Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (6)

Masjidil Haram dipotret dari jendela hotel.

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram

RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang dilaksanakan hingga tengah malam dan berdesakan dengan ribuan jamaah dari berbagai negara, sungguh melelahkan. Berikut lanjutan catatan perjalanan umroh H Duddi Fakhruddin dan keluarga.

PAGI pukul 03.30, kami sudah langsung bangun untuk melaksanakan shalat tahajut di Masjidil Haram. Hampir seluruh jamaah melakukan hal yang sama karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan shalat di Masjidil haram yang mempunyai keutamaam 100 ribu kali dibanding shalat berjamaah di masjid lain. Shalat tahajut dilanjutkan dengan shalat subuh.

Waktu shalat subuh di Mekkah masuk sekitar pukul 05.40, tetapi adzan pertama dikumandangkan satu jam sebelumnya. Sama dengan di Masjid Nabawi, di Madinah mengumandangkan dua kali adzan subuh. Adzan pertama sebagai pengingat untuk membangunkan jamaah, sehingga masih sempat melaksanakan shalat tahajut. Adzan ke dua sebagai pertanda masuknya waktu subuh.

Saat umroh sebelumnya, sebelum shalat tahajut  biasanya kami melaksanakan tawaf sunah di sekitar Ka’bah.  Setiap saat memasuki Masjidil Haram, ada keutamaan untuk melakukan Tawaf terlebih dahulu dibanding shalat sunat tahiyatul masjid. Saat ini sulit dilakukan karena untuk Tawaf sunah yang jaraknya lebih pendek di sekitar lantai Ka’bah tidak dapat dilakukan jika kita tidak berpakaian Ihram.

Jamaah yang tidak berpakain ihram hanya dapat melakukan Tawaf di lantai atas yang jaraknya cukup jauh dan memakan waktu, sehingga kebanyakan jamaah memutuskan untuk menuju lantai atas tempat shalat. Shalat di lantai bawah hanya diperuntukkan bagi jamaah berpakaian ihram.  Di antara waktu shalat sunah dan fardu kami manfaatkan untuk mengaji.

Baca juga; Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (5)

Penguasa dua tanah suci setiap tahun terus melakukan perubahan sistem pelayanan haji dan umroh. Bagi jamaah yang pernah melaksanakan haji atau umrah di tahn-tahun sebelumnya, bisa saja bingung dengan perubahan-perubahan tersebut. Hal itu dilakukan demi kenyamanan dan keamanan pelaksanaan haji dan umroh.

Jarak yang tidak terlalu jauh antara hotel tempat kami menginap dengan Masjidil Haram memungkinkan kami untuk pulang-pergi setiap setiap saat shalat fardu. Kecuali untk shalat Magrib, tetap berada di Masjidil Haram sampai selesai shalat Isya. Hal ini berbeda dengan saudara-saudara kita yang menempati hotel yang jaraknya lebih dari 2 KM, biasanya datang ke Masjidil Haram untuk shalat subuh kemudian pulang ke penginapan. Mereka shalat Dhuhur di masjid sekitar penginapan dan baru ke Masjidil Haram saat shalat Ashar sampai Isya. Hal ini tergantung juga pada arahan yang diberikan pihak travel atau muthowif. Kebiasaan ini juga berpengaruh pada pola dan kebiasaan makan di hotel atau tempat penginapan.

Bagi kami yang beruntung menempati hotel di sekitar Masjidil Haram, bisa pulang makan di  hotel tiga kali sehari. Tempat makan jamaah Indonesia dipisahkan dari jamaah non Indonesia. Mayoritas yang menginap di hotel ini adalah jamaah asal Indonesia dan jamaah asal Turki, Tentu jamaah kedua negara ini mempunyai selera dan kebiasaan makan yang sangat berbeda, sehingga harus dipisahkan.

Jamaah Indonesia lebih mendominasi, mungkin sekitar 60 persen, sisanya jamaah dari Turki dan negara-negara lain. Jamaah Indonesia dan Malaysia menempati lantai restoran yang sama. Jamaah Turki dan negara lainnya menempati lantai yang berbeda.

Untuk jamaah Indonesia sekali-sekali disisipi menu makanan khas Arab. Akan jadi masalah besar jika tempat makan dan menu makanan dijadikan satu. Orang Indonesia akan sulit menyesuaikan selera makan. Demikian juga dengan jamaah asal negara lain sulit menyesuaikan selera makan dengan menu ala Indonesia. Jika selera makan tidak cocok, maka berdampak pada asupan nutrisi, dan dampak lebih besarnya pada stamina dan kesehatan jamaah akan terganggu. Padahal prosesi ibadah haji dan umroh membutuhkan tenaga dan stamina yang prima terutama di saat suhu dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara asal.

Di Mekkah dan Madinah kadang suhu turun hingga lima derajat dengan hawanya kering dan dingin yang menusuk. Kadang panas menyengat hingga 45 derajat. Dibutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk mempertahankan stamina dan kesehatan jamaah.

Bersyukurnya hotel menyediakan menu makanan Indonesia disisipi menu khas arab sejenis kebuli yang busa kita coba sebagai variasi menu makanan.

Masalah Kacamata

Saya baru menyadari bahwa bagian kacamata yang mengganjal di batang hidung (nose pad) copot sebelah. Hal ini diketahui saat hidung terasa sakit saat sujud shalat. Saya terbiasa tetap menggunakan kacamata saat shalat. Karena lama-lama terasa sakit dan tidak nyaman, saya ingin mengganti dengan kacamata cadangan. Ternyata saya keliru membawa kacamata cadangan. Yang terbawa adalah kacamata yang lebih lama dan ukurannya berbeda dengan ukuran yang terkahir.

Karena tetap tidak optimal untuk melihat, saya mencoba mencari optik atau toko kacamata di sekitar pertokoan dan mall di seputaran Masjidil Haram. Saya terpaksa “tawaf” untuk mendapatkan toko kacamata yang busa mengganti bagian nose pad kacamata yang copot. Keluar masuk mall dan toko hasilnya nihil.

Perjalanan mencari ini juga terkendala bahasa. Kaki sampai pegal karena mau servis kacamata ini. Sampai pada salah satu sudut di lantai tiga pertokoan yang ada di tower ZamZam, saya bertemu dengan orang yang menjaga usaha kursi pijat listrik. Sekaligus saya relaksasi saya menanyakan tempat servis kacamata. Kebetulan busa sedikit Bahasa Inggris dan dia juga pemakai kacamata. Katanya, di area sekitar ini tidak ada. Hanya ada di mall sebelah lagi yang lebih jauh dari arah penginapan kami.

Akhirnya saya putuskan untuk tetap menggunakan kacamata cadangan yang tidak terlalu cocok ukurannya.

Berdasarkan pengalaman ini, saya ingin berpesan jika menunaikan umroh dan haji jangan lupa membawa kacamata cadangan. Saat ibadah di tanah suci, riskan kehilangan dan kerusakan kacamata karena berdesakan dalam kerumunan orang. Anak saya juga kehilangan kacamata minus saat tawaf. Masih untung yang hilang adalah kacamata cadangan yang berwarna gelap.

Perjalanan “tawaf” untuk memperbaiki kacamata ini juga membuat saya terdampar pada salah satu restoran Arab yang ada di pertokoan didepan masjidil haram. Hanya saja di sini sedikit lebih mahal dibanding di Madinah. Menu nasi biryani dengan lauk daging kambing ukuran sedang dihargai 35 riyal (sekitar Rp135 ribu) dan ukuran besar dihargai 50 riyal (sekitar Rp200 ribu). Di Madinah kami beli di Restoran Pakistan pada kisaran harga 25 Riyal.

Saya memilih ukuran sedang yang akhirnya juga tidak busa saya habuskan karena porsinya lumayan banyak untuk ukuran kita. Sisanya saya bungkus dibawa pulang ke hotel untuk makan malam.

Malam hari ke enam saat kembali ke hotel, kami mendapat pengarahan terkait dengan rencana umroh yang kedua yang akan dilaksanakan besoknya, hari ke tujuh. Umroh yang kedua ini sebagian besar untuk Badal Umroh, meng-umrohkan orangtua atau keluarga yang sudah wafat atau yang belum pernah berumroh. (Bersambung/KMA)

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Mampir di Hotel INI perjalanan hari empat bagian ke dua. Catatan perjalanan ini, memamg diturunkan berdasarkan hari perjalanan. Tetapi hari ke empat ini, ternyata...