Dari Redaksi

Kearifan Ber-Medsos

Dok arifsetiawan.com

ADA satu sudut peringatan yang disampaikan Wakil Wali (Wawali) Kota Bima, H A Rahman, mengenai hiruk-pikuk dinamika masyarakat di Media Sosial (Medsos) akhir-akhir ini. Dalam waktu tertentu, kerap digunakan saling mengunggah ujaran kebencian. Memang kadang hal-hal yang sifatnya privat dan tabu, namun tereksplorasi rinci dalam status Medsos seperti Facebook. Kondisi seperti itu diprihatinkan oleh Wawali. Seharusnya memanfaatkan teknologi itu semua pihak lebih arif dan bijaksana, tidak saling menghina dan memrovokasi.

Harapan Wawali saat Dialog Publik Damai Bima untuk Indonesia: Menangkal Kekerasan, Gerakan Radikal dan Terorisme yang dihelat   Rumah Cita di aula SMKN 3 Kota Bima, Rabu (27/09/2017) itu memang sejatinya demikian. Medsos selayaknya diikhtiarkan untuk saling mengenal, mengeratkan silaturahim, tukar pengalaman positif, dan unggahan edukatif. Menularkan suasana perdamaian, energi positif, dan pengetahuan-wawasan. Dalam banyak kasus, sebagian dari pengguna Medsos terpaksa berhubungan dengan aparat hukum karena jeratan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Eleketronik. Semua itu dipicu ketidakmampuan menahan diri dan terbawa suasana. Tidak mengedepankan kearifan ketika mengekspresikan huruf dan kata yang mewujud bahasa.

Harapan Wawali itu pula berseiringan dengan suasana menjelang Pilkada Kota Bima 2018.  Di Medsos, masalah seputar Pilkada Kota Bima dan Pilgub NTB, sosok para bakal calon, prediksi dan analisis pribadi berseliweran. Bahkan, terakhir status pada dinding Facebook yang berisi dukungan terhadap figur tertentu disertai foto siswa memegang poster muncul. Tentu saja, upaya politisasi bocah Sekolah Dasar seperti itu tidaklah mendidik dan menyerempet aturan. Hiruk-pikuknya tidak hanya di Medsos, tetapi juga bisa ‘mengguncang dunia persilatan politik dan sosial di daratan riil’. Seperti harapan Lembaga Perlindungan Anak Kota Bima, semua pihak menahan diri dan tidak melibatkan anak dalam tindakan yang bisa ditafsirkan atau dipersepsikan oleh publik berhubungan dengan hal-hal politis.  Mampu memosisikan anak pada konteks usia belajarnya. Memilah sikap yang tepat dan tidak terjebak situasi, agar tidak menimbulkan kegaduhan di ruang publik.

Sesungguhnya harapan Wawali juga ekspektasi bersama. Dalam suasana politik praktis, kearifan ber-Medsos sangat diharapkan karena akan berkontribusi terhadap kesejukan suasana daerah. Dalam banyak kasus di dunia, Indonesia, dan Bima-Dompu, letupan-letupan status di Medsos atau dunia maya mampu memenggaruhi suasana psikologis publik hingga mengacaukan dunia rill. Menggiring kelompok masyarakat bereaksi dan tidak bisa diprediksi muatan emosi tanggapannya.

Kata kunci yang perlu diingat bersama adalah ber-Medsos ria jangan sampai memutus hubungan pribadi dan kerekatan sosial. Gunakan dan eksplorasi seluas-luasnya untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Hindari ujaran kebencian, sikap provokatif, dan persinggungan SARA. Dalam konteks Pilkada Kota Bima dan Pilgub NTB, dunia maya harus memroduksi hal-hal positif dan membangun. Semua itu ditentukan oleh proporsionalitas dan kedewasaan pemakainya.

Sekali lagi, mari bijak berjemari dan arif ber-Medsos. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top