Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh Ke Tanah Suci (3)

Bagian tengah Masjid Nabawi yang beratap payung kanopi.

Masuk Raudhah

Semalam kami mulai tidur sekitar pukul 22.00 waktu Madinah. Sepertinya, malam kedua sudah mulai terbiasa dari pengaruh jet-lag seperti hari pertama. Tidur cukup pulas sampai dibangunkan oleh alarm yang dipasang di HP pada putri kami, pukul 02.30. Berikut bagian ketiga catatan perjalanan H Dudi Fakhruddin dan keluarga ke tanah suci.

 BANGUN pukul 02.30, sebenarnya terlalu cepat juga.  Karena rencana antre masuk Raudhah sekitar pukul 03.30. Tetapi karena alarm yang dipasang Yasmin sudah berbunyi, ya kami bangun juga.

Turun dari hotel, kami hanya berdua dengan salah seorang rombongan jamaah. Kami langsung menuju bagian depan masjid dengan memotong jalan di tengah masjid tempat kemarin saya tertinggal.

Masuk pintu utama Masjid Nabawi, menyusuri jalur (koridor) tengah. Jika diperbolehkan lurus terus, sebenarnya lebih dekat dan langsung bisa menuju Raudhah. Akses itu ditutup, maka sebelum area menuju Raudhah, kami belok kanan dan keluar di Pintu  nomor 4 sisi kanan Masjid Nabawi. Setelah keluar kami sudah ditunggu oleh Muthowif (tour gaide) dari travel untuk diantar ke lokasi antrian masuk Raudhah.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Lokasi antrian berada di posisi akses menuju pemakaman Baki yang ada di sisi kiri Masjid Nabawi. Kami sampai sekitar pukul 03.55. Agak deg-degan juga, karena teman yang satu rombongan,  jadwal masuknya antara pukul 03.30-3.59. Artinya, jika terlambat sedikit saja, dia tidak bisa masuk. Sementara saya, posisinya terlalu cepat karena jadwal masuk mulai pukul 04.00 sampai 04.29.

Pemeriksaan dan verifikasi oleh petugas menggunakan semacam scaner pembaca barcode. Pengunjung menyodorkan HP yang sudah ada aplikasi Nusuk. Alhamdulillah teman saya bisa masuk karena waktunya masih belum berakhir di pukul 04.00.  Barcode HP saya pun saya discan. Alhamdulullah Accepted, artinya diterima dan saya bisa masuk ke antrian menuju Raudhah bersama rombongan yang sudah terverifikasi.

Tanpa kesulitan dan lebih teratur. Kelompok kami sekitar 100 orang masuk dengan cukup tertib. Kami memanfaatkan waktu sekitar sepuluh menit untuk shalat hajat dan berdoa di salah satu tempat yang paling mustajab. Kami bisa lebih khusuk dibanding dengan rombongan yang kemarin. Ini menurut cerita teman yang bersama saya saat itu, yang juga ikut rombongan yang kemarin. ‘’Rombongan kemarin waktunya tidak lama dan kurang teratur,’’ ujarnya.

Saya pun berpikir, alhamdulliah ada hikmah dari ketinggalan rombongan.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Baca juga: Catatan Perjalanan Umroh Ke Tanah Suci (1)

Kami melaksanakan shalat dan berdoa dengan khusuk. Tidak jarang jamaah meneteskan air mata saat bermunajat di Raudhah. Suasana kebatinan dan penghayatan akan mustajabnya berdoa di Raudhah sangat memudahkan orang larut dalam rasa kedekatan dengan Sang Pencipta. Tidak terasa air mata menetes saat memohon ampunan dan berdoa untuk keluarga khususnya orangtua yang sudah mendahulu kita. Semoga doa kita diijabah…, aamiinnn.

Adzan Subuh Dua Kali

Setelah keluar teratur dari lokasi Raudhah, kami diarahkan kembali menuju dan masuk ke dalam masjid melalui pintu nomor 4 sisi sebelah kanan (tempat kami keluar tadi). Rencananya, kami akan melanjutkan shalat Tahajut. Jam tangan menunjukkan pukul 04.45 bertepatan dengan adzan pertama Masjid Nabawi. Di Masjid Nabawi, sama dengan masjidil Haram. Adzan dilakukan dua kali dengan jeda waktu satu jam. Artinya adzan waktu masuk shalat subuh nanti akan dikumandangkan tepat pukul 05.45. Masih ada satu jam untuk melaksakan belasan rakaat shalat tahajud dan ditutup witir.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Kami melaksanakan shalat tahajud, witir dan shalat subuh di area depan Masjid Nabawi, tepat dibawah tenda yang menutupi void (tidak beratap) ditengah-tengah Masjid Nabawi. Entah kenapa bagian ini tidak diberi atap permanen, tetapi dipayungi dengan payung kanopi seperti area halaman masjid.

Lokasi ini juga menjadi pembatas antara bangunan lama (tidak dipugar) yang didirikan sejak zaman Rasulullah sampai kekuasaan Utsmaniyah, dengan bangunan baru perluasan besar-besaran era modern kerajaan Saudi Arabia. Bangunan lama juga masih satu kesatuan dengan kubah hijau tepat di atas makam Rasulullah, Sahabat Abubakar, Umar, dan juga lokasi Raudhah.

Bangunan baru terus diperluas. Kini luas Masjid Nabawi mencapai 16 hektare dan dapat menampung sekitar sejuta jamaah.

Baca juga: Catatan Perjalanan Umroh Ke Tanah Suci (2)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Selepas beribadah di Masjid Nabawi, siang hingga sore ada paket tour keliling Madinah. Paket standar ziarah ke jabal uhud, masjid quba, dan juga tur ke kebun kurma. Karena saya sudah pernah kesana, saya ijin ke istri dan anak dan juga kepada pihak travel untuk tidak ikut paket tour dan mengisi waktu-waktu terbaik di dalam Masjid Nabawi. Rasa-rasanya akan lebih optimal jika waktu dimanfaatkan beribadah di Masjid Nabawi yang sepuluh ribu kali lebih afdhal dibanding ibadah di masjid lain termasuk masjid Quba yang akan dikunjungi. Dalam tulisan ini saya tidak dapat berbagi cerita mengenai tour Madinah karena saya tidak ikut.

Pembersihan Masjid Nabawi

Pagi ini kami melihat Masjid Nabawi bagian depan tempat kami keluar masuk sedang dalam proses pembersihan. Pekerjaan dilakukan di bagian luar terutama menyemprot payung kanopi satu-satu. Begitu juga bagian dalam, karpet di-dry celaning, tiang-tiang dilap bersih, termasuk ornamen tembaga (lapis emas?) yang ada di atas tiang. Semua dilap satu-satu sehingga tetap mengkilat. Sehingga bagi yang ingin beribadah harus menyingkir ke lokasi yang tidak sedang dikerjakan.

Pembersihan masjid oleh pegawai Bin Ladin Corporation.

Kebanyakan pegawai yang mengerjakan dari Asia Selatan, dari Bangladesh, Pakistan, India, Srilanka, dan beberapa dari Indonesia. Pegawai dan proyek pemeliharaan Masjid Nabawi dikontrakkan kepada Bin Ladin Corporation, merupakan perusahaan  milik keluarga Osama Bin Laden. Jumlah pegawai yang dilibatkan sekitar tiga ribu orang yang setiap hari aktif bekerja. Biasanya pegawai dari Asia Selatan ini sering mendekati jamaah dari Indonesia untuk sekadar mendapat uang tips atau sedekah.

Pegawai juga memperbaharui koleksi Qur’an yang ditempatkan di rak-rak dan di seputar tiang mesjid. Qur’an baru menggantikan Qur’an lama. Qur’an yang lama sebetulnya juga masih bagus. Entah kemana Qur’an lama yang masih bagus itu disalurkan. Setiap saat petugas mensortir Qur’an yang ada dalam rak. Qur’an baru yang disalurkan oleh pemerintah Saudi, maupun Qur’an yang diwaqafkan oleh jamaah haji dan jamaah umroh terus berdatangan. Kadang-kadang ada Qur’an waqaf jamaah yang tidak sesuai standar cetakan lembaga Waqaf dan Hajji Saudi. Itu disortir oleh petugas sehingga semua Qur’an yang ada dalam Masjid Nabawi dan juga di Masjidil Haram adalah Qur’an yang sudah terstandarisasi dan diverifikasi.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Dalam Rak Qur’an juga lengkap sekali koleksinya. Ada Al-Qur’an dengan cetakan latin maupun terjemahan ke dalam berbagai bahasa dan berbagai huruf/abjad. Dari cetakan terjemah Indonesia, India bahkan ada terjemahan dalam bahasa dan huruf kanji Korea. Cetakan terjemahan dalam bahasa asing tersebut penyusunannya merupakan kolaborasi pemerintah Saudi dengan pemerintah negara asing atau kementerian terkait. Misalkan cetakan dalam bahasa Indonesia, adalah kerjasama dengan Kementerian Agama RI.

Belanja dengan Rupiah

Siang hari selepas shalat dhuhur, sebelum kembali ke penginapan untuk makan siang saya sempat jalan-jalan di pertokoan sekitar hotel. Saya ingin membeli baju gamis putih. Alhamdulillah di sini banyak pilihan, dan baju gamis yang saya inginkan ada di sini.

Awalnya saya berencana membeli dengan uang riyal Saudi (disingkat SAR) ternyata penjaga tokonya memberitahu bahwa pembayaran bisa dilakukan dengan rupiah. Nilainya pun dihargai dengan kurs yang lebih-kurang sama dengan kurs Rupiah terhadap Riyal saat saya menukar di Jakarta. Saya akhirnya membayar dengan rupiah.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Setelah saya keluar-masuk toko yang lain juga hampir sama, bisa transaksi dengan rupiah. Kebanyakan penjual juga mengerti bahasa Indonesia, khususnya berkaitan dengan nilai uang.

Sore ini kami mendapat pengarahan dari pihak travel dan muthowif terkait persiapan keberangkatan ke Mekkah besok sore. Sekaligus juga dengan manasik singkat terkait rukun-rukun umroh dan sunah-sunah umroh. Juga diinstruksikan untuk kemas dan membereskan koper malam ini untuk diambil oleh petugas besok pukul 09.00. (Bersambung/KMA)

 

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...