Lombok Timur. Ali Bin Dahlan melawan H Syahdan. Ali Bin Dahlan kalah tipis. Ada istri H Syahdan yang menjadi salah satu pemilih, satu anggota dewan tidak hadir. Maka kemenangan ditentukan oleh satu suara terakhir.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Saat diberhentikan oleh Lombok Post pun, saya sedang bertugas sebagai redaktur halaman utama. Dari sisi ini, saya benar-benar tidak punya pengalaman menulis berita olah raga seperti kawan saya Purwandi. Minatnya beda. Bahkan akhirnya kolega saya itu menjadi redaktur olah raga abadi. Minatnya ternyata tidak berubah juga hingga kini. Sekarang meliput untuk Bimakini.com di PON Papua. Jadi Pemimpin Redaksi Bimakini. Kalau pembaca memperoleh berita dari Papua, itulah pekerjaan Pemimpin Redaksinya, Purwandi.

Nah! Ketika euforia PON Papua, saya jadi sulit mau menulisnya dari mana. Akhirnya, kalau ada tulisan ini, saya hanya ingin memberi apresiasi kepada perjuangan NTB untuk masuk 10 besar perolehan medali. Hebatnya, bisa mengalahkan daerah hebat selama ini. Hanya Kaltim dan Riau, provinsi di luar Jawa Bali yang berada di atas NTB. Seluruh Sulawesi, hampir seluruh Sumatera, dan 25 provinsi lain di Indonesia, kalah. NTB raih 15 emas, 11 perak, dan 12 perunggu. Saingan terdekatnya Lampung, 14 emas, 10 perak, dan 12 perunggu.

Tanpa ingin berbangga-bangga, terpenting adalah NTB harus memetakan potensi besar dari hasil PON Papua ini. Berdasarkan data yang ada, atletik, bela diri wanita, dan voli pantai, bisa menjadi penyumbang medali potensial. Artinya, di masa datang harus benar- benar memperhatikan pembinaan dan regenerasi cabang potensial prestasi ini.

Pembiayaan dan kesejahteraan pelatih dan atlet adalah yang utama. Jangan lagi ada cerita hanya menggunakan atlet tanpa ada investasi. Jika sudah ada upaya maksimal termasuk dengan fasilitas yang memadai, maka optimis di masa datang akan lahir atlet-atlet hebat dari NTB.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Kisah-kisah suram para pelatih yang ‘terjerat’ dengan minat mereka untuk melatih anak-anak muda, sudah lama kita dengar. Mereka bahkan ada yang miskin melarat. Hari-hari mereka abdikan untuk kemajuan olah raga, tetapi pemerintah masih abai pada perjuangan mereka.

 

Allysah Muttakharah (kiri), peraih medali emas PON Papua asal Kota Bima.

Mereka menangis haru saat atlet binaannya sukses, tetapi mereka sendiri tidak punya masa depan. Padahal untuk membina mereka, sorang pelatih harus mengorbankan segalanya. Waktu, tenaga, pikiran, kadang juga dana semampunya. Saya pernah bertemu dengan seorang pelatih tinju wanita di daerah ini. Pernah menjadi Satpam di sebuah bank, akhirnya diberhentikan karena dianggap tidak disiplin. Mengapa mereka sering meninggalkan tugasnya? Ya karena mengurus atlet-atlet itu.

Sekarang boleh saja kita gembira, bahagia atas capaian di PON Papua ini. Tetapi jangan lupa air mata para pelatih yang tidak bisa dibayar dengan apa pun. Sesekali lihatlah mereka. Semoga di masa datang, NTB tetap berprestasi. NTB mampu menyeruak di antara kekuatan-kekuatan daerah lainnya yang bertabur fasilitas dan pembiayaan. Semoga! (khairudin m.ali)

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.

 

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

SEBELUM benar-benar lupa, saya mau menulis ini: Gempa Lombok. Sepekan lagi, itu empat tahun lalu. Tetapi trauma saya (ternyata) belum juga hilang. Sudah pukul...

CATATAN KHAS KMA

INI bukan tentang wong cilik, jualan partai saat dekat Pemilu. Ini benar-benar tentang joki, penunggang kuda yang umurnya masih sangat-sangat belia. Masih duduk di...

CATATAN KHAS KMA

SETELAH melewati Rumah Sakit Kabupaten Bima, jalanan macet total. Saya tidak yakin ada gendang Beleq yang lewat seperti di Lombok. Tidak biasanya di Bima...

CATATAN KHAS KMA

DIA sebenarnya lebih suka main bola daripada bermusik. Bahkan pernah merasakan sangat sulit sekali. Ketika guru memberinya tugas memukul drum saat duduk di bangku...