Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Lebaran Gagasan

Suasana diskusi diaspora Bima di Kosambo.

RINDU sudah sangat membuncah. Rindu se rindu rindunya. Tiada lagi yang bisa menghalangi. Pokoknya harus mudik tahun ini. Pun ketika pemerintah melambat-lambatkan liburan sekolah, tetap saja antrean pemudik mengular. Sampai lebih enam jam di penyeberangan Kayangan-Poto Tano.

Adik saya yang dari Malang pun pulang tahun ini. Sepanjang jalan dari Tano ke Bima, seperti iringan konvoi malam takbiran. Ramai. Ini karena tiga tahun tidak bisa pulang. Sejak pandemi Covid-19. ‘’Sensasi mudik yang sesungguhnya, baru dirasakan tahun ini,’’ kata adik saya itu.

Pemudik kita, beda dengan di Jawa. Di sana, semua barang yang bisa dibawa, ya diangkut. Bahkan kulkas pun disertakan. Walau harus bersusah-susah di mobil sempit. Tetapi pemudik kita, praktis. Hanya membawa yang bisa dibawa. Bila perlu hanya yang bisa ditenteng atau dipakai seperti ransel. Jika bisa, lebih baik tangan kosong.

Tiba-tiba saja, di daerah kita berseliweran mobil-mobil bagus. Mulai dari yang mahal, hingga mahal betul. Nomor polisi juga beragam. Diaspora sedang mengobati rindu. Rindu kampung halaman. Rindu makanan yang dimasak ibu, rindu kawan sepermainan, rindu pula teman seangkatan sekolah. Jadilah reuni. Itu juga sudah mereka rencanakan jauh hari. Yang danai, biasanya kawan yang sukses.

Istri saya tidak pernah ikut. Kawan-kawannya alumni SMP Negeri 1 Woha juga berkumpul. Ada di antara sahabatnya yang berpikir, saya yang melarang. Padahal memang dia sendiri yang enggan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Yang datang, tidak sedikit diaspora hebat. Ada pengusaha, akademisi, teknokrat, juga yang berkiprah di banyak bidang lain. Pemerintah juga swasta. Mereka itu, ada yang berdiskusi di tempat-tempat tak resmi. Membahas daerah kelahiran.

Tentu banyak pendapat dan gagasan mereka yang bisa diambil untuk membangun daerah. Ada juga yang cerita kisah sukses yang bisa ditiru. Bagaimana daerah lain misalnya, bisa lebih maju dan sejahtera. Ada Kulon Progo, Banyuwangi, Bantaeng, juga kisah sukses Emil Dardak yang membangun Trenggalek. Dia menjadi calon, pun tidak diusung partai politik. Dia mau membangun daerah setelah lebih dua tahun dibujuk-bujuk. Anda pasti lebih tahu kisahnya.

Saya malah membayangkan, betapa banyak hal yang bisa didiskusikan antara diaspora ini dengan para pemimpin di daerah ini. Pasti banyak hal positif yang bisa dibahas dan dikerjakan bersama. Pasti mereka juga rindu pada para pemimpinnya.

Mereka pasti punya ide dan gagasan bagaimana bersama memikirkan masa depan daerah yang lebih baik, lebih maju, dan rakyatnya yang lebih sejahtera.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Yang mungkin perlu dipikirkan di masa datang, adalah forumnya. Bisa saja forum resmi yang digagas pemerintah di daerah. Atau yang tidak resmi. Bisa saja oleh lembaga yang dipercaya dan bisa menyatukan semua komponen. Jadikan forum ini sebagai panggung gagasan. Forum persatuan.  Yang bisa mengeliminir saling curiga. Syaratnya, para pemimpin harus open minded dan visioner. Mau membuka diri.

Pasti banyak hal positif yang bisa dibangun. Termasuk jejaring dengan diaspora. Tantang mereka untuk berbuat bagi daerahnya. Supaya juga tidak ada kecurigaan bahwa mereka-mereka itu hanya datang pada saat musim politik. Seakan hanya datang ketika mau menjadi calon saat Pilkada saja. Jadikan momentum lebaran sebagai forum menggali gagasan dan ide. Bayangkan indahnya suatu forum yang akrab antarsemua diaspora. Jika ini bisa berlangsung setiap tahun, maka bisa menjadi tradisi baru yang sangat positif dan produktif. Bisa menjadi perekat untuk mewujudkan kebersamaan dalam satu tujuan besar. Membangun Bima Raya.

Supaya juga tidak ditanya mereka sudah berbuat apa untuk daerahnya. Pertanyaan konyol seperti itu, selalu saja muncul jika ada yang datang dan berbicara tentang membangun daerah. Padahal setiap mereka yang saat ini sedang memimpin, pun sebelumnya juga belum pernah berbuat apa-apa.

Kalau pun sekarang berbuat, itu adalah tanggungjawab. Jadi ya biasa-biasa saja. Yang aneh itu kalau tidak berbuat. Atau berbuat setengah-setengah. Tidak sepenuh hati.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Jangan habiskan waktu memikirkan periode berikutnya. Apalagi mengintip kegiatan orang yang punya potensi menjadi lawan politik. Kalau mau maju, ini harus diubah. Harus dibuang jauh-jauh.

Jadilah pemersatu, rangkul semua potensi. Periode berikut itu pasti akan ditentukan oleh prestasi dan kecintaan rakyat. Tidak bisa dipaksa-paksa. Pemilih sudah makin mengerti.

Mungkin Anda punya gagasan lain? (khairudin m. ali)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

BEBERAPA hari ini, media ramai memberitakan penggunaan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) pengganti kupon undian pada pawai Rimpu. Itu sederhana sekali. Alasan penyelenggara, untuk...

CATATAN KHAS KMA

  SAYA ini kadang iseng. Bertanya kepada orang lain tentang cita-cita masa kecil seseorang. Itu agak privasi. Bisa jadi juga, itu rahasia. Tidak pernah...

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

SEBELUM benar-benar lupa, saya mau menulis ini: Gempa Lombok. Sepekan lagi, itu empat tahun lalu. Tetapi trauma saya (ternyata) belum juga hilang. Sudah pukul...

CATATAN KHAS KMA

INI bukan tentang wong cilik, jualan partai saat dekat Pemilu. Ini benar-benar tentang joki, penunggang kuda yang umurnya masih sangat-sangat belia. Masih duduk di...