Dari Redaksi

‘Membumikan’ Aksara Mbojo

Dok IST: Aksara Mbojo yang kini mulai dikenalkan secara luas.

DULU peradaban Bima telah mencapai level tertentu pada zamannya.  Ada bukti sejumlah bangunan fisik yang hingga kini masih kokoh. Ada sejumlah cacatan yang masih tersimpan rapi. Kabarnya, di Belanda masih ada yang disimpan. Demikian juga negara lain. Terakhir yang kini  ramai dibicarakan adalah Aksara Mbojo.

Memelajari kembali jejak budaya dan sejarah Mbojo, tidaklah berarti kembali pada khayalan masa lalu. Namun, merupakan sumber motivasi dan inspirasi bagi generasi masa kini agar menapaki perjalanan yang selalu melirik kearifan lokal.  Kita seharusnya bersyukur karena ada bukti fisik masa lampau yang bisa dinapaktilasi. Tinggal bagaimana merawat dan mengaktualisasikannya sesuai fungsinya.

Sebenarnya, Aksara Mbojo secara terbuka sudah terpajang di tembok Museum Istana Bima. Para pengunjung jelas bisa melihatnya. Namun,  tidak banyak yang tergoda meliriknya. Pemerintah Daerah pun bisa dianggap gagap tanggap.  Tidak sigap  mengekspresikannya dalam bentuk buku dan realisasi praktis, seperti pada nama jalan atau situs lain sebagainya. Padahal,  keberadaan Aksara Mbojo  itu mengisyaratkan peradaban suatu daerah yang maju pada masanya.

Nah, kini kaum muda mulai mengenalkan lagi Aksara Mbojo dan  masuk ke situs Ensiklopedi Aksara Dunia. Kita berharap upaya ini mendapat sambutan luas agar kekayaan budaya Bima semakin ‘membumi’ pada masyarakatnya sendiri dan dunia luar. Memang anak-anak Mbojo selayaknya dikenalkan aksara daerahnya sendiri agar memahami bagaimana seluk-beluknya. Apalagi, sudah ada situs yang mengakomodirnya. Jangan sampai aksara itu malah dikuasai oleh masyarakat  atau pecinta budaya di luar daerah.  Di Yogyakarta dan Solo, sebagai contoh, aksara setempat dipajang bersamaan dengan nama jalan atau tempat-tempat situs yang bersejarah. Soal aksaran ini, peran Ina Kau Mari (almarhumah) dalam memotivasi kaum muda patut diapresiasi.

Apa yang bisa dilakukan? Setidaknya mulai saat ini, kita mengadaptasi nama sendiri dalam Aksara Mbojo. Memang hurufnya masih asing, terlihat seperti ‘cakar ayam’.  Namun, kekayaan budaya yang tidak cepat dikenalkan akan menyebabkan generasi bisa kehilangan momentum dalam penyikapannya.

Saat ini, kesadaran mengenal budaya sendiri harus digenjot. Tujuannya agar berseiringan dengan derap langkah dinamika pembangunan modern dan geliat perkembangan tekonologi informasi. Membiarkan generasi kini tanpa asupan kekayaan budaya, akan menyebabkan mereka ‘gagap berdiri di tengah kandangnya sendiri’.  Jika ada rencana ‘membumikan’ lagi Aksara Mbojo dan mengenalkan kepada pelajar dan umum, maka harus didukung bersama. Kepedulian kita hari ini akan sangat berarti bagi perjalanan dan warna kebudayaan daerah ke depan.

Aksara Mbojo jelas mengonfirmasi pada dunia hari ini bahwa ada kekayaan masa lalu yang tidak semua daerah memilikinya. Tugas besar generasi hari ini adalah menjaga dan melestarikannya agar tidak hanyut oleh laju perjalanan waktu. Mari ‘membumikan’ Aksara Mbojo! (*)

 

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 218
    Shares
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top