Connect with us

Ketik yang Anda cari

Olahraga & Kesehatan

Soal Joki Cilik, Pordasi Siap Cari Solusi

Mulyono (paling kiri) bersama Bupati Bima dan komunitas pecinta kuda. //foto dok pribadi.

Kota Bima, Bimakini.-

Ketua Komisi Pacu, Pordasi NTB,  Mulyono mengaku sangat terbuka untuk membahas solusi terbaik terkait dengan polemik joki cilik.

Pria yang akrab disapa Baba Ngeng ini kepada Bimakni.com mengakui, pihaknya siap untuk membahas joki cilik. Hal penting karena menyangkut masa depan olahraga pacuan kuda di NTB, khususnya di Pulau Sumbawa. ‘’Kami sangat terbuka untuk sama-sama mencari solusinya agar pacuan kuda tetap bisa jalan seperti biasa, tetapi tidak ada aturan yang dilanggar,’’ ujarnya.

Dia menyebutkan, ada banyak orang yang terlibat dalam kegiatan pacuan kuda ini. Sebagai gambaran, sekali pertandingan saja, pendaftarnya bisa lebih dari seribu kuda. Setiap kuda, itu melibatkan bukan hanya pemilik dan keluarga, tetapi juga perawat, joki, dan pelatih. ‘’Banyak orang hidup dari kegiatan ini,’’ katanya.

Diakuinya, joki cilik masih ada di Bima, bukan semata karena tradisi, tetapi memang ukuran kudannya yang juga kecil. Tidak bisa dibandingkan dengan kuda nasional. Bahkan jika dibandingkan dengan kuda di daerah lain, kuda Pulau Sumbawa ukurannya memang kecil. ‘’Tidak mungkin kuda kecil jokinya orang berbadan besar,’’ jelasnya.

Pihaknya berharap, pacuan kuda tidak dihentikan begitu saja karena masalah joki cilik. Perlu duduk bersama untuk menemukan formula yang tepat, sehingga ditemukan jalan tengahnya. ‘’Supaya kita tidak melanggar aturan, kegiatan pacuan kuda juga tetap bisa dipertahankan,’’ harapnya.

Sebagai mantan pengurus Pordasi Kabupaten Bima, Baba Ngeng dan kawan-kawannya, bukan tanpa upaya terkait joki cilik ini. Mereka sudah bersurat juga ke Pordasi Pusat. Tetapi, kondisi Bima dan Pulau Sumbawa khususnya, punya keunikan tersendiri. ‘’Karena kuda kita paling besar ukuram hanya 124,’’ tambahnya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Baba Ngeng mengaku, pihaknya juga terus berupaya untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan joki dari waktu le waktu. Untuk keselamatan, sudah ada pelindung kepala dan pelindung dada. Yang belum ada hanya pelindung kaki. ‘’Ini agak sulit karena orang tua joki juga harus punya kesadaran tinggi terkait keselamatan ini,’’ tambahnya.

Demikian pula dengan fasilitas kesehatan setiap kali pacuan kuda berlangsung. Panitia selalu menyediakan fasilitas dan tenaga kesehatan. ‘’Ada ambulans, tenaga kesehatan, juga kami siapkan Puskesma atau Rumah Sakit rujukan, kalau kondisinya berat,’’ katanya.

Tetapi menurutnya, kasus kecekakaan sebenarnya tidak juga sering terjadi. ‘’Selama saya mengurus pacuan kuda ini, baru dua kali kecelakan fatal yang menyebabkan korban jiwa,’’ tambah Baba Ngeng.

Dari dua kali kecelakaan itu, satunya adalah saat melakukan latihan mandiri.  Bukan kecelakaan saat pacuan kuda. ‘’Jadi itu di luar pengawasan Pordasi,’’ ujarnya.

Kelemahan-kelemahan itu, diakuinya terus diperbaiki agar pacuan kuda di masa datang, semakin nyaman dan aman. ‘’Jika ada aturan yang kami langgar, kami siap mencari jalan terbaik untuk perbaikan. Mari kita carikan solusi terbaiknya. Intinya, kami pasti mau diatur,’’ ujarnya.

Diakui Baba Ngeng, pacuan kuda adalah hobi sekaligus prestise. Ada kebanggaan kalau kuda menang, selain untuk melestarikan tradisi. Jika kuda bisa meraih kemenangan, nilai ekonomisnya menjadi tinggi. Akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sapi atau kerbau.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Muncul Surat Edaran (SE) Bupati Bima, diakui sangat mengejutkan komunitas pecinta kuda. Apalagi saat ini sedang ada laporan pidana yang masuk ke Polda NTB. ‘’Jujur saat ini kami sedang fokus menghadapi laporan dugaan pidana di Polda NTB itu. Dengan munculnya SE ini, kami juga kaget sekali. Makanya banyak anggota yang bereaksi,’’ jelasnya.

Sebelum lahirnya SE, mestinya Pordasi diajak juga. Apalagi Plt Podasi saat ini, Irfan Odu dan mantan ketua, Ir Nggempo adalah orang dalam di Pemerintah Kabupatem Bima. ‘’Mestinya bisa diajak duduk bersama mendesain solusi terbaik,’’ katanya.

Pordasi NTB yang saat ini diketuai Kader Jaelani, Bupati Dompu, akan ada melaksanakan Rapat Kerja (Raker) setelah pelantikan pengurus periode 2022-2026. ‘’Kita pasti akan membahas soal joki cilik ini. Ini manjadi agenda penting kami,’’ ujarnya.

Menurut rencana, untuk merespon SE Bupati Bima, komunitas penyuka pacuan kuda, akan rapat lagi.  ‘’Anggota resah, sedang cari solusi yang terbaik. Besok ada pertemuan dan rencana aksi. Saya sarankan sesuai aturan saja misalnya mengirim surat pemberitahuan kepada polisi dan tertib dalam menyampaikan aspirasi,’’ katanya.

Ditanya hubungan kerja antara pemilik kuda dengan joki, diakuinya beda setiap pemilik kuda pacuan. Ada yang terikat dan dijamin, ada juga bebas. ‘’Itu tergantung masing-masing pemilik kuda, karena tidak ada aturan yang baku,’’ tuturnya. (rk)

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  SAYA ini kadang iseng. Bertanya kepada orang lain tentang cita-cita masa kecil seseorang. Itu agak privasi. Bisa jadi juga, itu rahasia. Tidak pernah...

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

NAMANYA Fiudin. Kami memanggilnya Fiu. Tetangga saya di bukit. Selain bertani, Fiu mengurus kuda-kuda pacuan. Ada beberapa ekor kuda di kandang belakang rumahnya. Awalnya,...

CATATAN KHAS KMA

INI bukan tentang wong cilik, jualan partai saat dekat Pemilu. Ini benar-benar tentang joki, penunggang kuda yang umurnya masih sangat-sangat belia. Masih duduk di...

CATATAN KHAS KMA

SETELAH melewati Rumah Sakit Kabupaten Bima, jalanan macet total. Saya tidak yakin ada gendang Beleq yang lewat seperti di Lombok. Tidak biasanya di Bima...