Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (7)

Suasana di pelataran rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Umroh ke Dua

SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di Ji’rana. Ini agak terlambat dari jadwal semestinya. Berikut lanjutan catatan perjalanan umroh keluarga H Dudi Fakhruddin dan keluarga ke tanah suci, Mekkah.

SEBELUM ke Masjid Ji’rana, rombongan mampir terlebih dahulu di Padang Arafah, melihat lokasi tempat wukuf para jamaah haji. Sekaligus ke Jabal Rahmah, yang menurut riwayatnya adalah tempat pertemuan moyang seluruh manusia, Nabi Adam dan Hawa.

Ratusan bus pengantar jamaah untuk ziarah ke Jabal Rahmah sudah mengular. Bus kami parkir agak jauh dari Jabal Rahmah. Rupanya ada kemacetan, seluruh bus pengantar jamaah, harus parkir di lokasi itu. Para penumpang turun jalan kaki agak jauh. Di tengah jalan, saya dan beberapa orang memutuskan tidak melanjutkan ke Jabal Rahmah. Kami duduk menunggu rombongan yang naik ke Jabal Rahmah. Secara kebetulan di lokasi itu ada penjual hati onta dan saya beli karena ada yang meminta untuk dibelikan.

Soal hati onta ini, saya sempat minta pengurus travel untuk mencarikan di pasar sekitar Masjidil Haram. Namun belum dapat dan ternyata ketemu di kaki lima yang berjualan di jalan akses Jabal Rahmah. penjualnya orang Indoneisa, asal Lombok. Di lokasi ini banyak orang berjualan berbagai macam oleh-oleh. Hampir setiap tempat ziarah atau tur selalu dipenuhi oleh pedagang.

Sebagian besar rombongan naik ke Jabal Rahmah, bahkan jamaah yang tertua dari rombongan kami pun ikut. Jabal Rahmah dan Padang Arafah ini menjadi lautan kepadatan manusia saat musim haji. Karena padatnya, jamaah haji tahun lalu banyak yang telantar dan tidur di luar tenda. Tahun lalu dianggap tahun paling bermasalah bagi jemaah haji sepanjang Arafah sampai ke Mina.

Anggota rombongan jamaah umroh tertua.

Jika mengunjungi Jabal Rahmah, perlu berhati-hati. Ada modus penipuan dengan cara dipakaikan sorban oleh oknum tertentu. Setelah itu, dia akan mengambil foto dengan pose memakai sorban. Oknum tersebut akan meminta pembayaran yang nilainya lumayan besar. Perlu dihindari jika ada orang yang menawarkan untuk hal seperti itu. Kabarnya, jamaah umroh Indonesia banyak yang jadi korban.

Dari Jabal Rahmah rombongan menuju ke Ji’rana. Ji’rana merupakan salah satu tempat miqat-nya penduduk Mekkah. Jika penduduk Mekkah hendak melaksanakan haji dan umroh, mereka harus keluar terlebih dahulu di beberapa tempat miqot terdekat, salah satunya di masjid di Jir’ana. Waktu tempuh dari Mekkah sekitar satu jam.

Karena kami sudah menginap (mukim) di Mekkah, maka rombongan kami bisa melakukan miqat di sini. Jika pemahaman fiqih-nya tidak menganggap menginap satu ataudua hari di Mekkah sebagai mukimin (pemukim) di Mekkah, maka tempat miqatnya bisa ke masjid Qarn-Almanazil. Jaraknya sekitar 75 Km dari Mekkah menuju ke Thaif. Kira-kira pertengahan Mekkah dan Thaif.

Kami melakukan miqat di Ji’rana seperti yang sudah diatur oleh travel bersama muthowif. Miqat di tempat ini juga ramai. Banyak jamaah Indonesia yang telah sampai beberapa hari di Mekkah, juga melakukan miqat di sini. Miqat adalah tempat niat dan ikrar memulai prosesi haji dan umroh. Jika berangkat dari Madinah, lokasi miqatnya adalah di Bir Ali seperti yang kami lalukan tiga hari yang lalu.

Setelah Miqat di Masjid Ji’rana kami langsung menuju hotel untuk istirahat sejenak sambil makan siang. Setelah itu kami langsung menuju Masjidil Haram melalui jalur lantai bawah tanah tembus ke bagian belakang yang hanya dibatasi oleh jalan layang dengan halaman perluasan Masjidil Haram.

Selepas melaksanakan shalat dhuhur, kami mulai melaksanakan tawaf keliling ka’bah. Tawaf berakhir tepat sebelum masuk waktu shakat Ashar. Selanjutnya kami shalat ashar berjamaah di akses keluar dari Ka’bah menuju lokasi Sa’i.

Usai shalat ashar, kami melanjutkan prosesi Sa’i. Jamaah umroh yang melaksanakan Sa’i juga sangat banyak, hampir tidak terlihat celah yang lowong. Prosesi Sa’i ini adalah mengikuti petilasan perjalanan bolak balik antara bukit Shafa dan Marwah yang dilakukan oleh Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail dalam rangka mencari sumber air. Dari peristiwa itu, Allah takdirkan Siti Hajar menemukan sumber mata air Zamzam.

Selesai Sa’i yang berakhir di bukit Marwah, kami melanjutkan prosesi Tahalul. Beberapa jamaah pria setelah potong rambut secara simbolis, rupanya melanjutkan untuk mencukur gundul tambutnya. Saya sendiri untuk kali ini tidak mencukur gundul.

Rumah Kelahiran Nabi

Dari lokasi yang tidak jauh, kamipun sempat ziarah ke tempat kelahiran Nabi Muhammad. Saat ini sudah berdiri bangunan yang yang bertuliskan Maktabah Makkah Almukarramah (Perpustakaan Mekkah Al Murramah). Kami hanya menyaksikan dari jarak yang cukup jauh karena “perpustakaan” tersebut selalu tertutup. Berdasarkan informasi yang disampaikan muthowif, bangunan itu dibuat “terlihat” modern untuk menghindari pengkultusan tempat kelahiran nabi.

Jika terus berjalan ke arah kiri dari tempat kelahiran Nabi, dahulu di situ dikenal secara khusus oleh jamaah asal Indonesia dengan sebutan Pasar Seng. Oleh jamaah Indonesia dinamakan sebagai pasar seng karena pasar itu adalah pasar tradisional yang beratapkan seng. Sejak belasan tahun lalu, pasar itu sudah digusur sebagai dampak perluasan Masjidil Haram. Kini sudah dibangun insfratruktur jalan dan perhotelan. Pasar seng tinggal kenangan, dan ceritanya hanya dapat dikenang oleh jamaah haji dan umroh sebelum digusur tahun 2009. Kami kembali ke hotel setelah selesai mengikuti shalat Isya berjamaah di Masjidil Haram.

Melalui chating group WA, pihak travel mengingatkan jamaah bahwa besok akan membawa seluruh Jamaah dalam paket tur ziarah ke Thaif. Diharapkan semua jamaah sudah siap berangkat pukul 08.00 pagi. (Bersambug/KMA)

 

 

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Persiapan Pulang SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan”...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...

CATATAN KHAS KMA

Mampir di Hotel INI perjalanan hari empat bagian ke dua. Catatan perjalanan ini, memamg diturunkan berdasarkan hari perjalanan. Tetapi hari ke empat ini, ternyata...