Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Kampung Tenun

Nurhaidah sedang memberikan semangat kepada Harijah.

PADA 1993, saya pernah mengunjungi wilayah ini. Ntobo. Sebuah desa, di kecamatan Rasanae. Memiliki banyak anak muda yang mengadu nasib menjadi tenaga kerja keluar negeri.

Itu dahulu. Kini, sudah menjadi wilayah kecamatan Raba, Kota Bima. Masyarakatnya pun banyak berubah. Termasuk tidak lagi banyak yang menjadi TKI keluar negeri. ‘’Dahulu disebut kampung TKI, tetapi kini tidak lagi banyak,’’ kata Lurah Ntobo, Aswin, S.Sos.

Saat ini, Ntobo sudah menjadi Kampung Tenun. Hampir seluruh warga wanita, menjadi penenun. Bahkan sejak dari usia muda, mereka sudah pandai merangkai helai benang itu menjadi kain tradisional khas Bima yang cantik.

Ketua Kolompok tenun Ntobo, Harijah megaku bisa menghasilkan  satu lembar kain dalam empat hari. Itu juga tergantung motif. Jika sulit pengerjaannya, bisa memakan waktu sampai satu pekan.

Kalau di Wawo namanya Tembe Nggoli, di Ntobo namanya Tembe Bali (tidak ada hubungannya dengan Provinsi Bali). Cara membaca bali ini beda. Dalam pengucapan bahasa Bima, bali itu bisa berarti corak. Selain kain bali, ada juga Sambolo, yang biasa dipasang di kepala, juga tenun Pa’a, Songket, Renda, Nggoli, dan Weri.

Harga jualnya juga variatif, dari Rp150 ribu hingga Rp350 ribu. Sampai saat ini, pasarnya pun tidak sulit. Konsumen maupun pedagang akan datang dan memesan langsung pada mereka. ‘’Kami tidak pernah kesulitan untuk memasarkanya,’’ kata Harijah.

Untuk modal usaha, mereka mendapat pembiayaan dari Bank BTPN Syariah. Nilai pinjaman hingga kini, bervariatif mulai Rp1.5 juta hingga Rp30 juta per nasabah. Untuk mempermudah koordinasi dan pembinaan, dibentuk kelompok yang beranggotakan 15 sampai 37 orang.

Lurah Ntobo, Aswin mengaku  sangat senang dengan kehadiran Bank BTPN Syariah di wilayah yang dipimpinnya. Apalagi itu bisa meningkatkan produktivitas dan ekonomi masyarakatnya.

Sarinah lain lagi. Selain menjadi perajin, dia juga membeli dan menjual hasil kerajinan warga Ntobo. Pendapatannya, tentu lebih besar. Apalagi kalau banyak kain tenun yang berhasil dia jual. Tidak heran, kalau Sarinah punya penampilan yang beda.

Rombongan dari pusat diwakili Tim Corcom Bank BTPN Syariah, Nurul Syita dan Bisnis Coach BTPN Syariah Cabang Bima Nurhaidah berkomitmen untuk selalu bersama nasabah dalam kondisi apapun. ‘’Tetap semangat dan disiplin melakukan pembayaran ya ibu-ibu,’’ katanya menyemangati.

Menurutnya, ada enam kelompok di Kelurahan Ntobo dengan jumlah nasabah sebanyak 181 orang. Untuk Kecamatan Raba, jumlah nasabah sebanyak 3.184 orang yang terbagi dalam 270 kelompok binaan dengan total pembiayaan mencapai Rp9 miliar.

‘’Jadi sejak berjalan 5 tahun lalu hingga Mei 2022, kurang lebih Rp 9 miliar pembiayaan di Kecamatan Raba,’’ ungkapnya.

Kegiatan Media Kitchen Tour hari kedua tidak hanya di Ntobo, Kota Bima. Tetapi juga melanjutkan perjalanan ke Bolo, Kabupaten Bima, juga ke Rasanggaro, Matua Kabupaten Dompu.

 

Anggota kelompok Jajan Bunga Desa Kananga sedang mendapatkan pembinaan dari CO Bank BTPN Syariah.

Di Bolo, tim melihat aktivitas Kelompok Jajan Bunga. Di sebuah rumah, selain kesibukan membuat jajan bunga, juga ada pertemuan rutin anggota kelompok. Mereka sedang mengikuti pembinaan, sekaligus membayaran angsuran.

Salmah, penjual nasi mengaku sangat terbantu dengan adanya modal usaha dari Bank BTPN. Pertama dapat pinjaman Rp5 juta untuk memulai usaha, kini sudah berkembang, Pinjamannya pun meningkat menjadi Rp20 juta. Dengan tambahan modal tersebut, menu yang bisa dijual juga semakin bervariasi. ‘’Saya senang, usaha saya lancar, pengembalian juga lancar. Kami bisa menabung dan meningkatkan pendapatan kami,’’ kata Salmah.

Senada juga diungkapkan Taasiah, penjual ayam.  Dengan usahanya itu, dia mampu menyekolahkan anaknya hingga bangku kuliah. ‘’Dua anak saya kuliah. Satu di Surabaya dan satunya di Mataram,’’ katanya.

Awalnya, dia mendapat pinjaman sebesar Rp3 juta dan kini sudah meningkat menjadi Rp15 juta. Dengan adanya tambahan modal itu, dia bisa menambah jumlah ayam dagangannya. ‘’Untuk pinjaman Rp15 juta, saya mengembalikan Rp585 ribu setiap dua minggu,’’ akunya. (khairudin m.ali)

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

NAH, kejadian juga. Saya akhirnya mabuk darat. Itu saat perjalanan Dompu-Sumbawa. Di Lopok. 27 kilometer sebelum tiba di kota Sumbawa.  Saya dan rombongan, terpaksa...

Berita

Jakarta, Bimakini.- NTB, khususnya Pulau Sumbawa memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu contoh atau rolemodel yang visionable atau berkelanjutan. Hal itu...

CATATAN KHAS KMA

    INI soal kebutuhan dasar, air. Inilah yang dialami warga bukit Jatiwangi. Bukit indah di sisi utara Kota Bima ini, butuh air. Untuk...

CATATAN KHAS KMA

SAYA belum pernah alami ini: handphone tidak bisa dipakai karena panas. Bukan hanya sekali, Tetapi berkali-kali. Juga, bukan hanya saya, tetapi juga dua kawan...

CATATAN KHAS KMA

SAYA bukan orang partai. Saya juga tidak partisan. Sikap itu saya ambil, sejak saya menjadi wartawan. Itu sudah lama sekali, sejak 1992. Pun hingga...