Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (1)

        BERIBADAH ke tanah suci Mekkah, pasti menjadi idaman setiap umat muslim. Selain berhaji yang kini kian sulit karena masa tunggu dan biaya, pilihan lain adalah ibadah umrah. Berikut catatan perjalanan pembaca Bimakini.com, H Dudi Fakhruddin yang ditulis secara bersambung:

Rencana Dadakan

HARI yang dinanti pun tiba. Ini setelah kunjungan terakhir 12 tahun yang lalu ke tanah suci Mekkah. Hari ini kami berdua bersama putri sulung kami, Yasmin Latifah, akan melaksanakan ibadah umroh ke tanah suci.

Rencana keberangkatan ini tidak terlalu dipersiapkan jauh-jauh hari. Kepastian keberangkatan baru kami putuskan sekitar sebulan sebelum keberangkatan hari ini. Awalnya, putri sulung kami, mempunyai niat yang kuat untuk berangkat umroh dengan hasil keringatnya sendiri. Alhamdulillah, penghasilannya untuk kali pertama bekerja dia sisihkan setiap bulan untuk biaya umroh.

Rencananya, dia akan berangkat dengan teman satu alumni. Tetapi dua bulan lalu, temannya membatalkan keberangkatan. Kami, orangtuanya juga jadi kepikiran. Siapa yang akan menemani dia disana. Walaupun travel biro penyelenggara umroh yang akan diikuti masih milik famili. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pergi bersama. Karena kami juga ada rencana, jika ada rezeki.

Kami akhirnya mendaftarkan diri, walaupun biaya belum tersedia. Kami hanya membayar uang muka saja, masing-masing Rp 5 juta. Itu pun, ditalangi oleh putri kami. Alhamdulillah rezeki itu hadir dua minggu sebelum tanggal keberangkatan dan kami bisa melunasi kewajiban biaya umroh.

Karena dadakan, saya dan istri baru sempat memperpanjang paspor dua pekan menjelang keberangkatan. Alhamdulillah lancar. Selesai tepat waktu. Salut kepada Kantor Imigrasi Cipinang atas kinerjanya. Pengurusan langsung tanpa perantara itu keluar empat hari kerja sesuai standar kerja Imigrasi.

Mulai Januari 2024 ini pemerintah tidak lagi mewajibkan vaksinasi virus Meningitis. Tetapi saya dan istri tetap melakukan vaksinasi Miningitis untuk mengatisipasi kemungkinan penularan selama di tanah suci. Putri kami juga sudah melakukan vaksinasi bulan lalu sebelum ada perubahan aturan peniadaan vaksin meningitis. Saat musim dingin seperti saat ini, di dua kota suci, biasanya jamaah juga secara sukarela melakukan vaksinasi virus influenza. Hal itu untuk mengantisipasi flu dan pilek yang bisa menganggu kekhusukan beribadah. Tetapi kami tidak melakukan vaksinasi influenza.

Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah koneksi internet di handphone (HP). Biasanya provider menawarkan paket umroh. Paket seperti ini biasanya lebih praktis dan murah, sehingga komunikasi menjadi lebih lancar. Usahakan tidak menggunakan telepon biasa karena akan terkena tarif roaming yang cukup mahal. Telpon satu menit saja biayanya bisa ratusan ribu.

Ke Bandara Soekarno Hatta

Pukul 03.00 dini hari, kami berangkat ke Bandara Soekarno-Hata. Perjalanan dari rumah kami hanya sekitar satu jam. Kami tiba sesuai jadwal yang diatur oleh travel biro. Kami memang diminta untuk hadir empat jam sebelum keberangkatan. Hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan hambatan di perjalanan atau jika ada masalah adminstrasi yang harus di persiapkan. Paspor yang minggu lalu dikumpulkan dan dipegang oleh travel biro untuk pengurusan visa dan tiket, dikembalikan oleh petugas bandara kepada kami. Karena pada saat check ini, setiap orang harus bisa menunjukkan paspor, visa, dan boarding pass.  Tidak boleh diwakilkan.

Segala urusan admistrasi berjalan lancar. Kami sempat berfoto bersama seluruh jamaah umroh sebelum memasuki ruang tunggu terminal keberangkatan.

Memasuki ruang tunggu keberangkatan internasional, harus melewati pintu pemeriksaan imigrasi. Seluruh proses keimigrasian berjalan lancar dan kami masuk ruang tunggu sampai kami boarding sekitar pukul 07.00 pagi. Pesawat Saudi Air yang kami tumpangi lepas landas sekitar pukul 08.00 WIB.

Di Atas Pesawat Saudi Air

Barcode di layar untuk dihubungkan dengan handphone penumpang.

Selama perjalanan di pesawat semua berjalan lancar. Hanya sedikit goncangan karena cuaca berawan selepas melewati Sumatera. Perjalanan langsung menuju Madinah dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam. Perjalanan langsung pesawat terlama yang pernah saya jalani. Pada perjalanan haji sebelumnya kami menggunakan pesawat Emirates yang transit di Dubai dan transit menggunakan pesawat yang lebih kecil ke Jeddah. Umroh duabelas tahun yang lalu menggunakan Garuda yang terbang langsung dari Jakarta ke Jeddah sekitar delapan jam lebih.

Saya memanfaatkan waktu perjalanan panjang dengan melanjutkan membaca The Fall of Khilafah karya Eguene Rogan. Sejarah Timur Tengah khususnya jelang berakhirnya kekhalifahan Utsmaniyah (Otoman). Lumayan efektif membunuh kebosanan perlananan jauh. Waktu perjalanan juga diisi dengan memulai lagi mengaji dari zus pertama dengan harapan bisa khatam dalam perjalan umroh ini.

Saat berada di atas langit jazirah Arab, melihat kebawah dari balik jendela pesawat, sejauh cakrawala memandang hanya terlihat gurun pasir tak bertepi. Tidak bisa membayangkan perjalanan darat yang dilalui oleh jamaah haji dan umroh zaman dahulu.

Perjuangan keberangkatan jamaah haji ketika itu, sungguh luar biasa. Bahkan bisa mempertaruhkan hidup dan mati. Tidak salah jika kalau diantar orang sekampung, diiringi air mata keluarga besar. Kebiasaan ini masih dilakukan oleh jamaah calon haji di daerah.

Kita yang hidup di era modern saat ini, sangat terbantu dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi yang semakin cepat dan canggih.

Sebagian orang menikmati streaming video yang tersaji di atas pesawat. Untuk sebagian pesawat Saudi Air, sudah tidak menyalakan layar video yang terpasang disisi belakang kursi. Layarnya sudah ditutup dengan stiker berisi barcode yang harus di-scan melalui kamera HP. Selanjutnya penumpang menikmati tontonan dari HP, setelah tersambung dengan koneksi wi-fi di pesawat. Tentu ini juga cukup menyulitkan bagi sebagian jamaah umroh, apalagi yang sudah sepuh dan gaptek.

Perjalanan hampir mencapai bandara tujuan, Prince Muhammad Bin Abdul Azis Airport Madinah. Ada sedikit goncangan jelang landing. Di celah jendela di ketinggian sekitar 200 mdpl (meter di atas permukaan laut),  yang kami lihat rumah-rumah hanya berbentuk kotak-kotak. Mayoritas ada dua warna, putih dan krem (kuning muda). Itulah kekhasan bangunan rumah di jazirah Arab, khususnya Saudi Arabia.

Selamat Datang di Madinah Al Munawarrah.

Welcome to Madinah.

Setelah landing, flight attendant (kru pesawat) mengucapkan Marhaban wa ahlan bikum fii madinatul munawarah. Selamat datang di Madinah al Munawarah.

Kami turun dan antre di depan imigrasi. Masing-masing orang memegang paspor untuk diserahkan kepada petugas Imigrasi. Semua counter imigrasi diawaki oleh wanita saudi yang bercadar. Kita tidak dapat mengenali karena hanya mata dan sedikit bagian atas hidung terlihat. Yang bisa dipastikan lebih mancung dari kebanyakan bangsa kita.

Pemeriksaan umumnya berlangsung cukup cepat. Setelah paspor diserahkan, kita diminta untuk scan empat jari tangan kanan dan kiri, serta wajah dihadapkan ke kamera untuk diambil foto kita.

Scan sidik jari kadang-kadang sulit mengidentifikasi jari yang kasar atau jari yang orang-orang yang sudah sepuh. Ada seorang nenek-nenek di depan kami sulit sekali di-scan jarinya. Petugas sudah memberikan cairan pembersih tangan beberapa kali, tetapi tidak berhasil juga. Petugas bercadar itu terlihat hampir putus asa dan berusaha memanggil petugas lain. Alhamdulillah nenek-nenek itu akhirnya bisa lolos dari pemeriksaan petugas imigrasi Saudi.

Setelah melewati petugas Imigrasi kami menuju bus yang menjemput rombongan ke hotel yang berada di sekitar Masjid Nabawi. Saya duduk di kursi paling depan, tepat di atas supir sehingga leluasa bisa melihat kota Madinah dari sudut pandang yang lebih luas.

Di atas bus, para jamaah umroh mendapat paket makanan cepat saji Al-baik. Masing-masing mendapat satu porsi ukuran jumbo (rupanya ukuran standar). Isinya, kentang goreng dan empat potong ayam goreng yang sangat jumbo. Satu kotak makan berduapun tidak habis. Rupanya paket fast food Al-baik ini sangat terkenal saat ini, sehingga menjadi favorit dan kadang dijadikan oleh-oleh saat pulang ke tanah air. Sisa makanan yang belum termakan kami bawa untuk dimakan di penginapan.

Dalam perjalanan menuju hotel kami terus mengunandangkan talbiyah yang dituntun oleh Muthawif. ‘’Labbaik allahumma labaik… labaik kalaa syarii kalla kalla baik…..’’

Sepanjang perjalanan menuju ke hotel sekitar 30 menit, kami menyaksikan suasana khas jalanan di Madinah yang lebar-lebar. Bangunan kiri kanan jalan agak berjarak dengan sempadan jalan. Suasana berubah memasuki pusat kota madinah, bangunan gedung sangat padat bahkan tidak berjarak dengan jalan raya. Para pejalan kaki juga berjalan di pinggir jalan raya yang tidak bertrotoar. Suasana khas pusat kota Madinah selalu ramai dengan jamaah yang lalu lalang menuju dan pulang dari Masjid Nabawi (Bersambung/KMA)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...