Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (10)

Foto bersama di halaman museum replika.

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air

’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel yang lumayan nyaman. Sangat jarang hotel di Mekah dan Madinah yang memiliki pelataran dan ruang parkir terbuka.’’ tulis H Dudi Fakhruddin dalam bagian akhir dari sepuluh edisi catatannya.  

HOTEL yang kami tempati memiliki pelataran yang ditata apik dengan tempat duduk outdor. Saat pertama sampai di hotel ini empat hari yang lalu, juga cukup surpise buat saya, melihat ada kursi outdor yang sebelumnya tidak pernah saya lihat di Mekah dan Madinah.

Semua barang bawaan sudah dimasukkan ke bagasi bus, termasuk tas kabin. Hampir seluruh jamaah memasukkan ke bagasi bus yang selanjutnya akan masuk bagasi pesawat. Saya tetap membawa tas kabin karena ada laptop untuk antisipasi adanya pekerjaan penting. Seluruh jamaah mendapat dua tas dari travel. Satu berbentuk koper yang pasti masuk bagasi pesawat, satu lagi tas kabin yang bisa disimpan di kabin pesawat.

Kami baru berangkat menuju Jeddah sekitar pukul 15.00. Perjalanan ke Jeddah akan ditempuh sekitar satu setengah jam. Sepanjang perjalanan kiri kanan kita disuguhi pemandangan gurun dan bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi. Hampir seluruh lokasi juga ditumbuhi rumput yang sama seperti dalam perjalanan ke Thaif. Selain rumput ada juga pepohonan rimbun yang tidak terlalu tinggi.

Sore itu kami menyaksikan banyak pelancong lokal yang mengisi waktu dengan melihat matahari terbenam. Mereka menggelar karpet di gurun yang ditumbuhi pohon dan rumput. Mereka duduk santai di samping mobil yang mereka parkir. Mungkin ada ratusan rombongan keluarga di sepanjang jalur menuju Jeddah. Mereka terpisah cukup jauh antara satu rombongan/keluarga dengan rombongan lain. Kadang kami temukan kawanan Onta yang sedang merumput.

Mampir di Museum

Dalam perjalanan antara Mekkah-Jeddah, rombongan kami memanfaatkan waktu untuk tur ke museum kecil yang dikelola secara privat.

Museum ini berisi beberapa replika yang dimanfaatkan untuk foto selfie atau pose seakan sedang mencium hajar aswad. Sesuatu yang sangat kecil kemungkinan kita busa lakukan di lokasi aslinya.

Museum ini sebetulnya berupa beberapa bangunan kecil replika seperti kondisi bangunan Arab zaman dahulu yang dibangun dengan material tanah. Masih sangat jauh dari kelayakan disebut sebagai museum. Fasilitasnya sangat minim, tidak ada musholla. Konten yang ditampilkan dalam “museum” ini juga sangat minim, terkesan seadanya. Bahkan di salah satu bilik rumah-rumahan hanya diisi dengan kaleng minuman soda tahun 90-an, kaleng buskuit dan beberapa kaleng/bungkusan barang  kelontong era 90-an.

Di sini tetap dijual makanan standar, pop mie. Beberapa jamaah malah asik menyantap pop mie produksi Indofood yang juga ditulis dalam aksara Arab, dibanding masuk berlama-lama dalam museum ini.

Awalnya saya pikir kunjungan ke sini free of charges alias gratis, karena pemilik museum tidak menarik biaya tiket masuk. Ternyata informasi yang saya peroleh, rupanya pihak travel yang membayar tiket untuk rombongan jamaah.

Kami mampir sekitar satu jam. Kami melanjutkan perjalanan ke Jeddah menuju pasar Balad. Pihak travel memberitahukan bahwa jamaah umroh baru diizinkan ke Bandara King Abdul Azis Jeddah pada pukul 23.00, artinya masih banyak waktu untuk belanja atau sekadar menghabiskan sisa uang riyal yang dibawa oleh jamaah.

Pihak otoritas Bandara King Abdul Azis rupanya memiliki aturan ketat kapan  rombongan jemaah dapat masuk bandara. Menurut jadwal, kami akan boarding pada pukul 02.40 waktu Jeddah, dan baru diperbolehkan masuk bandara sekitar pukul 23.00. Artinya paling cepat bisa masuk bandara sekitar empat jam sebelum boarding. Hal ini untuk menghindari penumpukan penumpang di area bandara.

Toko di Pasar Balad yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Karena waktunya masih leluasa, kami diantar ke pasar Balad untuk mencari “tambahan” oleh-oleh. Rombongan kami memasuki toko souvenir. Tidak banyak yang berbelanja, karena beberapa barang yang dijual, umumnya lebih mahal dibanding di Madinah atau Mekkah. Rupanya Ibu-ibu jamaah sudah “mengerti harga”. Untuk beberapa jenis barang, di pasar Balad ini menawarkan harga yang lebih murah. Misalnya parfum merek internasional atau lokal, dan sepatu. Harganya bisa lebih murah dari Jakarta.

Saat Umroh sebelas tahun lalu, saya sempat membeli parfum yang biasa saya pakai. Kebetulan parfum merek dan tipe itu sudah saya pakai lebih dari dua puluh tahun terakhir. Tetapi merek dan tipe yang sama, sudah sulit diperoleh. Saya keluar masuk beberapa toko rupanya sudah jarang diproduksi.

Akhirnya saya membeli merek yang sama tetapi dengan seri/tipe yang sedikit berbeda. Jika saya bandingkan dengan harga di Jakarta, di pasar Balad ini jauh lebih murah.

Saya sempat memperbaiki kacamata yang gagal dilakukan di Mekkah. Di pasar Balad ini banyak toko kacamata. Masalah kacamata saya  dapat teratasi dengan biaya 10 Riyal atau setara Rp43 ribu. Sebetulnya cukup mahal untuk sekedar mengganti dua biji material plastik yang pengganjal kacamata yang menempel di hidung.

Hal yang menarik di pasar Balad ini adalah nama-nama toko (yang berdiri terpisah dari pasar) kebanyakan dinamai untuk menarik pembeli asal Indonesia. Ada toko Ziaa Murah, Toko Gani Murah, toko Amin Murah, Toko Kabayan, Bakso Presiden, Bakso Bang Loai dan lain-lain dalam Bahasa Indonesia.

Rata-rata saat ini belanja di toko-toko itu akan dapat dilayani dengan bahasa Indonesia walaupun terbatas. Juga bisa belanja dengan mata uang rupiah. Jika tidak memiliki uang tunai, petugas toko akan dengan senang hati mengantar ke ATM terdekat untuk menarik uang Riyal dari kartu ATM bank Mandiri, BNI, BCA atau bank lain yang berlogo Visa.

Saya sendiri mencoba menarik uang tunai sebesar 150 Riyal, dan rekening saya didebet/dipotong sebesar Rp638.028. Artinya kurs yang digunakan adalah hanya Rp4.253, padahal itu termasuk biaya transfer antar negara. Jadi lebih murah dibanding saya tukar riyal di Indonesia Rp4.300 untuk satu riyal.

Jadi sebetulnya kita tidak perlu kuatir harus menukar uang Riyal sebelum berangkat, karena kita bisa ambil tunai dengan kartu ATM bank di Indonesia di ATM Riyad Bank. Nilainya masih lebih bagus dibanding tukar riyal di Indonesia.

Makan di Restoran Wong Solo

Restoran Wong Solo berada di atas Toko Gani Murah ini.

Usai belanja dan menghabiskan sisa riyal, rombongan jamaah kami makan malam di salah satu rumah makan di Balad. Namanya rumah makan Wong Solo. Waktu diberitahu makan di reatoran Wong Solo terbayang rumah makan yang dimiliki oleh Puspo Wardoyo dengan menu “Poligami”. Ternyata berbeda. Rumah makan Wong Solo yang kami tuju ternyata rumah makan yang sederhana, tidak seperti Rumah Makan Wong Solo di Indonesia yang terkesan mewah.

Letaknya di lantai dua kompleks pertokoan. Akses masuknya di samping Toko Gani Murah. Sebagian rombongan naik tangga, sisanya lagi naik lift kecil yang hanya muat lima orang. Saya termasuk rombongan terakhir yang naik lift. Agak deg-degan karena ternyata filt-nya sangat aneh bagi kita.  Buka pintunya ditarik keluar seperti pintu rumah. Demikian juga kalau menutup, ditarik dari dalam seperti menutup pintu rumah. Saat lift naik ternyata tidak ada penutup pintu bagian dalamnya, sehingga tembok lantainya terlihat saat lift naik. Kita tidak boleh berdiri terlalu kepinggir dekat pintu, bisa terjepit.

Di  lantai dua, rumah makannya tidak langsung terlihat. Keluar dari lift, belok kiri harus masuk pintu yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau itu pintu masuk restoran. Kami awalnya tidak tahu, jika tidak diberitahu orang yang duduk di tangga lantai dua itu. Ternyata setelah buka pintu itu baru menemukan rumah makan. Di sini kami makan betul-betul rasa Indonesia asli. Berbeda dengan rasa makanan Indonesia di Hotel.

Kami duduk makan sampai sekitar pukul 22.00 malam hingga kami harus keluar karena rumah makan sudah mau tutup. Turun dari rumah makan kami masih harus menunggu bus sekitar sejam di depan toko Ziaa Murah.

Ke Bandara King Abdul Azis

Suasana dalam LRT yang mengantar ke ruang tunggu di Bandara King Abdul Azis.

Sekitar pukul 23.00 kami menuju Bandara King Abdul Azis. Kami masuk terminal baru yang yang mulai dioperasikan akhir 2019. Kami mendapat pengumuman dari pengurus travel bahwa untuk terminal baru ini berlaku aturan baru. Setiap jamaah harus membawa sendiri koper dan barang bagasi lainnya ke dalam terminal sampai ke counter check-in. Sebelumnya para jamaah tidak mengerjakan hal ini,

Biasanya hanya petugas travel berkoordinasi dengan pihak bandara untuk mengangkut seluruh bagasi ke dalam terminal. Akhirnya kami harus mengangkut sendiri koper dan barang bagasi lainnya. Hal ini menyebabkan mengularnya antrian jamaah yang mendorong troly bagasi.  Hal ini juga berakibat proses pencetakan boarding pass dilakukan bertahap. Disamping koper yang akan masuk bagasi, kami juga menerima jatah air zamzam masing-masing lima liter yang juga akan dimasukkan di bagasi pesawat.

Terminal baru ini sangat megah. Interior dan plafonnya didominasi pencahayaan lampu berwarna biru. Hanya saja di ruang check-in tidak banyak disediakan kursi, sementara pihak travel belum mengijinkan sebagian jamaah yang sudah mendapat boarding pass karena kuatir tidak paham alur masuk dalam terminal.

Karena terjadi penumpukan penumpang di area counter check-in, petugas bandara meminta penumpang yang sudah  check-in untuk masuk ke ruang tunggu di dalam. Sementara pengurus travel belum tuntas mengurus semua boarding pass. Negosiasi berlangsung alot, akhirnya sebagian jamaah yang sudah mendapat boarding pass masuk terlebih dahulu dengan salah seorang pengurus travel.

Saya termasuk rombongan yang masuk terakhir. Saya harus membawa masuk sebagain barang yang tadinya masuk bagasi, tetapi tidak diterima oleh petugas check-in karena sudah over load. Untungnya yang dikembalikan adalah delapan tas kabin (ukuran kecil). Umumnya memang dibawa ke kabin pesawat.

Rombongan kami terakhir masuk ke ruang tunggu. Setelah melewati proses pemeriksaan imigrasi. Kami melewati koridor dalam menuju ruang tunggu. Karena luas dan panjangnya akses jalan menuju ke ruang tunggu, rupanya kami harus naik semacam LRT (kereta ringan) yang akan mengantarkan ke ruang tunggu. Di ruang tunggu juga tidak banyak kursi yang disediakan. Sebagian jamaah terpaksa duduk di lantai ruang tunggu.

Kami boarding sekitar puku l02.40, dan pesawat take-off sesuai jadwal pada pukul 03.30. Dalam perjalanan di atas pesawat kami lebih banyak istirahat/tidur. Aktivitas membaca tidak banyak saya lakukan karena rasa ngantuk akibat belum istirahat dari pukul 03.00 hari Jum’at sampai saat pesawat take-of pukul 03.30 hari Sabtu. Artinya kami belum tidur selama 24 jam terakhir, kecuali tertidur sebentar saat dalam perjalanan dengan bus dari Mekkah ke Jeddah.

Niat untuk mengkhatamkan Al-qur’an tidak tercapai karena kegiatan selama di Mekkah lebih padat dibanding di Madinah. Penyelundupan air Zamzam berhasil masuk bagasi pesawat.

Kami mendarat di Bandara Soekarno Hatta hari Sabtu pukul 17.00. Selesai pengurusan semua bagasi kami keluar dari bandara sekitar pukul 19.00. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat di rumah sekitar pukul 22.00 karena kami mampir makan malam dulu di daerah sekitar Grogol.

Kalau tidak ada kendala, kami masih memiliki kisah serba-serbi untuk ditulis. Ada beberapa hal menarik yang tidak bisa kami kisahkan secara kronologis. Misal kami menemukan berbagai macam cara shalat jamaah, macam-macam penutup kepala, kisah tentang jamaah dari Turki, Banglades, Asia Selatan, dan hal-hal menarik lainnya. Semiga bermanfaat. (Selesai/KMA)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...

CATATAN KHAS KMA

Mampir di Hotel INI perjalanan hari empat bagian ke dua. Catatan perjalanan ini, memamg diturunkan berdasarkan hari perjalanan. Tetapi hari ke empat ini, ternyata...