Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Apakah Bima masih Layak Huni?

JUDUL webinar nasional ini, kesannya serem. Serem banget! Bisa jadi karena ini, ada yang enggan menjadi peserta. Terutama dari kalangan pemerintah.

Kendati begitu, pesertanya banyak juga. Hampir 100 orang. Pembicara, hadir semua. Hanya penanggap dari Pemkot Bima yang ‘mangkir.’

Seminar online via zoom ini, tentu menarik. Lihat saja temanya. Sangat memyeramkan. Saya tidak bisa bayangkan kalau ada pembicara yang menyimpulkan begini: Bima tidak lagi layak untuk dihuni. Seperti rumah yang mau ambruk, maka keluarga yang tinggal di situ harus pindah. Bima akhirnya bisa menjadi kota mati.

Saya tidak heran, jika durasinya bisa begitu lama. Lebih tiga jam. Moderator, Dr Syafyudin Yusuf baru menutup setelah waktu shalat dzuhur lewat 30 menit. Itu pun, setelah berkali-kali memotong pembicaraan peserta asal Parado. Namanya, Daus Parado. Dia begitu semangat dan berapi-api. Pria ini tegas menyebut agar tidak saling menyalahkan. Apalagi menyalahkan petani jagung terkait dengan kondisi Bima belakangan ini. Mereka tidak layak menjadi ‘terdakwa’ tunggal dalam kasus kerusakan lingkungan. Mereka butuh pemberdayaan, Mereka butuh hidup. Tugas pemerintah dan semua kita, adalah mencari solusinya. Begitu kata Daus.

Daus menyebut, sejak lima tahun lalu, sedang berjuang mengembalikan hutan hijau kembali. Itu dilakukan di sejumlah desa di Kecamatan Parado. Lebih 300 hektar sudah mulai terlihat hasilnya. Dia tidak sendirian. Ada dukungan pihak lain dalam program itu.

Daus berharap, semoga dengan cara memberi contoh seperti itu, petani bisa berdaya. ‘’Kita harus memikirkan kebutuhan jangka pendek, jangka menengah, dan jangkan panjang mereka,’’ tegasnya.

Menarik, pemaparan Dr Arifuddin Idrus. Dosen dan peneliti ini menyebut, Kota Bima adalah ciptaan Allah SWT yang tidak akan membawa bencana, jika keseimbangan alamnya terjaga. ‘’Sedikit saja terganggu dalam pemanfaatan lahannya, maka keseimbangannya akan terganggu,’’ kata dosen Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada Jogjakarta ini.

Dr Arif memang tidak masuk jauh dalam konteks keseimbangan alam itu, karena bukan bidang keahliannya. Tetapi dia memperlihatkan data geologi dan stratigrafi Pulau Sumbawa berdasarkan banyak referensi.

Katanya, alam Bima di sisi selatan, jauh lebih tua dari sisi utara. Dan dahulu, merupakan wilayah laut. Di Oi Fo’o misalnya, ada batu kapur yang hanya bisa terbentuk karena sebelumnya wilayah itu merupakan laut.

Mengapa ada kandungan emas di sisi selatan Pulau Sumbawa? Itu karena usianya yang lebih tua dari tanah Bima di sepanjang sisi utara. Perbedaan usianya pun, sungguh jauh sekali. Jutaan tahun.

Webinar ini, tentu bukan untuk membahas isi bumi. Tetapi tentang banjir yang terus menghantui. Kata pria kelahiran Donggobolo Woha yang besar di Kota Bima ini, ada beberapa faktor penting sebagai penyebab banjir. Di antaranya, perubahan pemanfaatan lahan di hulu hingga hilir. Juga karena bantaran sungai yang kian sempit, sungai yang mendangkal, drainase kota yang kurang baik, dan penataan ruang yang belum memadai.

Lainnya adalah faktor alam dan iklim. Kota Bima dikelilingi oleh perbukitan vulkanik yang relatif muda, serta badai tropis Yvette yang menyebabkan curah hujan tinggi. ‘’Bahkan tertinggi dalam 50 tahun terakhir,’’ ujarnya.

Pembicara lain, dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Ir Muktazam, Ph.D. Calon guru besar kelahiran Bima tahun 1961 itu menyebut, sudah melakukan penelitian di Dompu. Hal itu dilatarbelakangi oleh kemiskinan dan pengangguran serta degradasi hutan dan banjir akibat penanaman jagung.

Bukan hanya Dompu karena ikut-ikutan Gorontalo, tetapi daerah asal program jagung itu pun diteliti. Kondisi alam Dompu dan Gorontalo, sama parahnya. Hutan menjadi korban.

Dudi Fakhruddin membahas untung rugi usahatani jagung. Praktisi konsultan keuangan yang juga pendiri Mbojo Hijau Kembali (MHK) ini menyebut, untung dalam terminologi ekonomi, adalah harga jual dikurangi biaya sejak persiapan produksi sampai penjualan.

‘’Para petani tidak sepenuhnya paham apa itu keuntungan. Mereka tidak menghitung biaya tenaga kerja untuk mereka sendiri,’’ katanya.

Pembicara lain, Julhaidin melihat kerusakan sosial akibat banjir di Kota Bima dari sisi polarisasi sikap antara petani jagung dengan masyarakat. Mereka sudah saling menyalahkan. ‘’Wa’ura cua sagei angi (sudah saling mencurigai),’’ katanya.

Tiga jam lebih saya pelototi webinar ini. Tidak ada kesimpulan serem seperti tema di atas. Ada optimisme untuk bersama memperbaikinya. Sebelum benar-benar menjadi kota hantu. Sebelum menjadi kota yang tidak layak untuk dihuni. Dr Syafyuddin Yusuf menyebut tema itu sebagai pemantik dinamika diskusi. Misi ini sukses.

Banyak peserta webinar berharap, kegiatan seperti itu terus berlanjut. Temanya, tentu berdasarkan kebutuhan dan sesuai kondisi yang sedang terjadi di daerah.

Ini sumbangsih pemikiran dari masyarakat intelektual Bima di rantauan. Pemangku kebijakan, perlu sungguh-sungguh menyimaknya. Agar Bima tetap menjadi tempat yang layak untuk dihuni. Atau, ya menjadi syurga bagi penghuninya. Semoga! (khairudin m. ali)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...