Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Ekspedisi Air

 

 

Sarapan sebelum melanjutkan perjalanan.

INI soal kebutuhan dasar, air. Inilah yang dialami warga bukit Jatiwangi. Bukit indah di sisi utara Kota Bima ini, butuh air. Untuk menjadikan bukit ini lebih hijau nan asri. Bukit ini sudah dihuni banyak warga. Bahkan Sudah memenuhi syarat menjadi satu rukun tetangga (RT).

Untuk memenuhi kebutuhan itu, sekitar sepuluh warga Bukit Jatiwangi, Sabtu 11 Juni 2022 kemarin, melakukan survai ke gunung di sisi utara bukit. Di situ ada sumber mata air, namanya Mada Oi Sombo.  Tidak terlalu jauh. Jarak udara kalau diukur dengan Google Maps, hanya 2,6 kilometer.

Saya pun ikut dalam ekspedisi air ini. Ingin melihat langsung seberapa besar debit air. Mungkin bisa dialirkan ke bukit Jatiwangi. Dalam bayangan saya, jika sumber air yang mengalir di sungai Jatiwangi itu dari Oi Sambo, maka layak untuk dialirkan dengan pipa ke bukit. Tinggal diukur elevasinya. Saya butuh alat ukur ketinggian.

Pagi itu saya begitu semangat. Selain warga bukit, yang ikut berangkat adalah beberapa kawan dari komunitas Sahabat HMQ. Kami pun sempat pamit kepada HMQ.  Mereka sudah rutin olahraga di bukit. Empat kali sepekan. Ada ustaz Benyamin, juga Syafrudin Zuhri dari BNI 46 Bima. Rencananya, Ketua STIE Bima, Firdaus, ST akan ikut juga. Karena kendala, tim STIE gagal berangkat.

Kami berangkat pukul 07.30 Wita dari titik kumpul di pertigaan bukit Jatiwangi. Saya mulai mengukur ketinggian menggunakan aplikasi Compass yang baru saya unduh semalam. Aplikasi ini bisa mengukur elevasi bumi berdasar lokasi. Di situ, elevasinya 186 meter di atas permukaan laut (dpl).

Waktu berangkat, kami harus menempuh perjalanan sampai tiga jam. Terasa lama sekali. Kami salah jalur. Jarak tempuhnya 4,6 kilometer. Kami mengikuti jalan rintisan yang sudah diratakan, sampai ke puncak bukit dengan elevasi 392 meter dpl. Sayangnya, jalan itu sudah ditutup semak. Sulit dilewati.

 

Jalan merunduk yang melelahkan.

Sampai di puncak bukit, kami tidak bisa meneruskan perjalanan karena ada jurang. Kami terpaksa memutar menuruni bukit ke sisi kiri. Di situ kami baru bertemu dengan warga lokal yang sudah biasa dan bahkan pernah berladang di wilayah itu. Kelelahan, saya dengan H Rashid Harman memakan bekal di situ. Bekal yang disediakan oleh Muzakir, pimpinan Garda Asakota itu, terasa sangat nikmat.

Yang membuat lelah, selain jalan di semak belukar, juga karena harus merunduk. H Rashid yang ikut ekspedisi ini, benar-benar terkuras tenaganya. ‘’Punggung saya sakit karena jalan menunduk,’’ kata pria pemilik Apotek Prima Farma ini.

Setelah rehat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit dan memutar. Karena sudah mengambil jalan yang salah, jarak temouhnya bukan hanya lama, tetapi jauh. Baru tiba di mata air Oi Sombo pada pukul 10.21 Wita.

Sebelum sampai di mata air Oi Sombo, kami sempat menemukan aliran sungai kering dengan lebar sekitar tiga meter. Air yang mengalir sedikit sekali. Itu pun, kadang muncul kemudian kering lagi. Sungai kecil itu, menyatu dengan aliran sungai dari mata air Oi Sombo. Kurang dari sepuluh menit, kami mulai mendengar ada suara air mengalir. Tibalah di mata Oi Sombo yang jernih itu.

 

Tiba di mata air Oi Sombo.

Sayangnya, sebagian dari kami tidak terlampau bahagia. Jauh dari ekspektasi. Aliran airnya relatif kecil. Padahal belum puncak kemarau. ‘’Debitnya kecil sekali, padahal ini masih ada hujannya,’’ kata Fahmin.

Tetapi Edy Agamawan, Ketua KP SPAM Jatiwangi yakinkan bahwa air itu kalau dibendung, bisa dialirkan ke bukit Jatiwangi. ‘’Airnya lumayan besar,’’ katanya.

Setelah foto-foto, kami pun pulang. Saya sempat cicip airnya. Segar sekali. Saya mengukur lagi elevasinya. 286 meter dpl. Beda 100 meter  dengan posisi saat kami berangkat. Jika saja debit airnya cukup besar, maka tdak ada masalah dengan posisi ketinggian. Air pasti mengalir sangat lancar ke bukit Jatiwangi. Tinggal dibendung untuk penampungan. Pipa bisa dialirkan di sisi bukit.

Menurut warga Jatiwangi, pada masa lalu mereka menanam padi di situ. Itu adalah ladang warga. Setelah ditinggalkan lebih dua puluh tahun, sudah kembali menjadi hutan. Melihat kenyataan ini, maka pola reboisasi yang tepat adalah membiarkan hutan tidak diganggu. Dia akan memperbaiki dirinya sendiri. Vegetasi hutan akan terbentuk secara alami.

Tetapi melihat agresivitas warga yang menanam jagung saat ini, tidak tertutup kemungkinan hutan ini juga menjadi incaran. Tanahnya begitu subur penuh humus. Perlu ada upaya serius pemerintah untuk mempertahankan eksistensi hutan yang tersisa ini. Juga agar sumber mata air yang kian kecil itu, tetap lestari.

Saat pulang, kami memilih jalan pintas. Menaiki bukit. Tentu sangat menguras tenaga. Apalagi pakai gaya merunduk lagi. Tetapi ini lebih pendek. Pun begitu, H Rashid tetap saja kelelahan. Juga saya. Untungnya, jalur pulang tidak lagi melewati jalan saat berangkat. Saat jalan yang harus menunduk itu. Ternyata ada jalur terbuka yang biasa dipakai warga di sisi barat bukit. Jalannya datar. Cuma harus hati-hati karena berjalan di sisi yang curam. H Rashid berkali-kali terpeleset.

Hanya 1.2 kilometer. Kami pun tiba di ujung yang sudah dibuka dan terbuka. Lega! Sempat sejenak istirahat di bukit 360 derajat pada pukul 11.45 Wita. Ini bukit yang indah. Berada di puncak bukit yang sudah dibentuk dengan alat berat. Rata. Kalau Anda punya waktu, silakan rasakan sendiri sensasinya. Pemandangannya benar-benar 360 derajat. Jadi tidak hanya di Sirkuit Mandalika ada yang beginian.

 

Foto sejenak di bukit 360: Penulis, Syafrudin Zuhri, Benyamin, Rashid Harman.

Kami pun tiba kembali di titik berangkat sekitar pukul 12.10 Wita. Artinya, waktu pulang tidak sampai dua jam. Jika tidak kapok, masih bisa kembali lagi di jalur yang lebih mudah itu.

Di bukit Jatiwangi, sebenarnya sudah lebih setahun ini sudah dialiri air. Itu hanya untuk kebutuhan pokok, air minum dan MCK. Sumbernya, dari proyek SPAM. Airnya dipompa dari bawah sisi timur bukit. Proyek Sistem Penyediaan Air Minum itu, sudah sangat membantu warga. Sebelumnya, warga membawa air dengan jerigen. Atau membeli air tangki PDAM. Atau yang  dijual warga menggunakan jerigen atau tandon.

Lebih 50 warga, sudah memanfaatkan air itu. Bagi warga yang tidak menetap di bukit, dipakai untuk menyiram tanaman. Juga untuk usaha bagi yang buka kafe. Kini wajah bukit sudah mulai berubah. Sesekali ajaklah keluarga ke bukit Jatiwangi. Pagi bagus, sore juga bagus.

Sudah ada beberapa fasilitas nongkrong untuk anak muda di malam hari. Dari kejauhan terlihat kilau lampu kafe yang menyediakan kopi dan makanan ringan. Ada Bukit Kita, Ortuns, Green, dan banyak lagi.

Bukit Jatiwangi kini menjadi primadona. Tempat indah untuk membawa keluarga dan kerabat. Tidak lama lagi, akan ada yang membangun glamping di bukit ini. Supaya warga bisa mebawa keluarga untuk bermalam. Begitu bangun usai shalat subuh, bisa menikmati sunrise di jejeran Pundu Nence di timur. Sore, bisa menikmati sunset di atas Doro Donggo, sambil menikmati kilauan kemerahan bayang mentari di Teluk Bima.  Jangan lupa mampir di Laboratorium Wira Usaha milik STIE Bima. Ada kebun bunga yang indah di situ. Bisa foto-foto. Juga di tempatnya Muzakir Garda Asakota, yang super keren! (khairudin m.ali)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

DIA sebenarnya lebih suka main bola daripada bermusik. Bahkan pernah merasakan sangat sulit sekali. Ketika guru memberinya tugas memukul drum saat duduk di bangku...

CATATAN KHAS KMA

NAH, kejadian juga. Saya akhirnya mabuk darat. Itu saat perjalanan Dompu-Sumbawa. Di Lopok. 27 kilometer sebelum tiba di kota Sumbawa.  Saya dan rombongan, terpaksa...

CATATAN KHAS KMA

PADA 1993, saya pernah mengunjungi wilayah ini. Ntobo. Sebuah desa, di kecamatan Rasanae. Memiliki banyak anak muda yang mengadu nasib menjadi tenaga kerja keluar...

CATATAN KHAS KMA

AWALNYA, saya tidak terlalu fokus memperhatikan penyerahan aset dari Pemerintah Kabupaten Bima kepada Kota Bima. Saya pikir sudah beres semua. Kini, di media, banyak...

CATATAN KHAS KMA

RINDU sudah sangat membuncah. Rindu se rindu rindunya. Tiada lagi yang bisa menghalangi. Pokoknya harus mudik tahun ini. Pun ketika pemerintah melambat-lambatkan liburan sekolah,...