Connect with us

Ketik yang Anda cari

Opini

Lapas, Tempat Merenung

Seherman saat berkunjung di Lapas Dompu

Oleh : Suherman, Pegiat Sosial, Politik dan Pemerintahan di Kabupaten Dompu

Saya menulis pengamatan dan pengalaman sewaktu berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Dompu, Senin, 1 Agustus 2022.

Saya tiba disana sekitar pukul 09.40 Wita. Saya parkir motor dihalaman tanpa dimintai sewa atau bayar karcis. Disana ada petugas yang mengatur.

Dulu saya beberapa kali ke situ untuk sosialisasi Pemilu saat menjadi penyelenggara pemilu. Penampakan kantor nya jauh lebih baik, lebih bersih dan lebih tertata daripada beberapa tahun lalu.

Meski punya yunior “orang dalam” yang bertugas disitu tapi saya tetap mengikuti prosedur kunjungan. Saya mendaftar di loket, diminta menunjukkan KK dan kartu Vaksin.

Semuanya tersistem, melalui monitor petugasnya nge-cek tahanan dan langsung memprint out selembar kertas yang berisi identitas pengunjung dan identitas tahanan yang memuat foto, nama, dan jenis kasusnya serta disitu juga terpampang nomor antrian.

Saya mendapat antrian nomor 4, dari loket pendaftaran saya beranjak ke tempat pemeriksaan. Saya antri. Saya lihat petugas memeriksa barang bawaan orang-orang yang akan berkunjung secara detail dan teliti.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Bahkan saya lihat makanan yang sudah dibungkus dibuka dan diperiksa. Saya pikir itu wajar, demi keamanan tahanan dan juga mengantisipasi hal-hal lain seperti peredaran narkoba yang tengah marak di Lapas.

Seluruh barang seperti HP, dompet dan sebagainya tidak boleh dibawa masuk. Semua dititip ditempat yang telah disediakan. Termasuk punya saya.

Tiba giliran saya dipanggil, setelah masuk saya diperiksa oleh petugas. Setelah dipastikan aman. Saya di persilahkan masuk di ruang pertemuan dengan tahanan yang sebelumnya saya dikasih kartu kunjungan yang dikalungkan.

Melalui corong petugas kemudian memanggil Bang Faishal-senior saya yang terlibat kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Saat menunggu Bang Faishal, saya melihat ada tahanan-seorang pemuda yang haru bahkan meneteskan air mata saat mendapat kunjungan anaknya yang masih balita. Dia peluk anaknya dengan penuh kasih sayang.

Di sisi lain, saya lihat pria paruh baya yang dikunjungi isterinya yang seumuran. Mereka tampak bahagia.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ada seorang Ibu renta yang menjenguk anaknya yang entah kasus apa. Dari raut wajahnya yang lusuh, masih terpampang cinta dan kasih sayang kepada si anak. Meski si anak telah menjadi tahanan.

Sejenak saya merenung, andai orang tua/anak, isteri/suami itu adalah saya. Tidak, saya tidak sanggup.

Lebih dalam saya merenung, bahwa tahanan ini adalah pembatas atau pemisah kebahagiaan antara seorang suami dengan isteri, seorang orang tua dengan anak, antara kekasih dengan kekasih.

Untuk itu, dalam relung jiwa. Saya tidak boleh melakukan kejahatan. Tidak boleh dan harusnya kita semua.

Dalam renungan itu, tiba-tiba saya melihat Bang Faishal datang. Kamipun bincang-bincang.

Didalam Lapas suasananya nyaman, asri, tempat-tempatnya tertata dengan baik dan rapi. Semuanya bersih.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Petugasnya juga saya lihat, kebanyakan anak-anak muda yang profesional, santun dan kelihatan bersahabat. Tidak ada kesan angker sebagimana cerita tentang Lapas di masa lalu.

Bang Faishal juga bercerita tadi, beliau mendapat perlakuan yang baik, layak dan manusiawi di dalam Lapas.

Harusnya begitu, Lapas itu adalah tempat dimana manusia-manusia hina yang telah melakukan kejahatan dididik, dibina dan dilatih sehingga keluar dari tahanan telah bersih jiwa dan raganya, telah memiliki keterampilan serta nantinya dapat diterima masyarakat.

Setelah sekitar satu jam berkunjung, petugas lapasnya memberitahu bahwa waktu kunjungan telah berakhir. Saya pun pamit pulang.

Dipintu keluar, saya melihat dua orang gadis remaja membawa bunga buatan. Diluar saya tanya ” Itu bunga dari mana dek”. Sang gadis menjawab, ini bunga dibuat abang saya di dalam.

Tadi waktu didalam saya lihat, abangnya juga seorang tahanan. Pikir saya, itu hasil dari kreatifitasnya di dalam.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Akhirnya, Lapas itu salah satu tempat merenungi kehidupan yang refektif dan nyata. Sebagaimana Rumah Sakit dan Kuburan. Tempat mengambil pelajaran dan hikmah agar tidak melakukan kejahatan. Insha Allah!!

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Peristiwa

Dompu, Bimakini.- Upaya untuk mencegah penularan Covid19, pihak Lapas II B Dompu berkerjasama dengan Kepolisian, Kejaksaan dan Mahkamah Agung dengan LP tidak lagi menerima...