Connect with us

Ketik yang Anda cari

Pendidikan

Relawan Literasi Bisa  Jadi Ujung Tombak Perubahan, Tapi Perlu Pengelolaan Tepat

Bima, Bimakini.- Kerelawanan di Indonesia, khususnya di NTB, belum menjadi sesuatu yang kuat diperjuangkan oleh lembaga. Kerelawanan  belum dikelola dengan optimal.

Maka, kata Provicial Manager Program INOVASI NTB, Sri Widuri, perlu mulai memikirkan keterlibatan relawan sebagai solusi dalam mendorong perubahan, baik di pendidikan maupun lainnya. Harapannya keberadaan relawan literasi yang ada saat ini terus diperkuat.

Untuk itu juga, kata Sri, perlu menggali pengalaman  dari relawan literasi yang sudah  berjalan, baik keberhasilan, tantangannya. Pengalaman itu, perlu dibagikan ke lembaga-lembaga lainnya, tentang bagaimana mengelola relawan yang baik, menjaga dan mempertankan mereka, termasuk bagaimana menambah jumlahnya.

Kata Sri, Program INOVASI sangat mendukung kegiatan pengembangan relawan literasi. “Kita belum memikirkan bagaimana relawan sebagai ujung  tombak untuk berkontribusi buat perubahan. Di negara-negara maju, kerelawanan ini sudah sangat sistematis dikoordinasi oleh CSO, kampus, dan dianggap menjadi kontribusi serius oleh pemerintah,” ujarnya dalam webinar Diskusi Pengelolaan Relawan Literasi, Sabtu (16/4/2022).

Dicontohkannya, di  Amerika setiap tahunnya melakukan estimasi,  berapa kontribusi relawan untuk pembangunan Amerika. Mereka memiliki rumus untuk menghitung berapa jumlah relawan diseluruh bagian Amerika dan kontribusinya secara finansial.

Hal seperti ini, kata Sri, ingin diwujudkan juga oleh INOVASI di Nusa Tenggara Barat melalui  Relawan Literasi. “Kita juga ingin menunjukkan kepada pemerintah dan publik bahwa relawan ini juga punya nilai finansial. Mereka bekerja menggunakan waktu dan tenaga. Jika mereka bekerja dan diupah, maka berapa nilainya. Hal-hal seperti ini ingin kita dukung kedepannya,” ujarnya.

Terpenting menurut Sri, bagaimana melakukan estimasi terhadap nilai kontribusi relawan dan itu bisa dilakukan oleh lembaga yang sudah ada.  Sehingga ini bisa menjadi salah satu bahan untuk didiskusikan dan dikembangkan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Fasda Pembelajaran NTB, Irmawati Arisandi menyebutkan, jumlah relawan hingga Maret 2022 tersebar di Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Barat sebanyak 1.110 orang. Jumlah itu terdiri dari 350 laki-laki dan 760 perempuan dengan total 99 lembaga, terdiri dari 15 LPTK atau Kampus, 4 Desa dan 82 CSO.

“Jumlah itu yang tercatat oleh INOVASI. Diperkirakan jumlah relawan literasi jauh lebih besar karena LPTK, CSO dan Komunitas Literasi melakukan kegiatan  secara mandiri dan pengimbasannya bergulir secara terus menerus,” ujarnya.

Adanya intervensi relawan literasi tersebut, kata Irma, sapaannya, siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca. Jumlah siswa di level rendah menurun setelah pendampingan. “ Tahap satu jumlah siswa yang naik ke level membaca lancar meningkat tujuh kali lipat dari 4 persen menjadi 32 persen. Tahap dua masih berjalan sudah ada 14 persen siswa yang naik ke level cerita, yakni dari 0 persen, ke 14 persen,” bebernya.

Siswa dengan  kesulitan berat atau rentan terbantu dengan adanya dampingan.  Disamping itu, terjalinnya kerjasama relawan, guru dan orang tua.

Sementara itu, M Sohibul Akbar dari Gerantim Desa Kesik, Lombok Timur, berbagi pengalaman tentang relawan literasi. Diungkapkannya, tidak mudah untuk merekrut relawan, apalagi sifatnya sukarela. Namun upaya yang dilakukannya dengan pendekatan personal, bahwa apa yang dilakukan akan bermanfaat bagi siswa.

Juga bentuk kepedulian atas kondisi yang ada. Adanya gugahan itu, menarik minat mereka untuk bergabung. Selanjutnya membagi tugas berdasarkan kompetensi. Misalnya, relawan berlatar belakang pendidikan kerguruan, akan mengajar level rendah.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Disamping itu, berkoordinasi dengan sekolah tentang rencana kegiatan yang dilakukan. Sambutan sekolah menjadi penting, untuk memastikan tujuan kegiatan akan berjalan dengan baik. Juga memastikan masing-masing relawan menjalankan tugasnya dengan baik.

Untuk menjaga kekompakan, maka sebagai koordinator, membangun hubungan personal dengan menyambangi anggota relawan di rumahnya satu per satu. Juga berkumpul, meski  dengan membuat acara kecil-kecilan.

Namun, berbeda dengan Akbar,  Azhar Zaini, dari GAGAS, justru dalam perekrutan relawan dilakukan secara terbuka, melalui media massa. Mereka harus mengikuti sejumlah orientasi, meski tidak digaji, namun mereka tetap mau bergabung. “Kami sampaikan manfaatnya jika tergabung menjadi relawan, salah satunya akan mendapatkan relasi atau teman baru dan memiliki manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Untuk anggota, GAGAS membaginya menjadi dua, relawan aktif dan pasif. Relawan pasif akan membantu mendukung kegiatan yang dilakukan, baik secara materi dan lainnya.

Nurul Utami, dari SP Mataram juga berbagi pengalaman tentang perekrutan relawan, meski istilahnya voluntir. Begitu pun Muchammadun, dari  Begibung, berbagai pengalaman tentang pengelolaan kesukarelawanan. “Relawan itu bagaimana bisa bekerja untuk lembaga dan berkomunikasi dengan sekolah untuk memunculkan relawan sementara, juga dengan orang tua sebagai sasaran klien,” ujarnya.

Untuk menjaga kesinambungan, kata dia, maka komunikasi dilakukan melalui pesan WhatsAPP atau sms. (BE04)

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri, SE, mengapresiasi Program Inovasi yang sudah berjalan dua tahap di Kabupaten Bima. Ibarat menyapih, mulai menyiapkan...

NTB

Bima, Bimakini.- Memeringati Hari Perempuan Internasional (International Woman Day) 8 Maret, Program INOVASI NTB, Pemerintah Provinsi NTB dan Universitas Hamzanwadi (UNHAM) menggelar Webinar Nasional,...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Bupati Bima, Hj.Indah Dhamayanti Putri, SE, menilai Program INOVASI telah banyak memberikan kontribusi untuk sektor pendidikan.  Untuk itu, Organisasi Perangkat Daerah (OPD)...

Peristiwa

Bima, Bimakini.-  Peningkatan Kemampuan Literasi, Numerasi dan Inklusi merupakan salah satu isu prioritas pembangunan daerah di Bidang Pendidikan di Kabupaten Bima. Hal itu, kata...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Pertemuan Kelompok Kerja (Pokja) Program INOVASI Kabupaten Bima di aula Hotel Mutmainnah, Selasa (1/3/2022) membahas soal mutu pendidikan. Berbagai pemangku kepentingan yang...