Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Pertamina Paparkan hasil Kajian, Pencemaran Teluk Bima Bukan Karena Tumpahan Minyak

Limbah yang terdapat di depan Depo Pertamina Bima sat pencemaran mulai muncul beberapa waktu lalu.

Kota Bima, Bimakini.- Fenomena yang terjadi di teluk Bima, tidak hanya menghebohkan, karena baru pertama terjadi. Namun juga memuculkan banyak spekulasi, termasuk kecurigaan adanya unsur limbah minyak milik Pertamina.

Untuk itu, PT Pertamina memaparkan hasil penelitian atas pemcemaran di teluk Bima, Selasa (7/6/2022) di Hotel Marina Inn Kota Bima dan Zoom Meeting.

Penyampaian hasil kejadian dilakukan oleh  Tim Analisis Ekologi yang ditunjuk pertamina. Mereka adalah  Aisyah Hadi Ramadani, S.Si., M.Sc, Muhammad Rifqi, S.Si, dan Sekar Arum Setyaningrum, S.Si.

Pertamina menyampaikan, 26-27 April 2022, terjadi fenomena berupa munculnya busa di perairan Teluk Bima yang diduga oleh warga disebabkan oleh kebocoran pipa penyalur minyak dari fasilitas Fuel Terminal Bima.

Selanjutnya dilakukan pengambilan data sampel air laut pada 28 April 2022 oleh DLH Kota Bima. Pengujian lainnya  melalui Genau Lab untuk melihat parameter fisik-kimia sesuai baku mutu air laut pada PP Nomor 22 Tahun 2021.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Hasil uji Yayasan Generasi Biologi Indonesia dari parameter biologi pada parameter fitoplankton dan zooplankton hasilnya,  bahwa jumlah fitoplankton pada sampel air laut sangat melimpah dengan 2949000 individu/3000 ml didominasi oleh jenis Nitzchia acicularis. PeranPlankton di dalam Ekosistem Plankton merupakan produsen primer berupa organisme mikroskopis yang pergerakannya dalam air sangat lemah dan ditentukan oleh gerakan air dan angin.

Zooplankton sebagai penyedia energi tingkat kedua menghubungkan antara produsen primer (fitoplankton) dengan konsumen yang lebih tinggi sehingga juga berperan untuk menjaga kestabilan rantai makanan di suatu perairan. Kemelimpahan genus Nitzschia disebabkan oleh sifat eutraphentic yaitu peningkatan pembelahan yang lebih cepat jika kondisi ketersediaan makronutrient melimpah disertai peningkatan temperatur air.

Hasil uji Fisika-Kimia menunjukkan parameter Total Petroleum Hidrokarbon sebesar 0,0001 mg/L < baku mutu sesuai PP No. 22 Tahun 2021 Lampiran VIII.

Sehingga PT Pertamina Patra Niaga Bima  menyimpulkan pengukuran kualitas air di kolam pelabuhan masih memenuhi baku mutu sesuai PPRI No. 22 Tahun 2021. Hasil pengujian parameter Total Petroleum Hidrokarbon sebesar 0,0001 mg/L < dari baku mutu sebesar 0,1 mg/L menunjukkan pencemaran yang terjadi tidak disebabkan kebocoran minyak di perairan Teluk Bima.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Munculnya busa di perairan Teluk Bima identik dengan kejadian “sea snot di Turki”. Fenomena busa di Teluk Bima disebabkan oleh “ledakan alga” dibuktikan dengan melimpahnya jumlah fitoplankton mencapai 2949000 individu/3000 ml didominasi oleh jenis Nitzchia acicularis.

Kelimpahan genus Nitzschia disebabkan oleh sifat eutraphentic yaitu peningkatan pembelahan yang lebih cepat jika kondisi ketersediaan akronutrient melimpah disertai peningkatan temperatur air. Fenomena ledakan alga mengindikasikkan tingginya unsur hara dalam perairan, sedangkan kegiatan FT Bima tidak menghasilkan air limbah dengan kandungan unsur hara yang tinggi dalam jumlah besar.

Dari justifikasikomponen hidrooseanografi, PT Pertamina menyampaikan,  bahwa hasil permodelan arus perairan Teluk Bima dilakukan sesuai data iklim bulan April 2022. Hasil permodelan terlihat munculnya pusaran arus di sisi utara jetty pada kondisi surut yang dapat menyebabkan berkumpulnya sampah maupun material lainnya dari sekitar perairan Teluk Bima ke kolam jetty FT Bima.

Pada kondisi pasang, tampak arus lebih kuat dari arah selatan sehingga dapat membawa sampah maupun material lainnya dari kolam pelabuhan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Sementara itu, Peneliti dan Ahli Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar, Dr Syafyudin Yusuf menyampaikan, hasil penelitian yang juga dilakukannya menyimpulkan pencemaran buih atau gel di teluk Bima merupakan fenomena alam yang dipicu pertumbuhan plankton terlampau tinggi. Kondisi itu juga dipicu eutrofikasi air laut  atau penyuburan nutrien. “Sumber nutrian berasal dari akomulasi dari teluk Bima yang berasal dari aktivitas pemupukan tanaman dan buangan bahan organik,” terangnya.

Langkah riset yang dilakukan, kata dia, telah membuktikan kronologis  fenomena, baik sumber dan proses oseanofrafi, atmosferic dan geografik.

Dia berharap agar ada upaya menjaga teluk Bima akan tidak terjadi pencemaran ulang. Semua pihak juga harus bekerjasama, termasuk dalam hal data base teluk Bima.  “Pemanfaatan teluk Bima juga harus berkelanjutan,” tutupnya. (BE04)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Bima, Bimakini.-  Fenomena pencemaran laut di teluk Bima pada 24-30 Aril 2022  seluas lebih dari 10 Ha  menjadi atensi Institut Tehnologi Bandung (ITB).  Kamis,...

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Sejumlah pegiat lingkungan se-Nusa Tenggara Barat, yang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Peduli Teluk Bima, Rabu (11/05) sore hingga malam kemarin, menggelar aksi...

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Hasil uji yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Bima terhadap limbah di Teluk Bima, menemukan banyaknya kandungan bakteri. Bakteri itu...

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Setiap libur hari raya, sejumlah obyek wisata pantai selalu ramai dikunjungi warga. Namun, karena ada pencemaran laut di teluk Bima, maka sejumlah...

Peristiwa

Bima, Bimakini.- Tim Bidang Perhutanan Rakyat, Pencemaran dan Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Bima  meinjau teluk yang diduga tercemar, Rabu (27/4/2022). Saat  itu juga...