Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (4)

Foto bersama di lokasi Miqat, Masjid Bir Ali.

Ziarah Perpisahan

RANGKAIAN ibadah di Madinah selama tiga hari berjalan lancar. Semua jamaah satu group yang berjumlah sekitar 25 orang ditambah seorang balita dalam keadaan sehat. Walaupun ada keluhan badan badan pegal-linu, sembuh dengan istirahat yang cukup dan mengkonsumsi vitamin. Berikut lanjutan catatan perjalanan umroh H Dudi Fakruddin dan keluarga.

INI yang perlu diperhatikan oleh jamaah, harus bisa mengukur diri. Jangan terlalu dipaksakan sehingga menguras habis energi, apalagi terkait dengan ibadah-ibadah yang hukumnya sunah. Jika merasa terlalu lelah, informasikan kepada petugas travel supaya bisa dicarikan alternatif yang paling memungkinkan, termasuk jika harus membayar dam (denda syar’i) jika tidak bisa melaksanakan tahap ibadah tertentu.

Gejala flu yang timbul karena suhu yang dingin alhamdulillah bisa diantisipasi dengan vitamin dan sunah nabi yaitu Istinsyak. Istinsyaq adalah menghirup air ke dalam rongga hidung sampai ke pangkal hidung. Mengeluarkan kembali air dari rongga hidung disebut dengan istilah istintsar.  Metode ini cukup efektif untuk meredakan dan sekaligus menghilangkan gejala influenza.

Pukul 03.00 pagi, sebagian besar jamaah melakukan shalat tahajud berjamaah dipimpin oleh muthowif. Saya sendiri dengan beberapa jamaah shalat tahajud terpisah di dalam masjid. Jamaah yang shalat berjamaah dipimpin muthowif, dilakukan di pelataran masjid seperti yang kami laksanakan saat pertama sampai di Madinah.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Setelah shalat subuh kami bergabung dengan rombongan untuk melaksanakan ziarah perpisahan ke area sekitar Makam Rasulullah dan pemakaman Baki. Pemakaman Baki adalah makam para sahabat, sebagian istri Rasulullah, dan penduduk Madinah saat masa-masa awal perkembangan Islam.

Hampir seluruh area di kawasan sekitar Masjid Nabawi sudah mengalami perubahan dan penggusuran untuk peningkatan pelayanan haji dan umroh. Hanya pemakaman Baki yang tidak tersentuh penggusuran.

Berburu Kuliner Arabiyah

Satu porsi nasi kambing, bisa disantap berdua.

Selepas ziarah, sebagian besar rombongan kembali ke hotel untuk menyelesaikan perapihan koper dan tas bawaan. Saya dan istri masih penasaran, selama di Madinah servis makan yang disediakan travel selalu menu ala Indonesia. Saya mencoba “berburu” kuliner khas Arab. Agak capek juga keliling beberapa blok pertokoan dan perhotelan di sekitar Masjid Nabawi. Tetapi akhirnya ketemu restoran Pakistan. Sebagai informasi ada kesamaan menu zajirah Arab dengan menu Asia Selatan, termasuk India, Bangladesh, dan Pakistan. Menunya ada Nasi Biryani, nasi Bukhari, Nasi Kabsah, Nasi Mandi, Kebab dan semacamnya. Yang jelas nasinya panjang-panjang dan perak (agak keras). Tidak pulen seperti nasi yang biasa kita makan.

Kebetulan kami di Jakarta juga kadang mengkonsumsi masakan Arab yang dibeli di daerah Condet atau di seputaran Cikini.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Hidangan yang disajikan di Restoran Pakistan harganya 25 Riyal atau setara Rp.100 ribu.  Menurut kami sangat pas rasanya. Kami membeli dua porsi, Ternyata satu porsi ukurannya sangat banyak bagi kebiasaan makan kita orang Indonesia. Kami pesan Nasi Biryani dengan lauk daging kambing. Awalnya saya agak ragu apakah kami berdua bisa menghabiskan satu porsi berdua. Ternyata karena menunya pas di lidah, akhirnya satu porsi itu tuntas juga kami selesaikan. Satu porsi lagi yang sudah dipesan dibungkus untuk makan siang.

Perjalanan Umroh ke Mekkah

Seperti pengarahan yang disampaikan oleh petugas travel kemarin, hari ini kami bersiap-siap berangkat umroh ke Mekkah. Koper dan tas bawaan sudah diambil oleh petugas travel untuk diangkut ke bus menuju Mekkah. Dari hotel kami sudah mengenakan kain ihram. Kami diantar dengan bus yang sama untuk miqat di Bir Ali.

Miqat ini adalah salah satu rukun umroh yang harus dilakukan jika jamaah haji atau umroh dari arah Madinah. Bir Ali atau juga disebut Dzulhulaifah ini berjarak sekitar 11 Km dari Masjid Nabawi. Miqat adalah tempat dan waktu yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai pintu masuk untuk memulai haji dan umroh. Dari sinilah niat dan ikrar mulai ditetapkan, kalimat talbiah mulai dikumandangkan secara masif. Dan dari tempat miqat inilah ihram dimulai, ditandai dengan menggunakan pakaian ihram, termasuk dimulainya larangan-larangan yang membatasi perbuatan dan perkataan. Tidak boleh lagi menggunakan yang berbau/wangi, tidak boleh memotong kuku/rambut dan beberapa kebiasaan halal lainnya yang dilarang saat berihram, termasuk tidak boleh “menghalalkan” istri sendiri saat berihram.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Naik Kereta Cepat

Naik kereta cepat.

Selepas melaksanakan miqat di Bir Ali, bis mengantar kami ke stasiun kereta Cepat. Ada semangat yang berbeda juga bagi saya dan seluruh jamaah. Walaupun telah diinformasikan sebelumnya, karena ini akan menjadi pengalaman pertama menggunakan moda transportasi kereta cepat.

Di Indonesia sebetulnya sudah ada kereta cepat dengan jurusan Jakarta-Bandung. Hanya saja belum sempat mencoba termasuk saat ada diskon tiket sekitar 50 persen pada November tahun lalu. Jarak tempuh kereta cepat Jakarta- Bandung hanya sekitar 140 Km, sementara jarak tempuh kereta cepat Mekkah-Madinah lebih dari 500 km.

Kereta api cepat ini dinamakan Haramain Express. Haramain artinya dua kota suci, kereta ini menghubungkan dua kota suci tersebut, Mekkah dan Madinah.

Menaiki kereta cepat untuk pertama kali adalah pengalaman yang sangat berkesan. Saat memasuki stasiun, suasananya mirip seperti mall, melewati pintu pemeriksaan tiket penumpang harus naik ke ruang tunggu dilantai dua yang tinggi. Saking tingginya, kami harus naik eskalator (tangga berjalan) yang munurut saya sangat panjang dan belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya mencoba mengambil foto dari berbagai sudut, kamera saya sulit menjangkau dari ujung ke ujung. Mungkin karena keterbatan kemampuan kamera HP saya atau sudut pandang yang terbatas.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Kami menempati gerbong nomor 11. Saya pikir cukup panjang juga rangkaian gerbongnya. Di belakang kami masih ada sekitar dua gerbong lagi. Setelah memasuki gerbong penumpang, ternyata ukurannya tidak sepanjang gerbong kereta api yang biasa kita naiki. Hanya ada sekitar sepuluh baris kursi untuk setiap gerbong penumpang kelas ekonomi. Untuk untuk kelas bisnis mungkin hanya sekitar lima baris.

Kecepatan maksimal yang selalu ditampilkan dalam layar monitor 300 Km/jam. Jika masuk daerah padat pemukiman atau perkotaan, kecepatan berkurang sesuai kebutuhan akan keselamatan transportasi. Haramain express mayoritas melintasi rel di atas tanah, hanya dalam perkotaan menggunakan jalan layang, berbeda dengan kereta cepat Jakarta-Bandung yang 100 persen menggunakan lintasan layang.

Ongkos perjalanan Mekkah-Madinah menggunakan sekitar SR 300 (tiga ratus Riyal). Jika dikurskan dalam Rupiah sekitar Rp 1.3 juta.

Perjalanan dari Madinah ke Mekkah melewati dua sampai tiga stasiun tetapi tidak berhenti. Hanya saja kecepatan kereta dikurangi saat melewati stasiun tersebut.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Baca juga: Catatan Perjalanan ke Tanah Suci (3)

Menurut jadwal yang tertera dalam tiket, kami akan tiba di Mekkah pada pukul 18.45. Artinya waktu tempuh sekitar 2 jam 15 menit karena kami berangkat pada pukul 16.30 waktu Saudi.

Turun dari Haramain Express sebagian langsung menuju toilet. Salah satu anggota rombongan kebelet buang air kecil langsung ke urinoir (tempat kencing berdiri) yang tersedia di ruang toilet. Ketika saya sampai ternyata dia kebingungan mencuci. Rupanya toilet sudah menggunakan urinoir otomatis. Sensor bekerja mengeluarkan air setelah orang yang kencing bergeser meninggalkan urinoir. Artinya orang tidak bisa mendapatkan air untuk membersihkan najis sebelum bergeser dari tempatnya berdiri.

Di Jakarta beberapa mall dan gedung juga menggunakan urinoir seperti ini. Hanya saja bagi kita yang muslim hal itu kuranglah tepat. Itu hanya cocok di negara yang penduduknya tidak biasa membersihkan najis setelah kencing. Urinoir seperti ini hanya mengeluarkan air untuk membersihkan sisa air kencing dalam urinoir setelah orang bergeser meninggalkan urinoir.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ini mungkin salah satu kekurangan dari fasilitas Stasiun Haramain Express, padahal ini adalah kota suci. Beruntung saya masuk belakangan sehingga saya memilih WC duduk. yang airnya keluar dari semprotan shower kecil seperti yang umum kita gunakan.

Dari stasiun kami diantar dengan bis menuju ke Hotel di selitar Masjidil Harram. (bersambung/KMA)

 

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...