Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Terimakasih Ibu

 

ilustrasi

Oleh Pietra Rezana Wibisono, SP
ASN BPS Kabupaten Bima

Ribuan Kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki

Penuh darah penuh nanah

Begitulah beberapa penggal dari lirik lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris bernama Iwan Fals. Lagu tersebut dirilis oleh Iwan Fals di tahun 1988 yang memiliki lirik sarat makna begitu dalam yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang Ibu dalam berjuang untuk anak – anaknya, tak kenal lelah dalam bertahan hidup demi kesuksesan yang ingin diraih oleh anak-anaknya. Perjuangan seorang ibu tanpa batas dan kalau perlu nyawa bisa menjadi taruhannya. Kasih Ibu yang sepanjang masa tak terhingga buat anaknya, memberikan jiwa dan kasih sayangnya serta doa’ tulus yang dipanjatkan agar anaknya menjadi sukses, menjadi generasi yang unggul untuk negara dan bangsa. Ibu begitu mulia didalam Islam bahkan kemuliaan seorang Ibu disebutkan hingga tiga kali oleh sabda Rasulallah SAW. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurarirah RA, Rasulallah bersabda: “ Dari Abu Hurairah RA, dia berkata ada seorang laki -laki datang kepada Rasulallah SAW dan bertanya : ‘Wahai Rasulallah siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik ?’, Rasulallah menjawab : ‘Ibumu’. Lalu siapa lagi? ‘Ibumu’. Siapa lagi? ‘Ibumu’. Lalu siapa lagi? ‘Ayahmu’..” . Hadits tersebut menjelaskan dengan gamblang betapa kedudukan seorang Ibu sangat diagungkan dan dimuliakan dalam Islam.

Peran Ibu di dalam keluarga tidak hanya menjadi madrasah pertama buat anak-anaknya akan tetapi menjadi madrasah utama buat anak-anaknya yang berarti seorang Ibu merupakan orang pertama yang mengenalkan norma-norma pada anak sebagai modal awal agar menjadi pribadi yang baik dan menjunjung nilai-nilai Islam. Layaknya seorang madrasah, seorang Ibu adalah “wadah” yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur karena dari madrasah inilah lahir anak-anak yang soleh/solehah, alim, cerdas, berakhlak mulia, berbudi pekerti yang luhur dan seluruh sifat-sifat agung mukmin yang bertakwa.
Begitu pentingnya peran Ibu didalam keluarga dan negara sehingga masyarakat Indonesia merayakan peringatan Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember, dimana berdasarkan sejarahnya bermula dari pembukaan kongres perempuan Indonesia yang pertama di tanggal 22 – 25 Desember 1928. Kongres ini memiliki agenda utama yaitu mempersatukan perempuan nusantara dalam perannya terhadap Pendidikan, kemerdekaan, pembangunan bangsa, perbaikan gizi ibu dan anak, pernikahan dini serta kesejahteraan perempuan. Kemudian untuk pertama kalinya momen hari Ibu diperingati pada tahun 1938 selanjutnya oleh Presiden Soekarno dikukuhkan dengan Keputusan Presiden RI No. 316 Tahun 1959. Melalui hari Ibu, Presiden Soekarno ingin mengajak bangsa Indonesia untuk mendukung semangat wanita Indonesia untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Peran Ibu di tengah pandemi Covid-19 ini semakin terasa disebabkan pendidikan yang biasanya dilaksanakan di sekolah dengan tatap muka menjadi pendidikan jarak jauh yang dilaksanakan di rumah secara daring, hal ini dapat menambah beban tugas yang disematkan di pundak seorang Ibu selain mengurus rumah tangga dan sebagian lagi ada ibu yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Di sini terlihat bahwa dalam pendidikan yang dilakukan secara jarak jauh, seorang Ibu dituntut menjadi guru untuk mengasuh dan mengawasi anaknya agar tidak ketinggalan dalam mata pelajaran, hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk menimba ilmu yang telah lama dilupakan bagi seorang Ibu sekaligus dapat menambah kecemasan dan peningkatan stress apabila pelajaran yang dihadapi anaknya tidak dapat terpecahkan.

Data di BPS Kabupaten Bima menunjukkan bahwa persentase Ibu usia 15-49 Tahun di Kabupaten Bima yang melek huruf relatif tinggi yaitu mencapai 93,39 persen yang artinya pada setiap 100 orang Ibu usia 15-49 Tahun terdapat 93 orang yang telah melek huruf. Hal ini dapat dilihat juga dari ijazah tertinggi yang dimiliki yaitu ijazah SD/sederajat sebanyak 17.67 persen, SMP/sederajat sebanyak 34.38 persen, SMA/sederajat sebanyak 24.72 persen dan PT sebanyak 9.12 persen sedangkan yang tidak memiliki ijazah sebanyak 14.11 persen (Statistik Ibu dan Anak, 2020). Pada data tersebut dapat dilihat persentase rata-rata seorang ibu yang telah mengenyam pendidikan formal wajib belajar 9 tahun dan 12 tahun lumayan tinggi karena telah menamatkan pendidikan di SMP/sederajat dan SMA/sederajat sehingga hal ini dapat membantu mendampingi anak – anak dalam mengajari pelajaran sekolah dan menjadi pembimbing anak dalam hal memperoleh pendidikan selain itu seorang Ibu juga dapat menjadi penghubung antara anak dan gurunya dalam penugasan yang diberikan oleh sekolah.
Setiap peristiwa pasti ada hikmah dibaliknya, begitu juga dengan adanya pandemi covid-19 yang dialami saat ini yang memaksa pembelajaran yang awalnya di sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan di rumah sehingga meningkatkan hubungan yang erat antara anak kepada orang tua terutama kepada seorang ibu, dapat menjalin komunikasi yang intens antara ibu dan anak serta ibu dapat melihat langsung perkembangan anaknya dalam kemampuan belajarnya. Selain itu, dengan adanya pembelajaran jarak jauh dapat memaksa para ibu selangkah lebih maju untuk belajar teknologi terutama mampu mengoperasikan smartphone yang menunjang proses belajar anak. Data BPS Kabupaten Bima menunjukan bahwa sekitar 84.05 persen anggota rumahtangga di Kabupaten Bima sudah dapat menggunakan HP, laptop serta tablet dan sekitar 31.59 persen sudah dapat mengakses internet (Statistik Kesejahteraan Bima, 2020).

Tak dapat dipungkiri, pembelajaran di rumah banyak menyebabkan anak-anak menjadi bosan dan jenuh terutama anak-anak usia sekolah dasar, dalam usia tersebut anak-anak cenderung tidak bisa diam dan selalu mengeksplore diri untuk bermain di luar sehingga anak-anak akan mencari kegiatan lain di luar pembelajaran seperti menonton Televisi, main gawai atau aktivitas lainnya yang menyita waktu. Berbagai tantangan dihadapi Ibu dalam pembelajaran di rumah diantaranya anak-anak hanya sesekali didampingi oleh Ibunya sewaktu belajar di rumah disebabkan adanya tanggungjawab lain yang diemban Ibu seperti bekerja ataupun mengurus urusan rumah tangga. Tantangan berikutnya yaitu, Penguasaan materi pelajaran yang kurang dipahami oleh seorang Ibu saat mendampingi anaknya sebab adanya perbedaan kurikulum ataupun sudah tidak ingat materi pelajaran tersebut sehingga dengan adanya tantangan tersebut serorang Ibu hanya sekedar mengingatkan saja tentang tugas yang dikerjakan anak sudah atau belum.

Kegiatan pembelajaran jarak jauh akan berjalan lancar apabila adanya bimbingan dan pengawasan dari orang tua dan guru. Pengawasan dari orang tua dalam hal ini seorang Ibu sangat penting untuk menentukan pembelajaran yang optimal. Kesiapan bekal seorang Ibu sangat mempengaruhi proses pembelajaran anak yang didampinginya saat belajar. Adapun beberapa bekal yang perlu dipersiapkan seorang Ibu dalam mendampingi anaknya yaitu 1. Sabar, mampu mengendalikan emosi dan membangun komunikasi yang baik saat mendampingi anaknya sehingga menciptakan suasana yang nyaman dalam pembelajaran; 2. Senantiasa meningkatkan keilmuan untuk dapat menguasai materi pelajaran anak seperti melalui youtube dan keilmuan tentang memahami sifat dan karakter anak dalam menyerap materi sebab anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda; 3. Membuat jadwal rutinitas harian belajar dan harus disetujui bersama agar anak belajar disiplin dan bertanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban yang dimiliki; 4. Membangun komunikasi antara orang tua dan guru di sekolah. Dengan adanya komunikasi dua arah maka sinergitas Pembelajaran jarak jauh akan bejalan baik dan menghasilkan capaian yang optimal; 5. Membagi tugas pendampingan anak dengan suami sebab pembagian peran yang seimbang antara ayah dan ibu menghasilkan generasi yang berkarakter.

Begitu besarnya peran mulia seorang ibu terutama di masa pandemi saat ini dalam mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab agar menjadi generasi soleh/solehah, alim, cerdas,berbudi pekerti luhur dan menjadi generasi yang berkarakter. Keberadaan ibu sebagai malaikat tak bersayap yang tidak pernah lelah dalam melindungi dan menjaga buah hatinya melalui tiap doa’ yang selalu dipanjatkan olehnya. Selamat Hari Ibu buat Ibu – Ibu hebat di seluruh tanah air Indonesia. (*)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.-Polres Bima Kota terus melakukan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat terkait dengan pentingnya menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) agar warga terhindar dari bahaya...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.- Peduli Lingkungan, panitia peringatan  Hari Ibu ke-92 Tingkat Kota Bima tahun 2020, membagikan bibit pohon mangga dan sawo di tiga  pondok...

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Tim Gender Indah Dhamayanti Putri (IDP), Kecamatan Bolo ambil bagian pada lomba gerak jalan unik, Rabu (19/12). Ketua Gender IDP Kecamatan Bolo,...

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Sebanyak 57 peserta ramaikan lomba gerak jalan unik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Bolo, Rabu (19/12). Kegiatan itu dalam rangka memperingati Hari...