Connect with us

Ketik yang Anda cari

CATATAN KHAS KMA

Catatan Perjalanan Umroh ke Tanah Suci (9)

Kebersamaan setelah Tawaf Wada.

Persiapan Pulang

SEMALAM tidur agak larut, karena harus menyiapkan semua barang bawaan. Termasuk bagaimana mensiasati agar air Zamzam dalam botol-botol mineral supaya dapat “diselundupkan” ke Indonesia. Berikut kisah perjalanan umroh H Duddi Fakhruddin dan keluarga ke tanah suci Mekkah.

KAMI sebetulnya sudah mendapatkan jatah air Zamzam masing-masing lima liter. Tetapi yang namanya “ibu-ibu” selalu memikirkan kemungkinan air Zamzam yang 15 liter (bertiga) itu masih kurang untuk dibagikan ke sanak keluarga dan teman-teman.

Jadilah persiapan penyelundupan air Zamzam menyita ukuran berat dan space koper. Entah siapa yang memulai, katanya botol mineral berisi air Zamzam dililit dengan lakban (isolasi besar), setelah itu dililit lagi dengan kain atau pakaian, kemudian masukkan kedalam koper yang akan masuk bagasi pesawat. Kalau dibawa di tas kabin akan ditolak dan dikeluarkan oleh petugas bandara saat check-in.

Jadilah isi koper sangat padat dan berat, bahkan susah untuk ditutup. Saking susahnya resleting koper yang berfungi sebagai penutup dan pengikat koper terbuka sendiri karena tidak kuat menahan beban muatan yang terlalu banyak. Untuk menutup kembali terpaksa koper diikat/dililit keliling dengan lakban. Untungnya koper yang disediakan oleh travel memiliki cover luar dari bahan palstik yang cukup kuat, sehingga bisa membantu “mengikat” agar tidak terbuka karena isi yang berlebih. Urusan barang bawaan belum tuntas hingga larut malam, akhirnya diteruskan pagi hari.

Tawaf Wada

Kami terbangun pukul 03.00, mandi dan mempersiapkan diri untuk Tawaf Wada. Tawaf Wada adalah tawaf terkahir sebagai simbol perpisahan dengan Masjidil Haram, khususnya dengan Ka’bah. Pria mengenakan pakaian Ihram karena akan Tawaf di lantai sekeliling Ka’bah. Muthowif sudah mengingatkan kami untuk bersiap-siap didepan hotel pukul 03.30. Setelah semua berkumpul, rombongan menuju Masjidil Haram dan memasuki pintu nomor 79. Pintu ini hanya boleh dimasuki oleh jamaah dengan pakaian ihram. Untuk ibu-ibu bisa berpakaian bebas yang penting masuk bersama rombongan bapak-bapak yang berpakaian ihram.

Tawah keliling Ka’bah kami mulai sekitar pukul 04.00. Kondisi sangat padat. Saat mulai masuk jalur tawaf saja sudah sangat sesak. Kepadatan bertambah saat memasuki rukun Yamani (sebelum hajar aswad), dan lebih padat lagi saat mencapai arah sudut Hajar Aswad. Kepadatan hampir merata ke seluruh area tawaf yang ada di sekeliling Ka’bah.

Saya kali ini mengambil posisi paling depan dari rombongan di sisi sebelah kiri. Kami membentuk barisan empat baris ke samping. Laki-laki di baris pinggir dan ibu-ibu di dua baris tengah. Saya sempat bertanya kepada muthowif kenapa sangat padat? Rupanya karena hari itu bertepatan dengan hari Jum’at. Banyak jamaah atau warga masyarakat di sekitar Mekkah memanfaatkan untuk melakukan tawaf.

Karena posisi saya paling depan, maka tugasnya adalah “mendobrak” kebuntuan barisan depan dan menghalau jamaah lain yang ingin memotong barisan rombongan kami. Cukup menguras tenaga. Kaki lumayan pegal karena harus menahan desakan dari samping.

Keadaan semakin padat setelah tawaf putaran ke empat. Saat kami masih berjalan untuk tawaf, rupanya barisan paling pinggir di sekeliling lantai Ka’bah sudah mulai membentuk shaf untuk shalat subu., Shaf itu semakin maju dan mempersempit jalur untuk jamaah yang sedang tawah. Setelah putaran ke lima, barisan jamaah yang tawaf di area yang paling dekat dengan Ka’bah juga sudah mulai membuat shaf untuk shalat, terutama yang berhadapan langsung dengan Hajar Aswad. Jadilah jalur untuk orang-orang yang masih tawaf keliling semakin sempit, kami semakin terjepit di antara dua rombongan shaf. Dari pinggir semakin maju dan dari sekitar Ka’bah semakin mundur. Bahkan untuk jamaah yang tidak banyak rombongannya, sudah tawaf keliling di sela-sela jamaah yang sudah berdiri membuat shaf.

Bagi kami yang rombongan ini jadi masalah, karena mengambil jalur yang cukup lebar untuk mempertahankan posisi empat baris kesamping. Jadilah tugas kami yang paling depan untuk menyeruak kepadatan di depan rombongan semakin berat.

Menjadi dilematis, jika kami berhenti di putaran ke enam, maka kelompok kami akan berpisah. Rombongan Ibu-Ibu harus keluar jalur tawaf karena lokasi shalat subuh untuk ibu-ibu berada di pinggir paling luar dari jalur tawaf, sementar untuk laki-laki juga sudah sulit untuk berhenti dan membuat shaf. Padahal jam masuk subuh masih sekitar 30 menit lagi.

Rombongan kami memutuskan untuk menuntaskan sampai tujuh putaran, dengan susah payah. Cukup lega karena setelah itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk tawaf bagi rombongan. Sebagian besar sudah tidak ada yang bergerak karena jamaah sudah berdiri membentuk shaf keliling Ka’bah.

Selesai kami keluar ke arah jalur menuju Sa’i dan di pinggir sisi kiri tersedia air Zamzam dan gentong-gentong kecil. Kami istirahat sejenak untuk minun air Zamzam. Di belakang barisan gentong air zamzam itu ada ruang yang masih lowong yang cukup luas. Kami masuk ke area tersebut untuk shalat sunat ba’da tawaf dan sekaligus shalat Subuh. Sementara rombongan jamaah wanita mengambil tempat di barisan perempuan yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Usai shalat subuh, keadaan sedikit lengang. Rombongan kami maju agak ke depan di sisi yang searah dengan Maqam Ibrahim. Kami memanjatkan doa terakhir di depan Ka’bah, karena di sini adalah salah satu tempat mustajab untuk berdo’a.

Shalat Jum’at di Bangunan Baru Perluasan Masjidil Haram.

Setelah selesai tawaf wada, rombongan kami kembali ke Hotel untuk “finalisasi” urusan perkoperan dengan segala anak turunannya.  Seluruh koper dikeuarkan dari kamar masing-masing untuk diambil dan dikumpulkan oleh petugas travel yang akan mengangkut ke bus yang akan mengantarkan ke Jeddah bersama jamaah. Rencana rombongan kami akan berangkat ke Jeddah sekitar pukul 14.00. Sementara kami sudah harus check-out dari hotel sekitar pukul 11.00.

Sekitar pukul 10.30, kami sudah check out dan langsung menuju ke Masjidil Haram untuk melaksankan shalat Jum’at. Karena kami sudah melaksanakan tawaf wada, muthowif mengingatkan untuk mengambil tempat shalat yang tidak melihat Ka’bah secara langsung. Karena tawaf wada adalah tawaf perpisahan, jika bertemu dengan Ka’bah lagi setelah tawah wada, maka kurang afdhol.

Kebetulan hari Jum’at, area perluasan Masjidil Haram yang lokasinya lebih dekat dengan tempat penginapan kami dibuka. Mungkin mengantisipasi membludaknya jamaah shalat Jum’at yang harus menampung seluruh jamaah umroh dan masyarakat Mekkah yang juga menunaikan shalat Jum’at.

Kami masuk pintu pertama dari area perluasan tersebut. Setelah masuk, rupanya ada ruang terbuka yang kurang lebih sama luasnya tiga kali lebih luas dibandingkan dengan areal terbuka sekitar Ka’bah. Berjalan di area terbuka sekitar 100 meter kemudian belok kanan akan kita jumpai pintu nomor 100.

Memasuki gerbang pintu nomor 100 kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Gerbang lengkung khas Masjidil Haram yang tingginya mungkin sekitar 15 meter. Dengan pilar marmer warna putih dengan daun pintu terbesar, tingginyi sekitar 10 meter dgn ketebalan sekitar 50 cm. Pintu itu dibalut ornamen warna hijau. Saat kami masuk, daun pintu itu dalam keadaan terbuka ke sisi kiri dan sisi kanan. Memasuki pintu nomor 100 ini kita akan disuguhi pemandangan koridor dengan plafon yang sangat tinggi, sekitar 25 meter. Sisi kiri kanan terlihat lantai dua dan tiga yang dibatasi dengan jendela kaca. Terdapat dome (plafon bulat) yang belum selesai dikerjakan dan masih bolong sehingga langit bisa terlihat. Ornamen dan artsitiknya sangat indah, dihiasi lampu gantung yang besar. Hawa dingin keluar dari AC yang tidak terlihat tetapi udara dinginnya keluar dari sisi tembok dan pilar.

Suasana koridor setelah memasuki pintu nomor 100.

Jika terus berjalan ke depan koridor, maka di ujung sana akan bertemu dengan bangunan lama yang pemandangannya bisa tembus ke arah Ka’bah. Saya mengambil tempat di sisi kiri koridor masuk yang sudah dialasi dengan karpet. Jika tidak di atas karpet lantainya terasa sangat dingin. Kebetulan juga sedang musim dingin. Selepas menunaikan shalat Jum’at kami langsung menjamak dengan shalat Ashar karena kami akan segera pulang melalui Jeddah.

Kami kembali ke hotel dan masih menikmati makan siang hotel. Hari itu suasana restoran hotel yang khusus untuk jamaah Indonesia penuh, rupanya banyak rombongan jamaah yang juga baru tiba di Mekkah. (bersambung/KMA)

 

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

Ke Jeddah saat Menunggu Kembali ke Tanah Air ‘’USAI makan siang, kami menunggu bus yang akan mengantarkan ke Jeddah. Kami menunggu di pelataran hotel...

CATATAN KHAS KMA

Tur ziarah ke Kota Thaif HARI ke delapan, di tanah suci, rombongan jamaah umroh kami mengikuti program tur ziarah ke kota Thaif. Berikut lanjutan...

CATATAN KHAS KMA

Umroh ke Dua SELEPAS holat subuh berjamaah di masjidil haram, sekitar pukul 10.00 pagi, kami menaiki bus yang mengatar kami ke lokasi Miqat di...

CATATAN KHAS KMA

Rutinitas Ibadah di Masjidil Haram RANGKAIAN ibadah umroh wajib telah berakhir. Itu cukup menguras tenaga, karena proses Tawaf dan Sa’i yang diakhiri Tahalul yang...

CATATAN KHAS KMA

Mampir di Hotel INI perjalanan hari empat bagian ke dua. Catatan perjalanan ini, memamg diturunkan berdasarkan hari perjalanan. Tetapi hari ke empat ini, ternyata...