Berita

Bersatunya Dua Mimpi di Gerobak Be-Tela

Anang Zainy bersama istri dan Yuka, buah hatinya. (ist)

 

KISAH hidup tidak hanya tentang hal indah dan bahagia. Cerita sedih pun kadang bagai sisi mata uang tidak bisa dipisahkan. Begitu pula dengan tamu saya kali ini. Matanya sempat berkaca, tak kuasa berkata-kata, saat kisah sedih diungkap. Dia mengenang seorang kawan yang telah mendahuluinya ke alam baka. Seorang kawan dalam suka dan duka. Bahkan dianggap sebagai kembarannya.

Tamu kita kali ini namanya Anang Zainy, ST. Dia jebolan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Dia mengambil jurusan Teknik Kimia yang hari ini sukses bukan dengan ilmunya itu. Bagaimana kisahnya, berikut Catatan Khas saya, Khairudin M. Ali.

Sore itu sebenarnya dia masih istirahat. Bahkan belum sempat mandi. Saat saya hubungi, dia minta waktu 15 menit untuk ‘berdandan’. Saya bilang, gak usah terlalu harum, karena saya pun belum mandi sejak pagi. Listrik padam mungkin karena ada perawatan rutin, sehingga saya terpaksa keluar hanya dengan kaos oblong supaya tidak terlalu gerah.

Pukul 15.18 Wita, saya sudah bersama ayah seorang putri ini. Suara adzan dari Masjid Raya Al-Muwahiddin, mulai dilantunkan. Saya minta pinjam charger, harena handphone saya lowbatt. Sudah di bawah sepuluh persen. ‘’Ayo om, kita shalat di masjid dahulu,’’ katanya mengajak saya.

Usai shalat, kami balik lagi ke sebuah usaha kuliner di pojok jalan dekat kantor cabang Bank Mandiri. Iya, di situlah usaha kuliner, ‘’Kantin Yuank’’ milik tamu kita ini. Dia juga saat ini adalah ketua Tangan di Atas (TDA) Bima, sebuah komunitas yang baru saja sukses menggelar Pesta Wirausaha pertama yang spektakuler.

Sarjana teknik kimia, apa hubungannya dengan usaha Anda saat ini? ‘’Kalau usaha kuliner mungkin tidak ada, tetapi dari aspek bisnis, kami dulu mendapatkan mata kuliah wirausaha,’’ katanya menjawab pertanyaan saya.

Tetapi, kata dia, bersama dua kawan kuliahnya punya bisnis lain juga. ‘’Kami punya perusahaan untuk menggarap pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu kami. Namanya PT Daha Gama Karya,’’ kata suami dari Yulis Suhandayani ini.

Untuk mencapai posisi saat ini, sukses dengan bisnis kuliner yang sangat populer di kalangan anak muda Bima, Anang mengaku telah melewati banyak sekali ujian. ‘’Tidak langsung sukses seperti sekarang. Saya melawatinya dengan banyak sekali cobaan. Bahkan saya sempat jatuh pada titik yang paling rendah,’’ kisah ayah dari Yuka Adeeva Yuank ini.

Hambatan paling besar datang dari lingkungan keluarga sendiri. Seperti kebanyakan anak muda Bima lainnya, sekolah tinggi tujuannya untuk menjadi Pengawai Negeri Sipil. ‘’Orang tua pasti tidak setuju ketika saya mulai bangun usaha. Mereka maunya saya menjadi PNS,’’ kisah putra pasangan dari H Masyrun H Ahmad dengan Hj Siti Maryam ini.

Kendati ada kendala seperti itu, rupanya jiwa usaha yang dibentuk oleh hanya satu mata kuliah di kampusnya, membuat dia tetap yakin pilihan masa depannya. ‘’Pokoknya saya harus bisa maju dengan menjadi pengusaha,’’ ujarnya.

Bagaiman kisahnya?

Berbekal sebuah personal computer (PC) bekas yang digunakan saat kuliah, Anang mulai membuka usaha. Dengan PC bekas itu, dia mulai dengan membuka jasa desain foto dan undangan. ‘’Awalnya saya pakai sebuah lapak membua studio foto. Jalan dan bisa dapat uang. Kami termasuk yang pertama bisa menulis acara di atas foto, saya gunakan program Photoshop. Bahkan saya punya tenaga kerja. Cuma saya berpikir lama-lama ini tidak bisa memberikan masa depan yang baik, apalagi hasil foto wisuda yang saya buat, kadang cepat luntur,’’ kisahnya.

Karena merasa tidak punya prospek, Anang kemudian banting setir. Pilihannya adalah membuat kripik singkong. Namanya Be-Tela. ‘’Saya memulainya dengan satu gerobak dan menjualnya sendiri. Saya membeli singkong sendiri kemudian dibersihkan, diolah dan digoreng menjadi keripik singkong,’’ kenangnya.

Gerobak Be-Tela yang akhirnya bangkrut. (ist)

Keripik Be-Tela bukan tidak punya konsumen. Be-Tela bahkan lumayan sukses. Sempat buka empat gerobak yang ditempatkan di sejumlah titik strategis di Kota Bima, Tetapi ternyata, Be-Tela bukan masa depan Anang. Masalah orang kepercayaan menjadi kendala yang membuat bisnis ini ambruk. Anang tidak mungkin menjual sendiri keripik singkongnya di lima gerobak yang berbeda.  ‘’Saya kan harus angkat karyawan untuk mengurus setiap gerobak itu. Tetapi rupanya sulit kita mendapatkan orang yang bisa dioercaya,’’ ujarnya.

Gerobak Be-Tela yang akhirnya bangkrut. Kisah Be-Tela boleh saja usai.  Tetapi kisah cinta juga tumbuh dari usaha ini. Seorang gadis pelanggan Be-Tela rupanya memiliki perhatian khusus pada sang bos yang belepotan keringat karena terpapar panas minyak goreng. ‘’Dia pelanggan setia. Dia suka dengan keripik yang saya jual. Selalu datang beli sendiri. Kami sering ngobrol dan ternyata kami memiliki mimpi yang sama. Kami kemudian menikah pada 2010 saat Be-Tela juga sudah gak bisa dijalankan lagi,’’ ujarnya.

Apa mimpi bersama pasangan pengantin baru ini?

‘’Kami punya mimpi besar untuk bangun usaha. Awalnya muncul ide untuk mulai buka rumah makan karena kebetulan sama-sama suka makan. Kebetulan juga ada tempat baru yang masih kosong di Gunung Dua yang ditawarkan oleh seorang kawan. Maka jadilah kita buka Yuank Cafe di situ,’’ jelasnya.

Yuank Cafe bagi kalangan anak muda Bima, itu sangat populer. Setelah berjalan selama empat tahun, mulai ada kendala-kendala.  Sebelum buka di tempat baru di Jalan Kartini sekarang pada 2014, Anang mengalami banyak cobaan juga.  ‘’Konsepnya kita ubah. Namanya tetap Yuank, tetapi bukan cafe, tetapi menjadi kantin. Sebutan kantin menjadi pilihan supaya lebih akrab dan untuk semua kalangan,’’ katanya. (bersambung/KMA)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6
Share
  • 144
    Shares
To Top