Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Makembo: Rawa Kore Menuju Kepunahan

Dua pelantun Rawa Kore yang masih tersisa dan sudah sepuh. Mereka adalah warga Desa Taloko, Hasyim Zakariah dan Siti Fatimah Zakariah.

Dua pelantun Rawa Kore yang masih tersisa dan sudah sepuh. Mereka adalah warga Desa Taloko, Hasyim Zakariah dan Siti Fatimah Zakariah.

Bima, Bimakini.- Majelis Kebudayaan Mbojo (Makembo) menguatirkan lagu-lagu khas Kore Kecamatan Sanggar di ambang kepunahan. Bekas kerajaan di sisi Utara Pulau Sumbawa itu, atau  dikenal dengan Kore, memiliki warisan seni budaya dan tradisi yang hingga kini masih bertahan. Satu di antaranya adalah Senandung Kore atau Rawa Kore.

Makembo  bersama Mecidana dan Birokrat Jalan-Jalan telah berhasil mendokumentasikan 11 Senandung Kore sebagai upaya pelestarian seni sastra tradisi yang hidup di wilayah setempat. Ke-11 senandung itu adalah Tija Lante, Rangko, Manu Taloko, Inje atau Raho Ura, Rawa Waro, Ee.. Aule, O Bimbolo, Arugele Me’e Mali, Arugele Sarau Madese, Lopi Penge, dan Janga Ile.

“Sebelas senandug itu didominasi oleh campuran bahasa Mbojo dan Kore,” ujar Ketua Makembo, Alan Malingi, dalam pernyataan pers, Rabu (23/11).

Diakuinya, Tim Makembo  kesulitan dalam proses penerjemahan, karena pelantunnya kadang tidak mengetahui lagi arti dari senandung yang dilantunkannya. Membutuhkan waktu lama untuk proses penerjemahan karya sastra klasik ini. Ke-11 Senandung Kore ini memiliki latarbelakang sejarah yang lama tentang keberadaan kerajaan Sanggar dan hubungannya dengan kerajaan kerajaan tetangganya seperti Tambora, Dompu, dan Bima.

Diceritakannya, Manu Taloko misalnya, mengisahkan tentang perebutan perbatasan antara Kerajaan Dompu dan Sanggar. Seni sastra ini akan sangat penting keberadaannya dalam mengungkap sejarah sanggar karena keberadaan kerajaan ini belum banyak terkuak.

Dibeberkannya, pelantun Rawa Kore hanya tersisa dua orang yang sudah sepuh. Mereka adalah warga Desa Taloko kecamatan Sanggar masing-masing Hasyim Zakariah dan Siti Fatimah Zakariah. “Untuk itulah Makembo akan memberikan CD rekaman ini kepada elemen masyarakat Sanggar dalam rangka proses regenerasi dan revitalisasi seni sastra klasik Sanggar ini,”: katanya.

Disamping mendokumentasikan 11 senandung tersebut,  Makembo, Mecidana, dan Birokrat Jalan-Jalan mendokumentasikan dua  tarian klasik Sanggar, yaitu Ngona-Ngona Sama atau Sampola Winen dan Tari Toja Ro Dewa. Ngona-Ngona Sama berarti bermain bersama. Suatu persembahan tari klasik yang dimainkan oleh remaja putri sebagai ungkapan kegembiraan terhadap hasil panen yang melimpah.  Toja ro Dewa adalah tarian persembahan untuk Raja dan Roh Halus. Tetapi saat ini tarian klasik Sanggar dipersembahkan sebagai hiburan biasa.

Dijelaskannya,  Makembo rutin melaksanakan kegiatan open trip, kemah budaya, dan mendokumentasikan sejumlah kesenian tradisional Mbojo. Dalam dua tahun terakhir, Makembo telah mendokumentasikan seni tari klasik Istana Bima, Senandung Sambori, Wawo, Donggo dan Soromandi serta sejumlah kesenian di Kota dan Kabupaten Bima.

“Kiprah Makembo tidak hanya di kabupaten Bima, tetapi juga di kota Bima, termasuk upaya revitalisasi 11 Ntoko atau Genre Rawa Mbojo,” demikian Alan. (BK22)

 

Iklan. Geser untuk terus membaca.

 

Share
Komentar

Berita Terkait

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.- Tim Kemenkum HAM Wilayah Provinsi NTB menginventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) di Bima, Rabu (02/03/2017). Saat itu, sejumlah usulan Makembo kepada...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.-  Majelis Kebudayaan Mbojo  (Makembo) saat ini sedang mendata mendokumentasi  berbagai karya budaya Bima. Hingga kini, Makembo telah banyak mendata kesenian, situs,...