Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Mabuk, Nyetir

Penuli, kalau tidak nyetir ya mabuk.

NAH, kejadian juga. Saya akhirnya mabuk darat. Itu saat perjalanan Dompu-Sumbawa. Di Lopok. 27 kilometer sebelum tiba di kota Sumbawa.  Saya dan rombongan, terpaksa berhenti sejenak.

Saya memang sulit mrnghindari mabuk kalau naik mobil. Duduk di kursi belakang, akan mempercepat proses mual dan pusing itu. Saya harus duduk dengan sandaran kursi lebih tegak. Agar mabuknya tak lebih parah. Saya minum Tolak Angin.

Tiba di kota Sumbawa pukul 20.10 Wita. Selain sopir, saya bersama Muzakir, Pemimpin Redaksi GardaAsakota, yang didampingi Nurhaidah, Bisnis Coach Region Sumba (membawahi all Nusa Tenggara Barat). Saya memang mudah mabuk kalau tidak menyetir.

Dari Cabang Banggo, Dompu, sebenarnya saya sempat menyetir. Itu sampai Labuhan Jambu, Sumbawa. Tetapi karena matahari yang akan terbenam sangat menyilaukan mata, saya akhirnya kembali duduk di kursi penumpang.

Sempat minta langsung diantar ke hotel, saat istirahat itu. Tetapi kami putuskan makan dahulu. Sudah ada Faharudin, Pemred Kahaba.net dan Deddy Darmawan, Pemred Jangka Bima yang menunggu di rumah makan. Mereka menggunakan kendaraan berbeda dan tiba lebih awal. Juga tim Bank BTPN Pusat, Nurul Syita serta dua rekan wartawan dari Jakarta. Vanie Elsis Mariana dari Bisnis Indonesia dan Hasiholan Siahaan SindoNews.

Karena masih tidak enak perut, saya hanya minum kuah sayur. Agak enak, baru saya makan sedikit nasi sebelum kami ke hotel untuk istirahat.

Perjalanan

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Pada Catatan Khas Kampung Tenun, perjalanan Media Kitchen Tour kami pada hari kedua, dimulai dari Ntobo Kota Bima, kemudian dilanjutkan ke desa Kananga dan Rasabou, di kecamatan Bolo.

Perjalanan kami lanjutkan ke Dompu. Setelah makan siang, kami menemui nasabah Ban BTPN Syariah di Rasanggaro, Matua.

Seperti nasabah yang kami temui sebelumnya, Kelompok Usaha Rasanggaro Samakai di Kecamatan Woja ini, juga berjalan baik.

Seperti dituturkan Marlia, salah satu anggota kelompok. Dia mengaku, punya usaha Nasi Bambu (timbu) dengan pinjaman awalnya hanya Rp2 juta. Seiring berjalannya waktu, bisnis kecil-kecilan yang dirintisnya itu terus berkembang setelah mendapat modah usaha.

‘’Sudah enam tahun kami dapat pembiayaan dari Bank BTPN Syariah. Sekarang kami bisa pinjam Rp10 juta. Anggota kami bahkan ada yang dapat pembiayaan sebanyak Rp 17 juta.’’ sebutnya.

Usaha timbu yang didirintisnya di ujung barat kampung itu, bisa laku 60 potong sehari dengan harga Rp30 ribu per potong. ‘’Untung hasil penjualan selain untuk angsuran, juga bisa untuk ditabung,’’ jelasnya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Bukan hanya timbu. Marlia juga membuat jajanan lupis. Sayangnya pada saat kami di situ, lupisnya belum dimasak. Kami hanya sempat mencicipi timbu dengan ketan hitam. Nikmat!

Marlia dan anggota kelompoknya mengaku mendapat perhatian sungguh-sungguh dari Bank BTPN Syariah. ‘’Petugasnya baik dan sabar membimbing kami dalam berusaha dan menyelesaikan kewajiban angsuran,’’ tambahnya.

Mendampingi nasabah, hadir juga Camat Woja, Suherman, S.Pt dan Kades Matua, Syam Firdaus, ST, serta belasan anggota kelompok.

Camat dan Kades sangat berharap agar para nasabah lebih dipermudah dalam hal pembiayaan. ‘’Kami berharap mereka tidak dipersulit dalam proses pembiyaaan baik dari sisi persyaratan maupun penganggaran. Percayalah pada warga kami,’’ ujar Syam Firdaus.

Suasana pertemuan pihak Bank BTPN Syariah dengan nasabah di Poto, Sumbawa.

Nurhaidah didampingi Tim Corcom BTPN Syariah Nurul Syita menjelaskan, sentral usaha di Kecamatan Woja merupakan nasabah disiplin dan sering mendapat reward.  ‘’Woja aman, langganan dapat Reward mereka. Ini jadi bukti kedisiplinan nasabah dari usaha mikro yang terus berkembang,’’ katanya.

Jumlah kelompok usaha di kecamatan Woja sebanyak  197, dengan jumlah nasabah keseluruhan sebanyak 2.741. ‘’Selama 7 tahun terakhir, ada sekitar Rp 15 miliar pembiayaan yang sudah disalurkan,’’ sebutnya.

Di Sumbawa, rombongan menemui salah satu sentra usaha dusun Samri, desa Poto, kecamatan Moyohilir.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Saya tidak asing dengan wilayah ini. Beberapa kali saya pernah ke rumah sahabat saya, Ir Heri Suparman. Mereka tinggal di desa Ngeru, Moyo Hilir. Wartawan senior Majalah Gatra yang pernah menjadi sekretaris PWI NTB itu. Heri sudah meninggal karena Covid-19 pada tahun lalu. Baca juga Selamat Jalan Heri Suparman.

Saya menelepon anaknya yang paling besar. Namanya Panji. Pada lebaran tahun lalu, Heri membawa dua anak dan istrinya itu menemui saya di rumah. Itulah pertemuan terakhir kami dengan almarhum Heri.

Lokasi kunjungan kami, hanya berjarak 12 kilometer dari Ngeru. Kami jumpa, tidak lama. Panji datang dengan ibunya menemui saya.

Di sini, kami sudah ditunggu ibu-ibu nasabah Bank BTPN Syariah. Mereka adalah perajin kain tenun Sumbawa. Ada aula yang dibangun dengan CSR Bank BTPN Syariah di desa ini pada 2019 lalu. Masih tetap dimanfaatkan dengan baik untuk aktivitas sosial masayarakat. ‘’Termasuk saat musim hujan dipakai untuk tenun,’’ kata St Fatimah, ketua kelompok.

‘’Pada awalnya kami dibiayai Rp2 juta. Sekarang pembiayaan sudah Rp 10 juta. Soal pembayaran, Alhamdulillah tetap lancar pak,’’ ujarnya.

Dibandingkan dengan tenunan Bima, hasil tenun warga Samri ini lebih beragam. Ada Sapu, Kain Kebasa, Selendang, juga Kain Krealang.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Penenun sekaligus nasabah binaan Bank BTPN Syariah di Sumbawa.

Menurut Nurhaidah, di kecamatan Moyohilir terdapat 1.300 nasabah yang tersebar pada 103 kelompok. Sementara di dusun Samri, ada 3 kelompok sentral usaha dengan jumlah nasabah 112 orang.  ‘’Sejak tujuh tahun lalu, pembiayaan di kecamatan Moyohilir sudah mencapai puluhan miliar,’’ sebutnya.

Communication Head Bank BTPN Syariah, Ainul Yaqin mengaku terinspirasi dengan kisah-kisah nasabah dalam perjuangan mereka. Seperti Sri Astuti dan Harijah di Kecamatan Bolo, Bima.

Berkat ketekunan dan kegigihan, mereka berdua berhasil menjadikan usahanya naik kelas, sehingga patut menjadi nasabah inspiratif. Mereka telah berhasil membangun perilaku unggul yaitu Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu (BDKS) untuk diri dan komunitasnya.

Kami berpiah di Sumbawa. Rombongan Bank BTPN Syariah dan tim media melanjutkan perjalanan ke Pulau Kenawa, Tano. Saya dan wartawan Bima kembali dengan satu mobil.

Ups….supaya tidak mabuk (lagi) saya memutuskan untuk menjadi sopir. Aman, lima jam Sumbawa Besar-Bima, saya tetap bugar! (khairudin m.ali)

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.
Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  SAYA ini kadang iseng. Bertanya kepada orang lain tentang cita-cita masa kecil seseorang. Itu agak privasi. Bisa jadi juga, itu rahasia. Tidak pernah...

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

SEBELUM benar-benar lupa, saya mau menulis ini: Gempa Lombok. Sepekan lagi, itu empat tahun lalu. Tetapi trauma saya (ternyata) belum juga hilang. Sudah pukul...

CATATAN KHAS KMA

INI bukan tentang wong cilik, jualan partai saat dekat Pemilu. Ini benar-benar tentang joki, penunggang kuda yang umurnya masih sangat-sangat belia. Masih duduk di...

CATATAN KHAS KMA

SETELAH melewati Rumah Sakit Kabupaten Bima, jalanan macet total. Saya tidak yakin ada gendang Beleq yang lewat seperti di Lombok. Tidak biasanya di Bima...