Berita

Ingin Menjadi Arsitek, Kuliah Malah Teknik Kimia

Anang Zainy, ST.

Jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi. Seperti anak kecil yang belajar berjalan.  Seperti juga roda yang kadang di atas, kedang di bawah. Begitu kira-kira jalan hidup. Tetapi semua itu harusnya membuat setiap orang menjadi kuat, bisa berjalan, dan bahkan berlari. Begitulah Anang Zainy. Dia tidak putus asa karena situasi itu. Apalagi lingkungan belum berpihak padanya yang tidak sejalan dengan keinginan orang tua. Berikut bagian akhir dari dua Catatan Khas saya, Khairudin M. Ali.

ANANG kecil sebenarnya punya cita-cita sendiri. Dia sangat ingin menjadi seorang arsitek. Tetapi sayang, cita-cita remaja yang suka menggambar bahkan sering menang lomba ini, tidak sejalan dengan harapan kedua orang tuanya. Waktu kuliah, Anang pun sempat ingin pindah jurusan. Tetapi lagi-lagi dia harus tunduk pada kehendak kedua orang tuanya. Kuliah sempat setengah hati, walau akhirnya bisa selesai dalam jangka yang cukup panjang. Mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan, ternyata memberinya inspirasi. Ditambah lagi dengan suasana kota Jogjakarta yang banyak aktivitas bisnis, membuat Anang jatuh hati ingin menyerahkan masa depannya pada wira usaha.

Selama kuliah, ia bahkan sempat bekerja pada sebuah pabrik penyulingan minyak atsiri, bahan baku parfum. ‘’Belum digaji. Kami dapat uang dari hasil menjual minyak atsiri itu ke pabrik parfum. Saya juga kadang menjual pakaian bekas.  Ada pasar barang bekas di Jogjakarta, namanya Pasar Maling,’’ katanya sambil tertawa.

Mengisahkan duka dalam perjalanan hidup dan membangun usaha, dia sempat menyebut nama seorang sahabatnya yang ternyata telah meninggal pada 15 Agustus 2019 lalu. ‘’Saya punya sahabat, namanya Deddy Supriadi, kawan sejak SMP, SMA, bahkan sampai dia meninggal,’’ ujarnya.

Baca juga Bagian Pertama: Bersatunya Dua Mimpi di Gerobak Be-Tela

Saat bercerita tentang sahabatnya itu, Anang sempat terdiam. Lama, matanya berkaca. Tidak ada kata terucap dari bibirnya. Dia sempat menutup wajahnya dengan dua tangannya. Saya pun diam. Suasana sejenak hening, sebelum akhirnya dia bisa kembali mengendalikan emosinya. ‘’Kami berkawan lama, dalam suka dan duka. Bahkan kami disebut anak kembar. Wajah kami juga mirip. Dia juga banyak mewarnai perjalanan hidup saya selain istri saya,’’ tutur alumni SMA Negeri 1 Kota Bima tahun 1999 ini.

Di beranda Facebooknya, Anank dgk menulis buat sahabatnya itu.

Duka Anang ditumpahkan di akun Facebook atas kehilangan sahabatnya.

”Selamat jalan sahabat terbaikku…doaku buatmu…aku yg tau seperti apa dirimu, kemanapun kita sll bersama..bahkan dibilang kembar..bangun usaha pun bersama mulai dari nol…masih ingatkah bungkusan betela ini kubuat beberapa hari lalu,dan ingin kutunjukkan padamu setelah selesai cetak… ternyata tanda bahwa engkau akan mendahuluiku…hingga engkau benar2 mendahuluiku…kamu yg terbaik,…maafkan aku!!!Allah SWT lebih menyayangi mu…🙏😇”

Persahabatan keduanya, lebih dari saudara. Selalu bersama. Begitu dalam dan membekas. Masih mud usia, sahabatnya itu talh dipanggil menghadap Illahi. Tak dinyana. Tak ada firasat khusus. Tetapi begitulah cara Allah menyintai umatnya. Tidak selalu seperti rencana kita umatnya. Sahabat telah pergi untuk menghadap Sang Khalik. Kami berdua sempat membacakan Al-Fatihah buat almarhum. Doa terbaik buat sahabat terbaik. Segala kebaikan akan selalu menjadi kenangan indah.

Jatuh dan Bangun.

Untuk memulai usaha lagi setelah tutup di Gunung Dua, dialami oleh alumni SMP Negeri 2 Kota Bima ini, pernah sangat kesulitan modal dan juga semangat. Mental msempat jatuh. Dia mengaku pernah mengambil kredit bank untuk memulai lagi membuka Kantin Yuank. ‘’Saya sempat vakum setahun sebelum bukan lagi. Kesulitan modal dan ada masalah lain,’’ tambahnya.

Berbagai cara dilakukan untuk bisa bangkit setelah vakum sekitar setahun. Jualan pakaian di butik, cari modal, gadaikan motor. ”Kami kesulitan mulai lagi. Kami butuh dana untuk sewa tempat usaha. Tetapi dengan kegigihan, kami bisa keluar dan memulai lagi,” kisah Anang.

Tempaan berbagai masalah tidak membuatnya patah semangat. Bukan hanya masalah modal, rumah tangga pun sempat dihampiri prahara karena belum adanya kepastian usaha itu. ‘’Alhamdulillah saat ini kami bisa melewatinya. Kami pun memperoleh buah hati yang saat ini usianya setahun. Kehadiran Yuka (nama anaknya), telah melengkapi kebahagiaan kami,’’ jelasnya.

Anang saat ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak anak milenial Bima. Kisah jatuh bangun merintis usaha, diharapkan bisa menjadi ibrah bagi anak muda lain agar tidak cengeng dan cepat putus asa. Menjadi ketua TDA Bima, membuatnya juga punya kesibukan lain di luar bisnisnya. Di TDA ini Anang bersama banyak anak muda lain menebarkan virus entrepreneurship.

Pesta Wirausaha dihadiri Gubernur NTB dan sejumlah pimpinan daerah yang sukses itu, diharapkan bukan semata seremoni. Tetapi menjadi inspirasi dan motivasi bagi mereka yang mau mandiri. Di TDA, mereka berkumpul, berdiskusi, dan saling menguatkan antarsesama entrepreneur muda yang baru merintis usaha. Ada mentor juga di komunitas ini. Mulai penjua bakulan beromzet puluhan ribu, hingga pengusaha kakap dengan transaksi triliunan. Prinpsip Tangan di Atas adalah membimbing, mengangkat, menarik, menguatkan, agar bisa sama-sama maju dan besar. ‘’Tidak ada persaingan yang saling mematikan, yang ada adalah kompetisi saling menguatkan agar sama-sama tumbuh dan berkembang,’’ tutupnya.

Anang kini berani mengangkat wajah, bahkan di depan kedua orang tuanya. Dia sudah membuktikan bahwa keyakinannya adalah masa depan baginya. Dia mengikuti kata hati dan dia unggul mandiri. Orang tua juga akhirnya bangga atas capaian ini. Punya putra yang punya cara sikap dan cara pandang tak biasa dari kebanyakan anak muda Bima umumnya.

Terima kasih sudah membagi kisah, terima kasih sudah ramah, terima kasih untuk waktunya yang sangat berharga. Semangat berjuang anak muda, masa depan dalam genggaman kalian. Salam Khas!

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Share
  • 14
    Shares
To Top