Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Hanya Sekali

Tommee Baluke (paling kanan) saat membuka nasi tumpeng diserahkan oleh Anwar Arman.

DIA sebenarnya lebih suka main bola daripada bermusik. Bahkan pernah merasakan sangat sulit sekali. Ketika guru memberinya tugas memukul drum saat duduk di bangku SMP, ia tidak bisa melakukannya.

Pun hari-hari masa kecilnya, banyak dihabiskan untuk memainkan si kulit bundar itu. Begitu juga, ketika sang kakak setiap waktu memetik gitar. Ia bergeming. Cuek saja!

Mungkin karena terlampau sering, akhirnya tertarik juga. Lentingan senar gitar berirama merdu dari kakaknya, membuatnya luluh. Ia pun tertarik! Itulah yang akhirnya mengubah jalan hidupnya.

Dia tidaklah menjadi pemain bola seperti minatnya. Tetapi menjadi pemusik, yang mengantarnya keliling dunia. Membuatnya bermukim di tempat yang jauh, di negara lain. Di kota yang sangat terkenal. Bahkan saking populernya, banyak orang yang mengira, itulah ibukota negara itu. Yang ada opera house itu. Sydney, Australia.

Dia lahir di Rabadompu, Kota Bima. Itu 60 tahun lalu, 25 Juni. Dari kakek asal Rote, NTT dan nenek dari Bima.

Sebenarnya, ia hanya numpang lahir di Bima. Usia baru setahun, ia diboyong ke Sumbawa 12 tahun oleh orang tuanya. Dia pindah lagi ke Bali. Kendati hanya ‘numpang’ lahir, tetapi cintanya kepada tanah Bima lebih dari apa pun.

Karena cintanya itu pula, ia bertekad untuk merayakan ulang tahunnya ke 60 di Bima. Di dekat keluarga, kerabat, juga para sahabatnya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Dia hanya ingin merayakan ulang tahun itu, hanya sekali seumur hidup. Harus di Bima. ‘’Seumur hidup, saya tidak pernah merayakan ulang tahun. Saya hanya ingin merayakannya sekali saja, di usia 60 tahun, di Bima,’’ ujarnya.

Ini beda dengan banyak kita. Inginnya setiap tahun. Bahkan kalau bisa, lebih. Bisa makan enak, ada alasan untuk berkumpul dengan kawan-kawan.

Itulah peristiwa yang terjadi pada Sabtu malam, 25 Juni 2022, di Pantai Songgela. Di kebun Aba Umar almarhum.

Di usianya yang ke 60, ia benar-benar bisa mewujudkannya. Dia, Anda pasti sudah menebak. Betul, namanya Tommee Balukea. Penyanyi hebat kelahiran Bima yang sudah lebih 30 tahun bermukim di Sydney.

Tommee menghibur para sahabat, berkolaborasi dengan Kapenta Wadu. Para pencipta lagu Bima yang sepuh seperti Gufran Abubakar dan Najib Sulaiman juga hadir. Lagu-lagu itu, dikemas dalam satu album, Anda tahu.  Sangat legenda sekali.

Yang istimewa, sang kakak, Johny Keke ikut hadir. Masih bugar. Mereka menyanyikan lagu hits mereka di era 80-an itu. Nggahi Rawi Pahu, Rasa Wawo, Lamba Rasa, Wadu Ntanda Rahi, Garoso Ntasa.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Kolaborasi Tommee, Johny Keke, dan Kapenda Wadu.

Yang spesial, mereka juga berkisah tentang lagu-lagu itu. Najib dan Gevon ikut tampil. Membawakan lagu ciptaan mereka. Ada kenangan unik saat menciptkannya. Najib sebut menulisnya sambil tengkurap. Lagu-lagu itu melegenda sekali. ‘’Saya tidak menyangka, hasilnya menjadi bagus,’’ ujarnya.

Tommee juga tampil solo dengan banyak hits-nya. Musim, Crying Dog, Bianglala. Ini hanya secuil dari ratusan lagu ciptaannya.

Lagu-lagu yang diluncurkan, rata-rata hits. Seperti Harum, Sebutir Pasir, Kampung Halaman, Magical Sunday, Get On So Well, Smiling, Ma Machi, banyak lagi. ‘’Hampir semua lagu saya terinpirasi dari kampung halaman,’’ katanya.

Lagu Crying Dog misalnya. Beda dengan Crying miliknya Roy Orbison. Tommee menulis lagu ini di rumahnya di Sydney. Itu terilhami dari gonggongan anjing tetangga. Tetapi pesannya bukan karena protes soal gonggongan itu. Ada makna tersembunyi: tentang tangisan seorang anak.

Tommee memotivasi anak-anak muda Bima agar terus berkarya. ‘’Jangan berkecil hati. Dengan musik, kita bisa malihat dunia,’’ katanya.

Bali memiliki banyak makna bagi hidupnya. Bali juga yang mendekatkannya dengan Australia. Sekali terbang.  ‘’Sekolah di Bali banyak memperkenalkan saya ke dunia seni. Di Bali jugalah, awal tumbuhnya kegemaran dan ketertarikan saya terhadap musik,” ceritanya seperti dikutip Indomedia.com.au.

Tommee tidak bisa bercerita masa kecil di Bima. Usia setahun baginya masih sangat belia untuk melakukan sesuatu. Tetapi sejak merantau, ia kerap kembali ke Bima. Bahasa Bima cukup fasih. Sejumlah lagu juga diciptakan dalam bahasa Bima.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Menemukan apa yang cocok buat dirinya, tidak mudah. Termasuk di musik yang membuatanya banyak dikenal. ‘’Musik telah memberikan kehidupan yang jauh dari impian saya. Membawa ke tempat yang tidak pernah saya impikan sekalipun. Musik yang mengangkat saya ketika saya jatuh, merangkul ketika saya susah, menghibur ketika saya kesepian,’’ tambah Tommee.

Musiklah yang mengantarkan mengikuti banyak festival besar seperti Woodfoord, WOMAD, Blues Fest.

Selama bermusik, Tommee telah mengelilingi banyak negara seperti Jepang, Eropa, juga Kanada.

Berapa banyak lagu yang sudah diciptakan Tommee? Puluhan? Lebih. Sudah ratusan lagu. Kebanyakan terinspirasi dari kehidupan, dengan alam dan mahluknya. Dia sudah meluncurkan tujuh album. Semua lagu dalam album itu adalah ciptaannya.

Terbaru Follow The Wind. Album ini terinspirasi dari musik keroncong dari Indonesia. ‘’Tapi ini bukan lagu keroncong,’’ ujarnya seperti dikutip Indomedia.com.au.

Banyak kejutan saat merayakan ulang tahun ke 60. Selain nasi tumpeng dari kerabat, juga ada kue ulang tahun dari adiknya. Sejumlah kerabat seperti pelukis, Awaluddin Tahir, Ridwan Manantik, serta produser film La One Cinta untuk Ina, Dudi Fahrudin, ikut mengucapkan selamat dari jauh.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Yang disebut terakhir, berhubungan erat dengan Tommee dalam penggarapan film itu. Ia yang mengisi siund track yang belum juga dirilis itu. Banyak kru dan pemain film itu juga ikut hadir. Ada Dedy Mawardi, Anwar Arman, juga pemeran ibu La One, Nadira. Apakah Anda tertarik untuk menikmati lagi-lagu Tommee Balukea? Dia akan tampil lagi d Falcao Restoran dan Karaoke bulan depan. Tepatnya, 1 Juli 2022, mulai pukul 20.00. (khairudin m.ali)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  SAYA ini kadang iseng. Bertanya kepada orang lain tentang cita-cita masa kecil seseorang. Itu agak privasi. Bisa jadi juga, itu rahasia. Tidak pernah...

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

NAMANYA Fiudin. Kami memanggilnya Fiu. Tetangga saya di bukit. Selain bertani, Fiu mengurus kuda-kuda pacuan. Ada beberapa ekor kuda di kandang belakang rumahnya. Awalnya,...

CATATAN KHAS KMA

SEBELUM benar-benar lupa, saya mau menulis ini: Gempa Lombok. Sepekan lagi, itu empat tahun lalu. Tetapi trauma saya (ternyata) belum juga hilang. Sudah pukul...

CATATAN KHAS KMA

INI bukan tentang wong cilik, jualan partai saat dekat Pemilu. Ini benar-benar tentang joki, penunggang kuda yang umurnya masih sangat-sangat belia. Masih duduk di...